
5 bulan kemudian
Sebuah pita merah terpasang di depan salon kecantikan milik Dinda Salon, nama itu sengaja di buat oleh Wulan dan juga Pandu karena mereka ingin bahwa semua mata bisa menyadari usaha dan kerja keras seorang Dinda, tidak hanya itu, nama yang tercantum di sana adalah sebagai kepemilikan untuk Dinda sendiri, Dinda lah yang akan mengekspresikan usaha dan kerja kerasnya yang akan di mulai hari ini.
Tidak banyak orang yang datang memenuhi undangan. Hanya orang-orang tertentu yang sangat dekat dengan Dinda kala itu, setelah mendapatkan nasehat dari Pandu beberapa bulan yang lalu untuk menceritakan masalah perceraiannya dengan Rehan, akhirnya Dinda memutuskan untuk menyempatkan waktu pulang ke desa dan menceritakan semuanya pada kedua orang tua yang sudah tertinggal jauh informasi itu.
Meskipun begitu mereka tidak marah pada Dinda, mereka justru merasa kasihan pada Dinda karena masalah hidupnya yang ia tanggung sendiri.
Namun semua itu sudah berlalu, kini kehidupan Dinda sudah jauh lebih baik, hatinya sudah menerima keputusan takdir yang ia dapatkan dan hari ini, adalah hari yang sangat spesial baginya karena hari ini adalah hari pertama salon kecantikan dan berbagai skincare akan di perkenalkan pada publik. Tak lupa, bahwa semua itu tidak akan terjadi jika tidak ada bantuan dari Wulan dan juga Pandu, kesibukan itupun terlihat sangat nyata sebelum gedung itu dibuka.
Dinda membangun sebuah perusahaan di tempat tinggalnya sendiri, meksipun itu tidak begitu besar, namun ia yakin bahwa akan besar seiring berjalannya dengan waktu.
"Kepada kalian semua yang sudah berkenan hadir, saya ucapkan banyak terima kasih. Dan saya meminta doa kalian agar usaha yang baru saja akan berjalan ini bisa sukses dan mendapatkan pelanggan yang setia, untuk itu, Salon Kecantikan Dinda resmi saya buka."
Dinda berucap dengan penuh senyum, aura kecantikannya begitu sangat memancar ketika itu, ia memotong pita dan mendapatkan tepuk tangan meriah dari orang-orang yang dekat dengannya.
Pandu pun memperhatikan Dinda dengan seksama, hingga perhatian itu disadari oleh Wulan yang berdiri di sampingnya.
Saat itu Wulan merasa lain ketika Pandu menatap wajah Dinda, namun ia masih merespon positif dan masih fokus pada pesta kecil yang diadakan itu.
Karena baru buka, Wulan dan Pandu sengaja mengundang beberapa klien nya untuk melakukan perawatan kecantikan gratis di salon tersebut, dan juga beberapa warga yang merasa penasaran, pun boleh hadir dan mencoba melakukan perawatan di sana.
Kedua orang tua Dinda ikut sibuk melayani para jamuan yang tersedia dan memastikan bahwa mereka semua telah terbagi dengan rata.
__ADS_1
Dinda merasa begitu sangat bahagia kala itu, rasa bahagianya bercampur dengan haru hingga ia menjatuhkan air matanya. Tiba-tiba Pandu mengulurkan sebuah tissue untuk Dinda, dan disadari oleh Dinda sendiri.
"Hapus lah air matamu, mulai sekarang kau harus menyimpan rapat ke air matamu itu," ucap Pandu yang mengira bahwa Dinda sedih karena memikirkan mantan suaminya.
"Aku terharu Pandu, terharu karena sudah berada di titik ini, uang hasil dari aku meminta pada mas Rahan, kini berdiri sebuah gedung di belakang ku sekaligus akan menjadi tempat tinggal ku," seru Dinda tidak bisa menjelaskan dengan detail.
"Astaga, aku pikir kau sedih karena masih memikirkan mantan suami mu yang tidak bertanggung jawab itu, tapi kalau kau sedih karena terharu, maka teruskan lah Dinda, aku tidak akan melarangnya. Semua ini pasti akan sangat mengejutkan bagimu, tapi ini juga bisa kau jadikan sebagai bukti pada mantan suamimu, bahwa tidak bersamanya, kau justru bisa mencari uang sendiri." jelas Pandu yang ingin sekali bahwa Dinda bisa bangkit dan menunjukkan pada Rehan bahwa ia adalah wanita yang hebat.
Dinda mengangguk pelan saat itu, tentu saja ia akan melakukannya karena ia ingin sekali dianggap setelah perpisahannya.
"Benar sekali apa yang dikatakan oleh Pandu Dinda, jika Rehan tidak bisa mengganggap mu hebat, maka kau sendiri yang harus membuktikan padanya bahwa kau layak untuk dipuji," Wulan tiba-tiba datang membenarkan ucapan Pandu.
"Ya, tentu saja aku akan melakukannya Wulan, aku tidak mau menjadi wanita lemah lagi di hadapan siapapun, aku ingin juga di anggap," ucap Dinda dengan semangat.
Ke tiga sahabat itu saling berjabat tangan, dan Pandu terlihat begitu senang ketika menatap wajah Dinda yang terlihat sangat ceria, saat itu Wulan pun masih memperhatikan tatapan mata Pandu kepada Dinda, setelah saling berjabat tangan Dinda pun meminta izin untuk menemui kedua orang tuanya, tentunya hal itu tidak ada masalah bagi Pandu dan juga Wulan yang harus Dinda tinggalkan.
"Ciee, kamu suka ya sama Dinda?" tanya Wulan menatap Pandu dengan penuh senyum.
"Ih, apaan si, nggak lah, kita kan sahabatan," ucap Pandu menggelengkan kepala karena tidak percaya Wulan akan bicara seperti itu.
"Kalau memang suka juga itu tidak masalah Pandu, tidak jarang kan yang awalnya sahabatan tapi berakhir dengan cinta," seru Wulan melempar senyum.
"Tapi tidak padaku dan dirimu kan Wulan? Kita bersahabat cukup lama dan kita masih berada di titik nyaman sebagai sahabat yang masih mempertahankan jomblonya, kan?" Pandu membalas tatapan Wulan kala itu.
__ADS_1
"Iya si, tapi mungkin saja itu tidak berlaku pada Dinda. Persahabatan mu dengan Dinda mungkin tidak seperti persahabatan antara kita berdua. Pandu, tidak salah jika kau memiliki perasaan pada Dinda, kau justru memilih jalan yang sangat tepat jika kau jatuh cinta padanya." jelas Wulan melempar senyum kala itu.
Pandu membalas tatapan Wulan, ia tidak mengerti apa maksud Wulan berbicara seperti itu.
"Apa maksud mu, Wulan?" tanya Pandu penasaran.
"Ya, Dinda adalah wanita yang sulit jatuh cinta, tapi saat dia jatuh cinta pada seorang pria, lihat lah bagaimana dia mencintai Rehan, terkesan sangat bodoh bukan? Tapi itulah Dinda dan cintanya, tapi jika kau memutuskan untuk berusaha membuat Dinda cinta padamu, usahakan jangan menjadi seperti Rehan, kalau kau melakukan itu pada Dinda, aku sendiri yang akan membunuh mu!" ancam Wulan dengan tegas.
"Hahaha, kau ini. Apa aku terlihat seperti Rehan?" tanya Pandu merasa lucu.
"Tidak si, tapi aku tidak mau jika Dinda melakukan kesalahan kedua dalam masalah mencintai. Jika kau sungguh-sungguh, ini tidak ada salahnya, temani prosesnya dan buktikan kalau kau mencintai dia." jelas Wulan yang saat itu mendukung penuh.
Pandu terdiam, ia bahkan sebenarnya tidak tahu perasaan yang ia miliki sebenarnya itu cinta atau bukan, karena saat itu ia tidak yakin dengan dirinya sendiri. Pandu berpikir bahwa Dinda akan sangat sulit menerima cinta kembali setelah hubungan pertamanya itu gagal, namun terlepas dari semua itu, Pandu juga ingin memastikan bagaimana perasaan yang ia miliki sebenarnya.
Beberapa saat kemudian Dinda pun kembali menghampiri Wulan dan Pandu yang sedang membicarakan dirinya itu, dengan membawa piring dan juga beserta lauknya, Dinda menyuapi kedua sahabatnya itu.
"Ini untuk kalian berdua yang telah membawa ku ke dalam posisi ini, terima kasih," ucap Dinda saat memberikan suapan pertamanya pada Wulan.
"Ya ampun, ini sweet sekali," seru Wulan menerima suapan itu dan mengunyahnya.
"Ini untuk mu Pandu, yang tidak pernah lelah memberikan semangat dan motivasi untukku."
Dinda melempar senyum ketika memberikan suapan keduanya untuk Pandu, saat itu Pandu merasa sangat terharu menerima perlakuan manis itu dari Dinda.
__ADS_1