Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.42


__ADS_3

Kinan berlari kecil menuju apartemennya. Lankah kaki mungilnya begitu terliht terburu - buru ingin segera sampai lobby apartemen.


Pandangannya mengelilingi seluruh ruangan besar itu dan berhenti pada satu titik tepat di kusri tunggu. Sosok yang beberapa hari ini tidak pernah ia temui lagi di Kantor.


Kinan berjalan pelan menghampiri lelaki yang terlihat sedikit berbeda jika menggunakan seragam OB itu. Wajahnya nampak lebih bersih, dan pakaian yang di kenakan terlihat berkelas.


"Dika ...." panggil Kinan pelan. Sedikit ragu juga bila salah orang. Dika pun mengangkat wajahnya menatap sosok cantik yang telah berdiri di hadapannya itu.


"Kinan?" ucap Dika yang terlihat kaget menatap Kinan.


"Maaf menunggu lama ya?" ucap KInan yang tidak enak hati.


"Gak apa - apa, kok. Berangkat sekarang atau gimana?" tanya Dika pelan..


"Kinan ganti baju dulu ya? Bentar," ucap Kinan pelan.


"Aku tunggu di sini saja. Gak enak kalau di dalam," ucap Dika dengan sopan.


Kinan mengangguk dan segera menuju kamar apartemennya, meninggalkan Dika yang duduk sendiri di lobby menunggu dirinya mengganti pakaiannya dan bersiap.


Sejak kepergian Kinan dari rumah Bagas. Bagas mendadak menjadi pendiam. Beberapa pertayaan yang di ajukan Mama Anita pun tidak di jawab dengan sempurna.


"Kamu itu kenapa sih, Bagas?" tanya Mama Anita pelan. Lama - lama risih juga lihat Bagas yang bolak - balik kayak setrikaan dengan dengusan yang tak jelas.


Bagas cuma terdiam tak menjawab ucapan Mama Anita hingga Mama Anita sibuk dengan ponselnya yang tiba - tiba saja berdering. Mama Anita mengernyitkan dahinya dan menatap seolah tak percaya isi dari ponsel itu sambil mengeluarkan kata - kata tak biasa dari dalam mulutnya. Lebih tepatnya kata umpatan.


Bagas menole ke arah Sang Mama lalu berjalan menghampiri Mama yang masih duduk di sofa. Wajahnya terlihat merah padam karena marah.

__ADS_1


"Ada apa Ma?" tanya Bagas tiba - tiba sambil menghampiri Sang Mama. Perubahan wajah Mama Anita membuat Bagas yakin, bahwa Mamaa Anita sedang tidak baik - baik saja.


"Lihat Bagas. Mama tidak tahu siapa yang mengirimkan ini. Papamu? Dengan wanita lain. Ini Atika, mantan sekertarisnya dulu, Mama ingat betul," ucap Mama Anita yang terlihat marah besar.


"Mama yakin? Dia mantan sekertaris Papa? Kok mesra gitu sambil suap - suapan gitu? Ini foto baru lho Ma? Ini di restauran mana ya?" tanya Bagas kemudian sambil menatap lekat foto itu. Foto di dalam ponsel itu sedikit di perbesar dan membaca tulisan kecil yang ada di belakangnya. 'Lembang, Bandung,' ucap Bagas lirih.


"Mama sangat yakin sekali. Dulu memang Papamu sangat dekat dengan sekertarisnya ini. Atika ini setipe dengan Kinan, cantik, enerjik, pintar dan menawan, cukup sempurna menjadi perempuan," ucap Mama Anita pelan.


"Lalu? Apakah ada hal yang ganjal? Terus kenapa Papa bisa menemui mantan sekertarisnya ini?" tanya Bagas dengan penasaran.


Papa Surya adalah lelaki, suami dan Papah yang empurna. Selalu pulang tepat waktu, tidak pernah pergi sendiri karena sellau mengajak istri dan anaknya. Kesibukannya did luar rumah hanya untuk bekerja. Selama ini tidak ada yang ganjal dan tidak ada yang perlu di curigai. Papah Surya selalu bisa di hubungi dan di pantau. Tidak pernah ada kebohongan. Sampai urusan uang pun, Papah Surya bertanggung jawab penuh.


"Kita ke Bnadung, sekarang?" titah Mama Anita tiba - tiba. Sepertinya Mama NAita mencurigai sesuatu dan ingin mengetahui suatu hal.


"Ke Bandung? Tapi kemana? Bandung itu luas Ma?" tanya Bagas kemudian.


"Kita ke Perusahaan Papa di Bandung. Di sana ada kepercayaannya Papa, namanya Om Agung. Mungki kita bisa cari tahu," ucap Mama Anita yang masih mencari cara untuk mengetahui kebenaran foto itu.


"Bagas aja gak tahu Perusahaan Papah yang di Bnadung? Papah gak pernah cerita sama Bagas? Memang siapa yang pegang perusahaan Papah yang di sana? Selama ini Papah selalu ada di Jakrta?" ucap Bagas pelan.


"Perusahaan di Bandung memang terbilang baru, Bagas. Mungkin baru di bangun sekitar sepuluh tahu terakhir ini. Perusahaannya sudah lama, tapi dulu, Papah kerja sama dengan temannya, dan akhirnya Papah memberanikan diri untuk mandiri dan membangun Perushaa yang sama seperti di Jakrta dengan nama yang baru bukan membuka cabang," ucap Mama Anita yang tahu segalanya.


Mungkin komunikaasi Mama Anita dan Papa Surya sangat baik hingga Mama Anita begitu sangat paham sedetail mungkin tanpa ada kebohongan.


"Lalu? Sekarg Om Agung itu yang mengurus Perusahaan Papah? Atau ada Direktur lain yang di percayai Papah?" tanya Bagas mulai penasaran dnegan Perusahaan Sang Papa yang ada di Bandung.


"Kita ke Bandung sekarang, Bagas?" ucap Mama Anita lantang. Ia segera ke kamarnya untuk bersiap diri. Pikiran Mama Anita sudah kacau. Pertanyaan beberapa puluh tahun pun seolah perlahan terjawab dengan adanya foto hari ini. Tapi? Kenapa baru terlihat hari ini? Apa ada yang di sembunyikan? Foto itu asli bahkan terlihat nyata dan tidak di buat - buat.

__ADS_1


Ingin rasanya menangis dan mengadu keganjalan yang selama ini Mama ANita rasakan, namun Mama Anita tidak pernah memiliki bukti. Papah Surya terlalu rapi untuk menyimpan semuanya.


Perjalanan yang cukup lama, dari Jakarta menuju Bandung membuat Kinan terdiam seribu bahasa. Belum juga rasa terkejutnya hilang melihat gaya Dika yang jelas terlihat bukan orang sembarang. Tadi, Kinan sempat di buat terkejut juga dengan mobil Dika yang terbilang mewah. Tidak jauh dengan mobil yang di miliki oleh Bagas. Sama - sama mobil sport built up yang hanya ada beberapa saja, di negeri ini.


"Di perhatikan sejak berangkat kamu diam saja? Kamu nyesel, pergi denganku, Kinan?" tanya Dika pelan sambil fokus menyetir.


"Gak. Kenapa gitu?" tanya Kinan pelan. Tubuhnya terlalu nyaman bersandar pada sandaran jok mobil hingga Kinan begitu menikmati dengan perjalanan jauh itu.


Hahaha ... tawa Dika menggelegar.


"Kamu tuh kelihatan serius banget, Kinan," ucp Dika asal.


Saat Dika benra - benar terlihat ganteng. Memakai kaca mata itam, dengan model rambut kekinian dengantambahan pomade yang membuat rapi. Pakaiannya sangat casual sekali tapi cocok dengan tubuh tegapnya. Sekilas, mirip sekali dengan ... Argh, tidak mungkin. Mereka dua orang yang berbeda tapi memang sedikit ada kemiripan kalau memakai pakaian seperti ini, btin Kinan di dalam hati. Sejak ti Kinan berpikir tentang semua apa yang ia lihat. Pikirannya penuh dengan kecemasan dan kegelisahan.


"Kinan hanya gak habis pikir saja. Setelah ini, Kinan akan terkejut, hal apa lagi?" tanya Kinan tiba - tiba. Raut wajah Kinan terlihat sedang kesal.


Lagi - lagi Dika hanya tertawa keras di dalam mobilnya mendengar celetukan jujur Kinan.


"Aku tahu apa yang ada di pikiran kamu. Kamu pasti menganggapku bukan orang baik? Karena telah membohongimu? Bukan maksud untuk tidak jujur. Terkadang kita di tuntut untuk menjadi orang lain untuk menilai sikap seseorang," ucap Dika sedikit berbohong.


"Menjadi orang lain untuk menilai sikap seseorang? Harus dengan kebohongan? Apakah tidak ada cara lain?" tanya Kinan tak paham.


Mungkin kalau seseorang yang di nilai itu Kinan? Tentu Kinan akan sangat tersinggung sekali.


Dika hanya menghela napas panjang. Rahasia ini cukup Dika yang tahu, walaupun suatu hari Kinan berhasil menjadi miliknya.


"Tidak di jawab?" tanya Kinan yang masih menunggu jawaban Dika.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menjawab itu. Mungkin suatu hari, kamu akan tahu dengan sendirinya, Kinan. Maafkan aku," jawab Dika dengan santai.


__ADS_2