Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.12


__ADS_3

Perjalanannya tidak lama sebenarnya. Jarak gedung kantor Bagas dan tempat makan yang di tuju Bagas itu dekat, mungkin hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam saja. Berrhubung kota Jakarta itu super padat dan macet, waktu setengah jam pun bisa menjadi dua jam.


Keduanya mulai bosan. Kinan hanya terdiam tetap menatap ke arah depan atau samping jendela kirinya. Kinanti cukup takjub dan kagum Ia tidak percaya, jika sudah berhasil menggapai mimpinya untuk bisa bekerja di Kota Besar penuh harapan dan impian itu. Kinanti hanya bercita - cita bisa bekerja di sebuah perusahaan yang bonafit dengan gaji besar dan memiliki jenjang karir yang bagus. Dan semua itu terwujud. Bahkan sangat mudah sekali perjalanannya tanpa ada hambatan sedikit pun.


Kluruk ... Kluruk ...


Suara perut Bagas sudah berbunyi. Suaranya tidak keras tapi dalam keadaan hening suara perut itu cukup terdengar dan sedikit mengganggu. Bagas merasa malu dan berpura - pura memutar musik agar tidak terlihat rasa mlunya itu di hadapan Kinan.


Kinan tak berani menoleh ke arah Bagas. Tapi di dalam hatinya ia tertawa sangat keras. Rasanya sangat berdosa menertawakan Bosnya sendiri dnegan ngakak seeprti ini.


Menunggu kemacetan dan memutar mutar gelombang radio dan tidak ada yang bagus. Akhirnya radio itu di matikan.


"Dari tadi main ponsel terus. Chat sama pacarnya ya?" tanya Bagas pelan mencairkan suasana hening dan mulai bosan itu.


Kinan menoleh ke arah Bagas dan tersenyum kecut.


"Gak Pak. Kinan belum punya pacar. Lagi pula Kinan mau berkakrir dulu," jawab Kinan pelan.


"Belum punya? Atau terlalu pemilih?" tanya Bagas kemudian. Lama - lama Bagas pun jadi ingin tahu tentang Kinan, sekertaris barunya itu.


"Mana ada yang mau dengan Kinan. Kinan ndak cantik," jawab Kinan pelan.


Tatapan Kinan tetap lurus ke depan tanpa melihat ke arah Pak Bagas.


Bagas pun menatap Kinan dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Kinan cantik, luwe,s menarik, cukup mempesona. Mungkin gayanya saja yang berbeda dan membedakan karena ia gadis dari luar kota dan bukan dari kota Jakarta. Jadi, cara berpakaiannnya pun tampak biasa dan ala kadarnya yang penting rapi dan bersih.


"Kamu cantik. Mungkin perlu di poles sedikit. Lagi pula kamu itu sekertaris. Coba cari - cari di sosial media, bagaimana berdandan dan bergaya menjadi seorang sekertaris. Mungkin kamu bisa mencoba itu biar dpat seorang pacar?" ucap Bagas pelan memberikan saran.

__ADS_1


Kinan hanya menghembuskan napas dnegan kasar. Ucapan Bagas seolah Kinan ini sama sekali tidak laku dan bahkan seperti perawan tua. Padah usianya baru menginjak dua pulu dua tahun.


"Kinan lebih suka menjadi diri Kinan sendiri, tanpa menjadi seperti orang lain. Karena itu akan menjatuhkan pikiran seseorang tentang kita. Bukankah cantik itu tidak hanya di lihat dari fisik saja, tapi isi hatinya," ucap Kinan tegas.


Kinan paling tidak suka di ceramahi atau di nasehati. Apalagi berhubungan dengan gaya dan dandanan.


"Saya hanya kasih masukan saja. Kalau kamu tidak mau ya, tidak apa - apa," ucap Bagas yang merasa bersalah.


Tepat pukul sembilan malam, Bagas dan Kinan sudah berada di dalam restauran favorit Bagas. Kinan membuka buku menu makanan dan membaca satu per satu maknaan yang ingin di pesannya. Perutnya sudah lapar sejak tadi. Tadi siang ia hanyaminum segelas susu sereal saja, tanpa makan nasi, karena Kinan tid tahu harus membeli dimana.


"Kamu pesan apa Kinan?" tanya Bags lembut.


Kinan adalah partner kerjanya yang akan terus menemaninya dalam waktu lama, setidaknya Bagas dan Kinan harus memiliki chemistry tersendiri untuk bisa menyamakan pendapat dalam hal urusan pekerjaan. Bagas harus mulai mengenali Kinan luar dan dalam, jadi mengetahui potensi yang di miliki sekertarisnya ini.


"Kinan pilih nasi goreng udang saja. Gak pedes ya Mas," titah Kinan pelan.


"Minumnya Mbak?" tanya pelayan itu kemudian.


"Kamu hanya pesan itu? Tidak mau pesan minuman lain? Seperti teh tarik atau mangga float atau makanan penutup lain? Puding atau es krim?" tanya Bagas dari samping buku menunya.


Kinan hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak Pak. Ini saja sudah cukup untuk Kinan," jawab Kinan mantap dan menutup buku menu itu.


"Oke. Saya pesan kepiting, cumi goreng, udang saus padang dan fillet ikan gurame. Minumnya, lemontea dan teh tarik pake es," ucap Bagas pelan.


Kinan hanya menelan salivanya mendengar pesanan Bagas yang begitu sangat banyak sekali. Kedua matanyasempat membuka lebar namun menunduk kembali. Toh, itu bukna urusannya. Tapi malam begini makan makanan sebanyak itu dengan kalori tinggi maka bisa membuat tubuh menjadi tidak sehat.

__ADS_1


"Kenapa? Kaget? Makan saya memang banyak. Jadi kamu tidak perlu kaget seperti itu," ucap Bagas pelan.


Kinan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Itu bukan urusan Kinan, Pak. Tapi, setahu saya, Bapak itu sedang mengurangi makanan sejenis ini?" tanya Kinan pelan. Ia teringat catatan yang di tulis Festi untuk di pelajari oleh Kinan.


Bagas pun menatap lekat kepada da bola mata indah Kinan yang juga menatapnya.


"Terus?" tanya Bagas menyelidik.


"Lagi pula ini sudah malam Pak. Coba pilih salah satu makanan saja, ini bisa berpengaruh pada kesehatan Bapak. Bisa - bisa istri Bapak pusing tujuh keliling kalau Bapak sakit," ucap Kinan sedikit terkekeh.


"Saya belum menikah Kinan," jawab Bagas dengan wajah sendu.


Kinan menutup mulutnya dan menatap lekat ke arah Bagas yang terlihat sendu dan sedih.


"Bapak belum menikah? Kinan pikir sudah menikah, secara ...." ucapan Kinaseidkit etrhenti dan tak di lanjutkan Kinan takut kata - katany amalah menyinggung perasaan Bagas.


"Secara apa? Umur saya sudah kepala tiga?" tanya Bagas pelan.


Kinan mengangguk pasrah. Apa yang di ucapkan Bagas adalah sesuatu yang benar dan tepat.


"Iya Pak," jawab Kinan pelan.


"Saya itu baru akan melamar gadis impian saya sejak kecil. Eh ... Saya malah curhat. Gak apa - apa kan saya curhat sama kamu? Tapi inget jangan kasih tahu dengan karyawan lain. Ini rahasisa kita berdua," titah Bagas dengan tegas.


Kinan mengangguk mantap. Urusan rahasia, Kinan bisa amanah.


"Tenang Pak. Masalah curhat dan rahasia, aman kalau sama Kinan," jawab Kinan dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Oke. Jadi, kemarin saya mau melamar gadis yang telah saya cintai bertahun - tahun. Kebetulan saya baru menyelesaikan studi saya dan kontrak bekerja di London. Pas kembali, saya langsung di pasrahi perusahaan ini oleh Papah, dan di waktu yang sama investor asing datang mendadak dan saya tidak bisa hadir di acara lamaran itu ...." ucap Bagas menceritakan penyesalannya. Seharusnya ia lebih memilih hidupnya dengan Ajeng. Dan tetap pergi ke Yogyakarta sore itu dan masa bodoh dengan investor asing itu, mungkin bisa mnegerti. Kalau sudah seperti ini, harapannya pupus untuk bisa menikahi Ajeng, cinta pertamanya itu.


"Lalu? Lamarannya batal dong Pak?" tanya Kinan dengan polos.


__ADS_2