
"Apa, jadi mas Rehan datang ke sekolah Arka lalu menjelaskan bahwa dia adalah ayahnya?" Dinda seketika terkejut ketika mendengar penjelasan dari bu Isna.
Saat itu bu Isna dan Dinda sedang berbicara berdua, bu Isna memang menginginkan itu, ia tidak ingin jika Arka dan Pandu mendengar pembicaraan tersebut, sebab itu lah bu Isna mengajak Dinda mengobrol berdua saja. Sementara Arka pergi bersama Pandu.
"Benar Bu, saya sendiri bingung, saya pikir kalau pak Pandu lah ayah kandung dari Arka," ucap bu Isna berpikir demikian.
"Sebenarnya mas Pandu memang bukan ayah dari Arka Bu, saya juga belum menikah dengan mas Pandu. Tapi saya juga memang tidak mengenalkan Arka dengan mas Rehan, karena kami sudah berpisah lama, saya sengaja tidak memperkenalkan Arka dengannya karena dia sendiri lah yang tidak mengharapkan kehadiran Arka saat itu, bahkan dia selingkuh dan menikah dengan wanita lain saat Arka masih dalam gendongan saya, sebab itu lah saya memilih berpisah dan tidak lagi berkomunikasi apapun lagi dengannya," sahut Dinda yang akhirnya membuka tabir rahasia yang sebenarnya tidak pernah ia harapkan lagi untuk mengingat nya kembali.
"Ya ampun, maafkan saya Bu, saya tidak tahu jika ceritanya akan seperti ini, untung saja saya tidak mendengar cerita sepihak saja, pak Rehan justru menjelaskan bahwa ibunya Arka yang tidak mengizinkan nya menemui Arka, sampai Arka berusia seperti saat ini," seru bu Isna yang mendapatkan dua cerita yang berbeda.
"Saya tidak merekayasa semua cerita Bu, terserah Ibu kalau Ibu mau percaya kepada saya atau pada mas Rehan, tapi kali ini saya tidak akan diam saja atas fitnah yang dilontarkan mas Rehan untuk saya, saya lebih tidak terima lagi jika otak anak saya di kotori oleh ucapan bohongnya!" tegas Dinda menatap bu Isna.
Saat itu bu Isna menemukan kekecewaan yang begitu dalam di mata Dinda, ia percaya bahwa Ibu satu anak itu sedang merasa begitu kecewa.
Setelah mengobrol panjang lebar, akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang masing-masing, Dinda memutuskan untuk segera menemui Rehan di rumahnya, tanpa di ketahui oleh Arka maupun Pandu yang sudah menunggu di rumah.
Tibanya di kediaman Rehan, Dinda dengan percaya diri melangkah mengetuk pintu, saat itu Intan yang mendengar suara ketukan pintu langsung bergegas membukanya, ia terkejut karena yang datang adalah Dinda, wanita yang pernah ia remehkan dulu.
__ADS_1
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Intan dengan menyilang kan kedua tangan.
"Saya ke sini mau bertemu dengan suami kamu, dan tolong segera panggilkan dia untuk menemui saya di sini," titah Dinda dengan tatapan tajamnya.
"Ada urusan apa kamu dengan suami ku Dinda?" tanya Intan yang terlihat tidak suka saat Dinda mencari suaminya.
"Bukan urusanmu, ini urusan saya dengan suami kamu, kalau kamu tidak mau memanggil suami kamu, saya sendiri yang akan masuk untuk memanggil dia." tegas Dinda yang saat itu memang tidak ada urusan dengan Intan.
Saat Dinda hendak melangkah kan kakinya masuk, Intan dengan cepat menghalangi langkah Dinda, dan saat itu Intan meminta Dinda tetap berdiri di tempat, ia sendiri lah yang akan memanggil Rehan untuk menemui Dinda. Dinda pun menunggu sampai akhirnya beberapa saat kemudian Rehan datang menemuinya.
Rehan merasa sedikit bingung dan penuh tanya, saat menyadari kedatangan Dinda yang tiba-tiba. Saat menatap wajah Rehan, Dinda pun dengan tegap berdiri di hadapannya.
"Aku datang ke sini untuk memberikan kami peringatan pertama dan terakhir, jangan pengaruhi otak anakku dengan kehadiran kamu Mas, dan jangan coba-coba membuat berita palsu agar putraku percaya dengan semua ucapan kamu itu, kamu ingat Mas! Yang awalnya meninggalkan aku dan Arka itu adalah dirimu sendiri, jadi sekarang, jangan pengaruhi dia dengan kehadiran dan berita palsu mu itu!" tegas Dinda menatap Rehan saat itu.
"Apa si maksud kamu Dinda, aku nggak ngerti," Rehan seolah memalingkan pandangannya pada Dinda.
"Jangan pura-pura bodoh Mas! Aku tahu kamu datang menemui Arka kan tadi di sekolahan? Kamu memberikan cerita-cerita palsu seolah akulah yang telah melarang kamu bertemu dengan Arka? Jadi, aku peringatkan kamu untuk tidak melakukan itu lagi, atau aku akan melakukan sesuatu yang tidak pernah kamu pikirkan sebelumnya." jelas Dinda penuh ancaman.
__ADS_1
Mendengar hal itu tentu saja membuat Intan kesal dan marah, ia tidak menyangka jika ternyata Rehan sedang mendekati Arka di belakangnya, tatapan mata Intan mengarah pada Rehan.
"Mas, apa benar kamu ketemu sama Arka?" tanya Intan menatap tajam ke arah Rehan.
"I-iya Intan, aku menemui Arka. Kenapa? Apa kamu juga mau menghakimi aku, ha!" marah Rahan yang justru bernada tinggi.
"Jelas Mas, jelas aku akan menghakimi kamu. Mas, sejak kapan kamu perduli sama anak itu? Sejak kapan kamu ada rasa ingin tahu tentang dia sampai kamu harus menemui dia di belakang ibunya, aku nggak terima ya Mas, kamu melakukan hal ini di belakang aku," maki Intan yang tak kalah tinggi nada bicaranya.
"Ini semua salah kamu Intan. Selama kita menikah, kamu selalu menolak saat aku membicarakan soal anak, jadi sekarang apa ini salahku jika aku mencari anakku, meskipun itu anak dari hasil hubunganku dengan Dinda." jelas Rehan yang membalas bentakan Intan.
Intan dan Rehan justru adu mulut di depan Dinda, mereka saling menyalahkan satu sama lain hingga membuat Dinda merasa sangat geram. Ia merasa tidak dihargai karena sikap mereka yang begitu ke kanak-kanakan, Dinda berteriak meminta mereka untuk berhenti berdebat, dan mereka pun bungkam seketika.
"Cukup ya, berhenti bersikap seperti anak kecil seperti ini, yang seharusnya marah itu saya, bukan kalian berdua. Kalau kalian ingin saling menyalahkan satu sama lain, tunggu saat saya tidak ada lagi di hadapan kalian. Saya datang ke sini untuk memperingatkan kamu mas Rehan, untuk jangan pernah lagi kamu datang ke sekolah Arka dan mempengaruhi dia, karena apa yang kamu ceritakan itu hanya akan membuat nama mu terlihat baik saja, padahal sebenarnya kamu lah yang telah membuat aku dan Arka pergi, jadi tolong, jangan pernah lagi kamu ganggu aku juga Arka, paham kamu!"
Dinda dengan tegas menatap Rehan dan juga Intan, dengan tatapan penuh peringatan itu membuat Rehan tidak bisa berkata apapun atau menjawab sepatah katapun, Dinda lalu melenggang pergi meninggalkan kediaman Rehan dan membiarkan Rehan bersama Intan untuk melanjutkan kembali perdebatan mereka.
"Kamu dengar itu Mas, kami dengar kan! Jangan pernah kamu ulangi lagi Mas, jangan pernah kamu temui lagi Arka atau aku akan marah besar sama kamu," ucap Intan menatap Rehan penuh ancaman.
__ADS_1
"Kalau memang kamu nggak mengizinkan aku untuk menemui Arka, harusnya kamu mau memberikan aku seorang anak Intan, bukan malah melarang tapi kamu sendiri tidak memberikan aku momongan," serah Rehan yang merasa mulai kesepian saat itu.
"Apa yang bisa kamu kasih buat anak kita nanti Mas? Usaha kamu aja lagi di ambang ke bangkrutan, apa kamu bisa jamin kalau kehidupan kamu nantinya akan jauh lebih baik setelah punya anak, ha? Aku nggak mau punya anak kalau nasib usahamu itu masih seperti ini, aku nggak mau hidup miskin bersama anak yang kamu inginkan itu!" tolak Intan dengan tegas.