
"Katanya sih, Pak Bagas itu lebih memilih rapat di bandingkan acra lamaran yang telah di buatnya sendiri, hingga calon mertuany amurka," ucap Dika pelan.
"Oh Begitu," jawab Kinan di dalam hati.
Kinan merasakan ada sesuatu yang aneh. Rasanya cerita Pak Bagas itu sama seperti dirinya. Kata Dimas, Kakaknya, Kinan akan di lamar dan di jodohkan, tapi calon suaminya tidak hadir karena sutu halangan.
'Arghh mana mungkin orang itu Pak Bagas. Kinan tak mengenal Pak Bagas sama sekali,' batinnya di dalam hati.
Malam ini Kinan menunggu Shella pulang. Dan besok Kinan akan langsung meminta ijin pindah dari kos milik Shella dengan alasan jauh. Pikiran Kinan kembali melayang dengan ucpan Dika tadi saat makan malam. Kinan merasakan ada hal yang berkaitan antara Bagas dan Dika.
Sedangkan di tempat lain, Bagas masih sibuk di dalam kamar kerjanya.
ceklek ...
"Bagas ... Kamu sibuk, Nak?" tanya Mama Anita pelan. Anita masuk ke dlaam kamar kerja Bagas sambil membawakan satu gelas susu putih dan satu toples cemilan kering untuk putr akesayangannya itu.
"Mama ... Iya, besok ada meeting lagi. Banyak tender proyek yang harus di jalankan, Ma," ucap Bagas pelan.
Anita meletakkan satu nampan di meja ketja Bagas. Lalu mengahampiri Bagas yang terliht sangat serius sambil memijat bahu anak itu dengan lembut.
"Jangan terlalu capek. Jaga kesehatan kamu, Gas. Gimana sekertaris kamu?" tanya Anita pelan.
Bagas menghentikan aktivitasnya dan menatap sang Mama dengan tatapan aneh. Bagas pun mengambil satu gelas susu hangat yang ada di meja dan meneguknya hingga setengah gelas.
"Tumben Mama tanya tentang sekertaris Bagas? kemarin juga bau saja di tanyakan?" tanya Bagas dengan bingung.
"Entah Gas. Mama kok erasa kenal dan pengen ketemu sama sekertarismu itu. Siapa namanya?" tanya Anita lembut.
"Kinan. namanya bagus," jawab Bagas pelan.
__ADS_1
"Pasti cantik ya? Ajak kesini Bagas? Mama kesepian," pinta Anita pelan.
"Mama kenapa sih? Sedih karena lamaran Bagas kepada Ajeng batal? Bagas masih mau memperjuangkan Ajeng, Ma. Mama jangan khawatir," ucap Bagas pelan.
Anita menggelengkan kepalaya pelan dan menrik napas dengan dalam.
"Lupakan Ajeng, Bagas. Kamu tahu, saat kejadian itu, Ayah Ajeng begitu murka sekali," ucap Anita pelan.
"Apa Papa tidak membelaku, Ma?" tanya Bagas pelan.
"Tentu membelamu, Bagas. tapi keputusan ada di tangan Ayah AJeng, Bukan. Ini semua kan memang kesalahan di pihak kita," ucap Anita pelan mengingatkan.
"Ekhemmm ... Papa kemana Ma? Sejak dari Yogya, Bagas belum ketemu. Di kantor pun sepertinya tidak datang," tanya Bagas pelan.
"Papa sedang mengurus usahanya di Bnadung," ucap ANita pelan dengan wajah sedikit murung.
"Bandung? Usaha Papah? Memang ada? Kok Bagas tidak tahu akan hal itu?" tanya Bagas pelan kepada Anita.
"Apa yang sednag Mama sembunyikan dari Bagas? Memang ada rahasia besar hingga raut wajah Mama malah terlihat muram dan sedih?" tanya Bagas pelan kepada sang Mama yang terlihat berubah tidak seperti biasanya.
Anita menggelengkan kepalanya kembali dnegan pelan.
"Tidak ada Bagas. kalau pun ada, saat ini bukan waktu yang tepat. Oke? Ekhem ... cantik mana Festi dan Kinan?" tanya Mama menggida Bagas.
"Festi? Perempuan itu not good, Ma. Feeling Bagas gak bagus tentang Festi. Kalau Kinan? Bagas itu memang suka deg degan kalau ketemu gadis itu. Tapi, baas tidak bisa mengintrol jantung Bagas. Jadi yang ada Kinan sellau kena marah oleh Bagas," ucap Bagas pelan menjelaskan ada perasaan aneh di hatinya.
"Oh ya? Itu namanya kamu sedang jatuh cinta, bagas," ucap Anita pelan.
"Ajeng? Bagas masih ingin melamar Ajeng," ucap Bagas tegas.
__ADS_1
"Coba lihat CV Kinan? Mama kok penasaran sama gadis ini," ucap Anita pelan.
"Ekhem ... Ada sebentar. Tadi, Pak Bambang kasih CV Kinan untuk Bagas," ucap Bagas pelan.
Bagas mencari CV yang ada di dalam tas laptop yang dibawanya tadi.
"Ini dia. Ini Ma, CV Kinan,' ucap Bagas pelan sambil memberikan satu lembar kertas print out berisi CV KInan.
Anita menatap lembaran kertas berisi data diri Kinan. Kedua matanya terbelalak dan membaca kemabli dengan betul.
"KINANTI RAHAJENG ... Yogyakarta ... Bagas ...." pnggil Anita dengan rasa terkejut.
'Ya MA? Kenapa?" tanya Bagas yang masih saja tidak paham.
"Ini Ajeng, Gas. Kinan itu AJeng, teman kecilmu di Yogya. NamanyaKinanati Rahajeng. Lihat alamat rumahnya sama, terus tahun kelahirannya pun sama, dan ini fotonya sama persis yang di pajang di figura saat Mama kesana waktu itu. Sebentar, Mama sempat foto figura yang ada foto Ajeng," ucap Anita pelan sambil membuka ponselnya dan mencari foto yan Anita maksud.
"Masa sih, Ma? Kinan ini AJeng?" tanya Bagas tak percaya. Bagas pun membaca kembali CV Kinan denga seksama pada bagian alamat Kinan.
Betul dan tepat. Alamat rumah Kinan memang sama persis dengan alamat Ajeng. Memang Bagas belum perah melihat Ajeng yang telah tumbuh dewasa. Kedua orang tuanya memang saling menutupi agar nantinya mereka dapat chemistrynya saat bertemu.
"Ini alamatnya sama persis. Jadi Kinan itu Ajeng, dan AJeng itu Kinan? Hanya nama panggilannya saja yang berbeda," ucap Bagas pelan.
Pantas saja, sejak pertama kali Kinan, Bagas merasa seperti sudah kenal lama. Parasnya yang ayu dan manis khas suku jawa, di tambah gaya bahasa yang ramah dan lembut, membuat Bagas semakin terpukau. Apalagi semnejak tadisiang, saat rapat yang di pimpin oleh Kinan sukses dan lancar, Bagas semakin kagum dengan kelebihan yang di miliki oleh Kinan. tapi, tadi Bagas menahn itu semua karena janjinya di dalam hati untuk melamar dan menikahi Ajeng.
"Lihat ini foto Ajeng, Bagas. Cantik kan? Saa kan, seperti Kinan, sekertarismu itu?" tanya Anita pelan sambil memberikan ponselnya kepada Bagas.
Bagas melihat dan menatap lekat foto - foto cantik bagai model itu. Kinan memang sangat cantik. Yang membuat beda hanya dandanannya saja. Di foto tersebut terlihat full mae up, dan yang sering Bagas lihat di kantor, Kinan terlihat natural dan alami. Namun tetap saja cantik. Banyak kaum adam yang kagum dan terpesona dengan kecantikan Kinan, terlebih tadi saaat selesai rapat. Banyak orang memuji kecantikan Kinan.
"Cantik ya, Ma? Kinan atau Ajeng ini benar - benar gadis idaman Bagas. Tapi, Bagas tidak mau membuka rahasia ini. Bagas ingin mendekati Kinan selayaknya lelaki sedang mendekati gadis untuk di pacari, biar terlihat lebih alami hubungannya," ucap Bagas dengan senyum yang begitu lebar.
__ADS_1
Anita hanya mengulum senyum dan mengangguk pelan tanda setuju dengan pemikiran Bagas.