
Bolu pisang dan teh manis panas memang sudah menjadi makanan dan minuman kesukaan Kinan.
Dika masih setia duduk di tepi ranjang dan meyuapi Kinan dengan sangat telaten. 'Begini mungkin rasanya jika memiliki istri, begitu pun sebaliknya. Jika aku yang sakit, bisa saja Kinan akan memperlakukan aku dengan hal yang sama,' batin Dika di dalam htainya. Semburat senyum jelas terlihat di wajah Dika yang membuat Kinan mengernyitkan dahinya bingung.
"Dika ... Kenapa senyum - senyum?" tanya Kinan pelan. Mulutnya masih penuh bolu pisang berukuran besar.
"Gak senyum - senyum. Biasa saja," ucap Dika langsung bersikap serius. Untuk kesekina kalinya Kinan selalu mendapatkan moment dimana Dika melamun dan memikirkan gadis cantik yang ada di depannya itu.
"Pulangnya besok pagi saja ya? Besok pagi - pagi, aku antar ke Jakarta. Malam ini, kamu istirahat dulu saja di villa ini sampai kamu benar - benar pulih. Aku gak tega kalau mengantarkan kamu, terus kamu, aku tinggal pulang ke Bandung lagi," ucap Dika sendu.
"Tapi ... Kalau Bapak dan Ibu tahu, tentu aku di marahi. Bisa - bisa ...." ucapan Kinan terhenti sejenak. Bapaknya pernah bilang. Laki - laki dan perempuan yang bukan mukhrimnya itu tidak boleh tinggal satu atap, bisa - bisa hamil.
"Apa? Tapi apa? Bisa apa?" tanya Dika penasaran.
"Ekhem ... Anu ... Bisa di nikahi," jawabnya polos sambil menundukkan kepala. Kinan agak kesulitan mengunyah bolu pisang itu, tapi di paksa di telan di dalam kerongkongannya hingga terasa seperti tersedak.
"Minum dulu Kinan. Makan itu di kunyah bukan langsung di telan begitu. Bisa mati tersedak kalau begitu," ucap Dika ikut panik melihat kedua mata Kinan melotot yang terasa sulit menelan.
Malam itu mereka begitu akrab. Banyak obrolan dan candaan yang membuat mereka semakin dekat dan nyaman berkomunikasi. Kinan yang ramah, dan tidak pernah memilih teman pun bisa coco begitu saja dengan Dika. Tidak hanya itu saja, Atika dan Surya, kedua orang tua Dika pun ikut menemani dan makan malam bersama di kamar yang di tempati oleh Kinan. Suasana keluarga yang hangat dan harmonis.
"Kamu sudah ngantuk?" tanya Dika pelan karena melihat Kinan beberap kali menguap.
"Sedikit," jawab Kinan yang juga serba tidak enak.
"Istirahatlah Kinan. Aku di depan, kalu ada apa - apa, panggil saja," titah Dika kepada Kinna.
Kinan mengangguk kecil Kinan bisa merasakan bahwa Dika adalah lelaki baik dan tulus. Mirip seperti Bagas. Ya, Bagas. 'Arghh ... Kenapa Kinan mengingat Bagas. Adahal satu hari ini merekatidak bertemu dan tidak berkomunikasi, tapi Kinan jelas mengingat Bagas.'
__ADS_1
"Kinan tidur ya?" ucap Kinan yang kembali merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu. Selimut tebal itu di tarik hingg ke dada oleh Dika. Dika ingin melindungi Kinan dan membuat gadis itu selalu nyaman bila bersamanya.
"Mimpi indah ya. Cepat pulih juga,"ucap Dika pelan. Dika masih terdiam di samping ranjang Kinan.
"Makasih Dika. Kenapa lagi? Kok masih di sini?" tanya Kinan lembut menatap Dika.
"Boleh aku mengecup kening kamu, Kinan? Ucapan selamat malam?" tanya Dika ragu. Dika tahu, Kinan pasti akan menolaknya.
"Maaf Dika. Kinan tidak bisa. Terima kasih sudah mengurus Kinan. Kinan tidak akan lupa," ucap Kinan lirih. Kinan langsung memejamkan kedua matanya agar terlihat sedang tidur.
Tepat sekali apa ynag ada di pikiran Dika. Kinan tidak akan mau. Kinan wanita yang sulit untuk di dekatui. Tidak mudah jika bukan hatinya yang bermian. Kebaikannya saja tidak bisa meluluhkan hati gadis cantik itu apalagi hanya harta.
"Oke. tidak masalah. Selamat tidur, my princess," ucap Dika mengulum senyum.
Kedua mata Kinan yang sudah terpejam pun ikut melirik ke arah Dika. Dika terlihat sedang menuju ke luar kamar. Keduanya hanya diam dan berpikir dalam pikirannya masing - masing.
"Ini benar perusahaan Papa? Besar juga? Lalu, Om Agung dimana?" tanya Bgaas pelan sambil mencari parkiran di sekitar halaman gedung perusahaan itu.
Seorang satpam menghampiri dan bicara kepada Bagas. Intinya, ada keperluan apa sampai datang dan parkir di sini. Kesempatan Bagas untuk mengetahui kepemilikan tentang perusahaan ini.
"Ini punya Pak Surya, tapi mulai hari senin, Direktur baru akan mengurus dan mengambil alih perusahaan ini. Namanya Pak Mahardika," jelas satpam itu dnegan detil.
Bagas pun menanyakan detil tentang Agung sebagia tangan kanan Pak Surya. Dengan mudahnya Bagas mendapatkan alamat Pak Agung karena sejak tadi Anita menelepon selalu tak diangkat oleh Agung.
Malam ini Anita datang ke tempat Agung. Begitu terkjutnya Agung melihat Anita yang datang bersama dengan Bagas.
"Bagaimana Nyonya bisa kesini?" tanya Agung gugup.
__ADS_1
Agung tinggal di salah satu perumahn di Bandung bersama keluarga kecilnya.
"Kamu kaget melihat saya?" tanya Anita ketus.
"Pak Agung, biarkan kami masuk ke dalam. Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan soal Papah," ucap Bagas dengan tegas.
"Baiklah," jawab Agung gugup dan terbata.
Bagas dan ANita masuk ke dalam rumah. Banyak hal yang mereka tanyakan perihal perusahaan itu dan terkahir tentang kebenaran foto yng terkirim ke ponsel Anita.
"Apa ini benar? Papa memiliki hubungan dengan Atika, mantan sekertarisnya dulu?" tanya Bagas dengan tatapan tajam sambil memberikan foto yang ada di ponsel Sang Mama.
Agung menerima ponsel itu dan menatap lekat. Dirinya hanya bisa terdiam dan tidak bisa menjawab. Amanah yang di berikan Pak Surya kepada dirinya begitu sulit untuk dilakukan jika keadaan Agung terpojok seperti saat ini.
"Lebih baik jujur dan jawab apa adanya. Tidak perlu menutupi apapun yang sebenarnya terjadi," tegas Bagas yang mulai tersulut emosi karena Agung hanya diam.
"Saya tidak tahu apa -apa tentang hal ini," ucap Agung berbohong.
"Oke. Jika tidak mau bercerita. Saya akan datang di hari senin. Saya akan tunggu Papa," ancam Bagas kepada Agung.
"Oke. Saya akan ceritakan semuanya, asal kalian berjanji untuk tidak mencari masalah untuk ini," ucap Agung memohon.
"Apa? Saya tidak boleh mencari masalah? Saya dan Mama memang ingin cari kebenran bukan cari masalah. Kalau memang kamu anggap saya cari masalah. Bilang Papa dan ATika untuk tidak mencari masalah terlebih dahulu. Kalau kamu tidak mau menjelaskan pun, saya tidak peduli. Foto ini sudah bisa menjelaskan kalau Pap dan Atika itu mempunyai hubungan gelap bukan hanya sekadara Bos dan mantan seketarisnya saja," ucap Bagas dengan suara keras.
"Tolong saya, Pak Bagas. Saya mohon, untuk bisa meredam ini semua," ucap Agung dengan nada memohon.
Tatapan Bagas tetap nyalang dan tajam. Tidak ada ampun bagi orang yang berani menutupi kebenaran.
__ADS_1