
"Aku tidak bisa tidur dengan tenang Dinda, aku memikirkan kamu," ucap Pandu lirih, ia mengungkapkan isi hatinya secara terang-terangan.
"Mas, jangan seperti ini, aku tidak bisa bicara kalau kamu terus saja merayuku," seru Dinda yang kembali merasa malu.
"Aku sangat senang menggoda mu, kamu seperti seorang gadis yang baru merasakan apa itu cinta, kamu benar-benar membuatku tidak sabar ingin segera menikahi mu." Pandu terus saja menggoda hingga membuat Dinda bingung bagaimana harus menyembunyikan rasa malunya itu.
Saat itu Dinda hanya terdiam saja di depan layar ponselnya, ia terdiam pasrah sambil mengamati wajah Pandu. Dan beberapa saat kemudian Pandu pun menguap, Dinda meminta Pandu untuk segera mematikan ponselnya, karena ia tidak mau jika Pandu kurang istirahat dan kurang tidur lantaran sikapnya itu yang begitu manja.
Pandu tidak bisa menolak ketika Dinda meminta dirinya tidur, namun Pandu memiliki cara lain agar Dinda tidak bisa menolak permintaan nya, Pandu meminta Dinda untuk jangan mematikan ponselnya, ia harus bersedia menemani Pandu tidur dengan layar ponsel masih menyala, sambungan vidio call tersebut pun tidak dimatikan oleh Pandu, sampai akhirnya Pandu tertidur di hadapan Dinda.
Dinda tersenyum saat itu, Pandu benar-benar seperti anak kecil di hadapan Dinda, begitu manja dan tidak sungkan meminta hal itu padanya. Setelah beberapa saat kemudian, setelah yakin bahwa Pandu telah tertidur, Dinda pun memutuskan untuk segera mematikan sambungan vidio call mereka.
Esok paginya, Wulan dengan sengaja mengirimkan vidio lamaran Pandu dan Dinda pada Intan, agar Intan sadar bahwa saat ini dirinya sudah tidak ada lagi kesempatan untuk bisa mendekati Pandu dan mencuri hatinya, karena Pandu sudah resmi melamar Dinda.
Saat itu Intan terkejut ketika mendapatkan sebuah kiriman vidio dari nomor yang tidak ia kenal, dan sepasang kekasih itu adalah orang yang sangat ia kenal, membuat Intan terkejut jika ternyata Pandu dan Dinda benar-benar sudah melakukan lamaran.
"Apa, jadi mas Pandu dan Dinda sudah resmi lamaran?!"
Intan melempar ponselnya di atas ranjang, ketika melihat kenyataan yang terjadi. Hatinya mendidih lantaran Dinda akhirnya mendapatkan pria yang justru dicintai oleh Intan saat itu, melihat reaksi Intan yang sedang kecewa membuat Rehan meraih ponsel Intan dan memeriksanya.
"Apa, Dinda dan Rehan sudah resmi lamaran," ucap Rehan yang juga ikut terkejut saat itu.
"Ya Mas, mereka sudah resmi lamaran, dan sebentar lagi mereka akan menikah," seru Intan menghampiri Rehan.
"Ini tidak bisa di biarkan, aku harus melakukan sesuatu." Rehan meletakkan ponsel Intan, lalu saat itu ia keluar dari kamar.
__ADS_1
Intan berlari mengejar Rehan, ia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Rehan.
"Mas, apa yang mau kamu lakukan Mas?" tanya Intan menatap Rehan.
"Aku ingin melakukan sesuatu Intan, mereka tidak bisa bahagia di atas penderitaan ku seperti ini," ucap Rehan membalas tatapan Intan.
"Apa kamu masih mencintai Dinda Mas, kamu terlihat sangat sibuk sekali dan kebakaran jenggot saat melihat video lamaran Dinda dengan Pandu, apa kamu masih cinta sama dia, ha?" Intan menatap Rehan penuh penekanan.
"Aku sama sekali tidak mencintai Dinda, tapi aku tidak rela melihat dia bahagia. Aku ingin melakukan sesuatu pada mereka agar mereka tidak berbahagia di atas penderitaan ku, aku tidak ikhlas." jawab Rehan penuh kemarahan.
Rehan pun pergi meninggalkan rumah begitu saja, Intan tersenyum kala itu. Ia tidak perlu susah payah melakukan sesuatu pada hubungan Dinda dan Pandu, karena Rehan sendiri lah yang akan menghancurkan hubungan mereka.
Rehan mendatangi tempat tinggal Dinda, ia masuk ke dalam salon dan mencari-cari Dinda saat itu. Hingga membuat para pelanggan salon menjadi terganggu karena teriakan Rehan.
"Ada apa ini, apa Anda tidak memiliki sopan santun hingga masuk ke salon ini dengan membuat keributan seperti ini?" Wulan memprotes perbuatan Rehan yang tiba-tiba datang berbuat ulah.
"Di mana Dinda, aku ingin bertemu dengannya," ucap Rehan tanpa basa basi.
"Memangnya apa urusan mu dengan Dinda, bukan nya kau sudah tidak ada urusan lagi dengan Dinda, lalu apa gunakan kamu datang ke sini dan berteriak-teriak seperti ini," omel Wulan kesal.
"Kalau kau tidak memanggil Dinda untukku, aku akan naik ke atas dan mencari nya sendiri." jawab Rehan yang hendak melangkah masuk.
Namun Wulan dengan cepat menghalangi langkah kaki Rehan, Wulan tentu saja tidak akan diam saja ketika Rehan akan masuk ke rumah Dinda yang berada di lantai atas, ia meminta Rehan untuk menunggu. Karena ia sendiri lah yang akan menemui Dinda saat itu.
"Dinda, ada Rehan di bawah, dia teriak-teriak nyariin kamu," ucap Wulan setelah bertemu dengan Dinda di ruangannya.
__ADS_1
"Mas Rehan, ada apa dia datang ke sini?" tanya Dinda bingung.
"Aku nggak tahu, dia teriak-teriak kayak orang kesurupan tuh di bawah, mending kamu temui dulu, atau kalau nggak aku panggil polisi buat usir dia," seru Wulan yang merasa sangat geram.
"Oke, aku akan temui dia dulu." jawab Dinda bangkit dari ruang kerjanya.
Dinda dan Wulan turun dari ruang kerjanya dan menemui Rehan yang masih fokus berdiri di lantai bawah. Saat menyadari bahwa Dinda sudah hampir sampai di hadapannya, Rehan pun menatap Dinda dengan tatapan tajamnya.
Dinda melihat suasana salonnya sedang ramai, dan kehadiran Rehan itu membuat Dinda memutuskan untuk segera membawa Rehan ke tempat lain, yang di sana hanya ada mereka berdua yang saling berhadapan satu sama lain.
"Ada apa Mas, kenapa kamu membuat keributan di tempat kerjaku?" tanya Dinda memangku tangan, menatap Rehan dengan tatapan serius nya.
"Apa benar kamu sudah dilamar oleh Pandu Dinda, pria yang dipanggil papa oleh putraku?" Rehan melempar kan tanya pada Dinda saat Dinda mempertanyakan maksud kedatangan nya.
"Memangnya kenapa Mas, apa urusan mu," ucap Dinda yang tak langsung menjawab.
"Jawab saja Dinda, apa benar kamu dan Pandu sudah resmi lamaran!" tegas Rahan mengulangi pertanyaan nya.
"Ya, itu benar. Dan sebentar lagi aku akan menikah dengan Mas Pandu, kenapa? Apa kamu keberatan?"
Dinda terlihat sangat santai menatap Rehan yang justru terlihat begitu marah besar, ia tidak tahu apa maksud Rehan yang tiba-tiba datang membahas hal itu dengannya.
"Dinda, aku tidak suka kamu menikah dengan pria itu, pria itu tidak baik untuk mu dan dia pasti hanya ingin hartamu saja," ucap Rehan yang mencoba mempengaruhi Dinda.
"Kamu tahu apa tentang Mas Pandu, Mas. Kamu sama sekali tidak mengenal siapa Mas Pandu, jadi kamu tidak bisa menilai buruk tentang kepribadian nya. Soal baik dan buruknya, kamu jangan lupa, kalau kamu juga tidak jauh lebih buruk dari ucapan yang kamu lontarkan untuk mas Pandu," seru Dinda yang tidak sama sekali terpengaruh.
__ADS_1