Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.34


__ADS_3

"Maaf Pak, Kinan tidak bisa. lagi pula Bapak tidak kenal Kinan. Bukan itu juga alasannya. Kinan tidak mau merusak hubungan kerja nantinya. Kinan ingin bekerja dengan baik," ucap Kinan pelan tapi terdengar pasti.


"Kenapa? Karena kita baru kenal? Baru dua hari? Memang kita tidak bisa mengenal setelah ini?" tanya Bagas dengan cepat.


Kinan menggelengkan kepalanya cepat.


"Bukan itu Pak. Kinan tidak bisa, maaf," ucap Kinan pelan.


"Kenapa? Karena Dika? Kamu menyukainya?" tanya Bagas yang mulai merasa cemburu dengan kehadiran Dika yang tiba - tiba memberikan perhatian kepada Kinan.


"Bukan. Bukan karena Dika juga. Kinan dan Dika tidak ada apa - apa," ucap Kinan yang langsung menyanggah.


"Lalu? Kamu tidak percaya padaku, Kinan? Aku bukan lelaki modus yang pandai mengungkap kata cinta pada wanita," ucap Bagas pelan.


"Maaf Pak. Kinan tidak bisa," ucap Kinan pelan.


"Kenapa? AKu ingin tahu alasannya?" tanya Bagas yang terus mendesak Kinan.


"Ya tidak bisa saja. Kinna mau fokus kerja, fokus berkarir dan lagi gak mau punya hubungan dengan siapa pun," ucap Kinan dengan mantap.


"Bukan karena kamu sudah punya pacar atau tunangan? Atau apa gitu?" tanya Bagas yang terus menyelidiki Kinan.


Kinan menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Kinan masih sendiri. Memang sih, sebelum ke Jakarta, Kinan mau di jodohkan, tapi calon tunangan Kinan tidak datang, dan Bapak marah besar," ucap Kinan mengingat ucapan Mas Dimas, Kakak Kandungnya selama perjalanan menuju ke stasiun.


Kinan yang tadinya tidak tahu akan di jodohkan pun, akhirnya pun tahu dari Dimas.


"Kamu di jodohkan?" tanya Bagas yang berpura - pura penasaran.


Kinan mengangguk kecil.


"Kalau Kinan tahu akan di jodohkan juga, pasti Kinan menolak. Kinan kira waktu itu acara pertunangan Mas Dimas, Kakak Kinan, eh ternyata malah acara Kinan sendiri," ucap Kinan yang terlihat kecewa.


"Kenapa kamu menolak untuk di jodohkan?" tanya Bagas ingin tahu.


"Ya, Karena Kinan baru lulus kuliah dan Kinan masih ingin kerja, menggapai cita - cita. Terus, Kinan masih ingin kerja, fokus berkarir juga. Gitulah," ucap Kinan pelan menjelaskan.


"Oh Gitu. Lalu, kamu tahu, siapa yang akan di jodohkan denganmu?" tanya Bagas pelan. Bagas hanya ingin tahu, apakah Kinana mengingat dirinya.


Kinan menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Kinan tidak tahu," ucap Kinan pelan.


"Masa iya, Bapak dan Ibu kamu tidak bilang? Dengan siapa kamu akan di jodohkan?" tanya Bagas pelan.


"Memang tidak. Lagi pula, Kinan benar - benar tidak tahu dengan acara itu. Bahkan Bapak tidak tahu, kalau Kinan berada di Jakarta. Saat itu Kinan kabur," ucap Kinan jujur.


"Kamu kabur? Kenapa?" tanya Bagas dengan tatapan penasaran.


"Kenapa melihat Kinan seperti melihat maling saja?" tanya Kinan pelan.


"Aneh saja? Kenapa harus kabur?" ucap Bagas dengan asal.


"Karena Kinan tidak boleh ke Jakarta. Padahal kerja di sini itu atas rekomendasi rektor. Tapi, Bapak bilang di Jakarta itu tidak baik untuk anak gadis. Banyak penipu, banyak buaya darat juga," ucap Kinan mengikuti gaya bicara Bapaknya dengan nada suara medok asli jawa.


"Kok Bapak bisa berpikir beitu?" tanya Bagas pelan.


"Gak tahu juga. Mungkin karena Jkarta kota besar, kota metropolitan. Kota yang banyak banget orang berurbanisasi. Banyak karakter orang yang gak kita ketahui. Bapak sih lebih was - was aja sama Kinan karen Kinan anak perempuan satu - satunya," ucp Kinan pelan.


"Oh gitu. Tapi, ada benarnya sih. Biar kamu gak di goda dan tetap aman dengan kelurgamu. Dengan begitu kamu tetap terjaga, Kinan. Biar saya tidak was - was dengan siapa kamu berteman," ucap Bagas jujur.


"Hah? Apa? Apa maksud Bapakbicara begitu?" tanya Kinan bingung.


"Jodoh?" ucap Kinan sambil tertawa lebar.


Direturnya ini makin lama makin ketawan jika memiliki selera humor yang tinggi. walaupun sedikit recehan kalau guyonannya sedikit kacau.


Bagas mengangguk pelna.


"Iya jodoh saya. Memng kamu tidak mau? Punya suami se -keren saya? se -tampan saya? se -baik saya?" tanya Bagas dengan percaya diri.


Sama sekali gak mau," ucap Kinan dengan suara lantang.


"Kenapa? Semua orang bhakn berlomba ingin mendapatkan saya?" ucap Bagasdengan sedikit bangga dan sombong.


"Karena Bapak bukan tipe Kinan. Bapak terlalu sombong dan terlalu percaya diri," ucap Kinan dengan santai sambil menikmati keripik singkong yang di belinya tadi.


Entah kenapa bibirnya masih ingin mengunyah makanan padahal perutnya sudah kenyang.


"Saya tidak sombong, dan saya bukan playboy," ucap Bagas tak terima dengan pernyataan Kinan barusan.


"Kinan gak bilang Bapak itu playboy lho? Kinan hanya bilang Bapak itu sedikit sombong dan terlalu percaya diri," ucap Kinan lebih memantapkan ucapannya.

__ADS_1


"Karena saya memang tampan, keren dan baik. Semua orang bilang begitu tentang saya," ucap Bagas tegas.


"Kecuali Kinan. Kinan merasa Bapak itu angkuh dan dingin. Bapak begitu cuek dengan keadaan," ucap Kinan dnegan tenang.


"Baru kali ini saya di bilang dingin, cuek dan sombong," ucap Bagas sedikit tak terima.


"Lha ... memang fakta. Itu semua nyata dan kenyataan," ucap Kinan dnegan santainya.


"Oke. Saya akan berubah demi kamu. saya akan lebih ramah dan lebih baik lagi," ucap Bagas memilih mengalah dan merubah sikapnya yang tak di sukai Kinan.


"Kok berubah? Ya jadi diri sendiri saja, dong Pak?" ucap Kinan pelan. Kinan paling tidak suka seseorang berubah karena dirinya. Ini hanya penilaian saja, bukan harus merubah sikap.


"Demi kamu, Kinan. Saya rela berubah demi kamu," ucap Bagas pelan.


"Jangan Pak. Lebih baik apa adanya, jangan berubah karena seseorang apalagi karena Kinan?" ucap Kinan pelan.


"Saya suka dnegan kamu, Kinan. Saya serius," ucap Bagas tegas.


"Pak, besok ada rapat?" tanya Kinan tiba - tiba. Kinan tidak mau membahas hal seperti ini, hal yang di luar pekerjaannya. Apalagiu hubungannya dengan perasaan, karena Kinan hanya kagum dan tidak memiliki rasa suka.


"Saya sedang bicara dengan kamu, Kinan. Tidak usah bawa - bawa pekerjaan kalau kita sedang berada di luar kantor. Saya tidak suka," ucap Bagas tegas.


Kinan menatap tajam ke arah Bagas dan diam.


"Kenapa diam?" tanya Bagas kemudian setelah beberapa detik mereka hening saling diam tak bicara.


"Bapak itu aneh. Kinan kasih masukan salah, diam salah, Bapak maunya Kinan bagaimana?" tanya Kinan.


"Saya ingin kamu menerima saya, Kinan. Saya sudah jatuh cinta dengan kamu sejak pertama kali bertemu," ucap Bagas lantang.


Kinan diam dan menunduk. Lagi - lagi, Kinan tak bisa menjawab pertanyaan Bagas yang menurutnya terlalu cepat itu.


"Tolong jangan bahas itu Pak. Kita bahas hal lain saja," ucap Kinan pelan.


"Saya ingin mendengar jawaban kamu, Kinan?" tanya Bagas lagi dengan mendesak.


"Kinan tidak bisa Pak," ucap Kinan pelan.


"Saya kasih waktu. Dua hari lagi, saya akan minta jawaban kamu," ucap Bagas pelan.


Bagas pun berdiri dan mengambil jas yang tadi dletakkan di sofa dan memakainya

__ADS_1


__ADS_2