
"Dari mana kamu, Intan?" tanya Rehan menghentikan langkah kaki Intan.
"Dari salon Mas, nggak tahu kenapa aku merasa sangat nyaman sekali dengan salon itu," ucap Intan yang mengibas-ngibas rambutnya yang baru saja di creambath.
"Intan, mulai sekarang aku meminta padamu untuk tidak melakukan perawatan apapun lagi, atau pergi belanja sesuatu yang tidak perlu, aku mau kamu sedikit menghemat," celetuk Rehan yang saat itu ingin Intan mengerti tentang kondisi keuangan nya.
"Apa si Mas maksud kamu, sejak aku menikah sama kamu itu aku udah terbiasa hidup glamor dan mewah, jadi sekarang tiba-tiba kamu bicara seperti ini, kenapa si?" marah Intan tidak terima.
"Intan, aku hanya ingin kamu tahu kalau kondisi keuangan kita sedang tidak baik-baik saja, pengeluaran dan pendapatan sekarang ini sangat jauh berbeda, itu karena gaya hidup kamu yang sangat boros ini. Intan, cobalah untuk mengerti keadaan, bahwa aku sekarang ini sedang mengalami masalah keuangan." jelas Rehan yang tidak menjelaskan bahwa sebentar lagi mungkin usahanya itu akan bangkrut.
Intan menatap Rehan dengan tatapan kasar, ia benar-benar tidak suka dengan ucapan Rehan yang seakan memojokkan dirinya, dan satu hal yang membuat Intan tidak percaya, ucapan Rehan yang mengatakan bahwa kondisi keuangan nya sedang tidak baik-baik saja.
"Apa maksud kamu Mas, apa kamu bangkrut?" tanya Intan menatap Rehan tajam.
"Hampir Intan, aku belum bangkrut, tapi kalau cara kamu yang semakin hari semakin boros, menggunakan uang tidak sesuai dengan kebutuhan, mungkin saja aku akan mengalami kebangkrutan," ucap Rehan yang sudah membayangkan hal yang cukup mengerikan itu.
"Mas, kamu apa-apaan si, kenapa bisa bangkrut kayak gini. Mas, ini pasti karena kamu kerjanya nggak beneran kan, kamu kerjanya main-main di toko sampai bisa bangkrut kayak gini," sergah Intan menyalahkan Rehan.
"Kenapa kamu justru menyalahkan aku Intan, yang memakai uang ku semua adalah kamu, kamu yang tidak bisa menahan diri kamu untuk tidak melakukan pemborosan, selama Dinda menikah denganku, aku tidak pernah membayangkan jika aku akan mengalami kesulitan uang, karena apa? Dinda tidak se-boros dirimu." celetuk Rehan yang saat itu menyebut nama mantan istrinya itu.
Mendengar nama Dinda tentu saja membuat Intan sangat kesal sekali, ia marah dan memperlihatkan bahwa ia tidak suka kala itu. Memprotes Rehan yang membandingkan dirinya dengan Dinda, wanita yang rela di apakan saja oleh Rehan termasuk berselingkuh dengannya.
"Mas, cukup ya! Jangan coba-coba kamu bandingkan aku dengan mantan istri mu itu, tentu saja aku dan Dinda sangat jauh berbeda, dia adalah wanita bodoh yang mau menikah dengan mu, yang justru berselingkuh dengan wanita lain. Mas, aku nggak mau ya, kamu sebut nama Dinda lagi di hadapan aku, aku nggak akan terima kalau kamu bandingkan aku dengan dia!" marah Intan yang saat itu tidak terima ketika Rehan menyebut nama Dinda.
__ADS_1
"Intan, aku hanya membandingkan kamu dengan Dinda soal keuangan, tolong Intan, seharusnya kamu ada di sampingku dan memenangkan aku ketika aku memiliki banyak masalah, bukan justru terus menentang ku seperti ini," ucap Rehan yang masih berusaha bertutur kata baik.
"Mas, aku akan coba untuk mengurangi kebiasaan ku berbelanja dan foya-foya, tapi kalau untuk menghentikannya secara tidak langsung tentu saja hal itu akan membuat aku kesulitan, udah lah Mas, aku kau istirahat dulu, aku capek." jawab Intan yang memutuskan untuk pergi ke kamar.
Rehan memanggil Intan dan berharap bahwa Intan masih mau menemani dirinya saat itu, tetapi Intan justru berpaling dan memilih pergi ke kamar mandi. Hingga membuat kepala Rehan menjadi semakin pusing.
Sementara di kamar Intan kembali merasa kesal karena Rehan lagi-lagi mengajaknya bertengkar, ia terduduk di ujung ranjang dan berpikir apakah suaminya itu benar-benar akan segera bangkrut? Intan terus saja berpikir, jika itu benar, maka ia tidak akan sanggup hidup bersama dengan Rehan saat itu.
"Astaga, baru saja dua tahun aku menikah dengan mas Rehan, sekarang aku dihantui oleh bayang-bayang kebangkrutan dia, oh ya ampun," Intan terlihat sangat tidak rela jika hidupnya yang sudah terbiasa mewah itu tiba-tiba berubah karena suaminya jatuh miskin.
Di saat itu pula, Intan tiba-tiba mendapatkan ide yang muncul di kepalanya, ia tidak tahu mengapa tiba-tiba ia kepikiran kepada Pandu, pria tajir yang baru saja ia kenal itu.
"Aku mungkin bisa deketin Pandu, dan buat dia jatuh cinta sama aku, setelah itu kalau memang mas Rehan benar-benar bangkrut aku bisa menikah dengan Pandu." ungkap Intan dengan ide konyol nya itu.
Sebuah pesan masuk di ponsel Pandu, saat itu Pandu sedang berada di toilet. Dinda yang sedang berbincang dengan Wulan itu menyadari bahwa ponsel sahabatnya itu berdering.
Dinda dan Wulan saat itu saling menatap, beberapa hari ini memang Pandu nampak terlihat sering sekali memegang ponsel, Dinda pun mengira bahwa teman baiknya itu telah memiliki seorang kekasih yang tidak bisa lepas komunikasi dengan Pandu.
"Sepertinya Pandu sudah memiliki kekasih, lihat saja beberapa hari ini, Pandu terlihat sangat sering mendapatkan chat," ucap Dinda yang saat itu memperhatikan Pandu.
"Tidak mungkin Dinda, itu hal yang mustahil," seru Wulan yang tidak percaya.
"Kenapa kau tidak percaya? Bukannya hal wajar jika Pandu telah memiliki kekasih, selama ini dia jomblo kan?" tanya Dinda dengan tegas.
__ADS_1
"Ya, tapi dia tidak mungkin punya kekasihnya. Dinda, kamu tahu tidak, siapa wanita yang selama ini telah mengisi hatinya," dengan tatapan serius Wulan menatap Dinda.
"Tentu saja aku tidak tahu, mana mungkin aku mencari tahu Wulan, kau ini lucu sekali." jawab Dinda tersenyum kecil.
Saat itu Wulan melempar senyum, sepertinya memang Dinda perlu diberitahu agar ia bisa mengerti bahwa dialah wanita yang dicintai oleh Pandu, Wulan menatap ke kanan dan ke kiri, ia berharap bahwa Pandu tidak akan mendengar ucapannya pada Dinda kala itu.
"Dinda, sejak Pandu bergabung dengan bisnis yang kau jalan kan ini, aku sering sekali melihat dia diam-diam memperhatikan dirimu, bahkan aku sempat mendengar pengakuan dari Pandu sendiri bahwa ia menyukaimu, tentu saja hal itu sempat membuat ku terkejut, tapi itulah kenyataannya," ucap Wulan dengan suara lirih nya.
"Apa!" Dinda terkejut mendengar pengakuan dari Wulan.
"Itu benar, tapi pura-pura saja tidak tahu, tunggu sampai Pandu sendiri lah yang akan mengatakan perasaannya padamu." jawab Wulan dengan tegas.
Dinda masih tidak percaya dengan ucapan dari Wulan, dan saat Dinda sedang berpikir keras, tiba-tiba Pandu datang dan bergabung kembali ke meja mereka. Saat itu Wulan dan Dinda pura-pura membahas hal yang lain, agar Pandu tidak curiga bahwa saat ia pergi, dia lah yang menjadi bahan pembicaraan mereka.
"Ada pesan masuk beberapa kali tuh di ponsel kamu, siapa si Du?" tanya Wulan penasaran, dengan tatapan mengarah pada Pandu.
"Oh ya, tunggu sebentar, aku akan membukanya dulu." jawab Pandu melempar senyum, lalu ia mulai membuka pesan masuknya.
Semua pesan masuk itu dari Intan, beberapa hari ini Intan terlalu sering mengirimkan chat padanya ketika sudah mendapatkan nomor telpon nya, saat itu Pandu merasa sedikit terhibur karena Intan terlihat nyaman dengannya.
"Siapa?" tanya Wulan lagi.
"Ada salah satu pelanggan di salon Dinda yang sempat meminta nomor telepon ku, dan dia sering sekali mengirim pesan padaku," ucap Pandu melempar senyum.
__ADS_1