Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.33


__ADS_3

Wajah Kinan menjauh.


"Maafkan Kinan, Pak?" ucap Kinan begitu lirih dengan tatapan keduanya yang saling menatap lekat satu sama lain.


Tubuhnya pun berdiri tegak dan berjalan ke arah dapur kembali. Jujur Kinan begitu gugup. Belum pernah Kinan mrasakan hal yang seperti ini. Begitu gugup dan kaku sekali. padahal ini bukan kali pertamanya Kinan dekat seorang laki - laki.


Pandangan Bagas pun mengekor Kinan dan menatap Kinan yang terlihat begitu gugup. Dalam hati Bagas, ingin tersenyum. Sering - sering saja kejdian begini yang membuat Kinan menjadi salah tingkah dan itu semua terlihat sangat lucu.


"Maaf untuk apa?" tanya Bagas santai sambil meneguk sisa kopi latte yang ada di cangkirnya. Seolah memang tidak apa - apa. Padahal hati keduanya tak menentu.


"Soal tadi barusan," ucap Kinan sambil berpura pura membuka snack yang tadi di beli dari toko belanja online untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Ekhemmm gak apa - apa. Di ulang juga tisak apa -apa. Saya gak keberatan sama sekali, malah saya senang" ucap Bagas pelan. Senyumnya sengaja di tahan untuk melihat wajah Kinan tersipu malu atau tidak.


Kinan langsung menatap tajam ke arah Bagas.


"Bapak mesum ya?" ucap Kinan dengan kesal.


"Mesum? Mesum dari mana?" tanya Bagas melotot tak terima dengan ucapan Kina yang terdengar asal menuduh itu.


"Itu sih kalau di ulang mau - mau saja?" ucap Kinan terdengar tak mau kalah berdebat.


"Memang kita melakukan apa?" tanya Bagas semakin tak terima.


Keduanya semakin seperti kuncng dan tikus, seperti dalam film kartum Tom and Jerry. Selalu damai dan selalu berantem mengikuti suasana hati.


Wajah Kinan memerah karen malu mendengar ucapan Bagas. Memang baru saja tak melakukan apa -apa. Hanya saja Kinan berpikiran yang tidak - tidak tentang Bagas karena keagumannya seolah Bagas pun menginginkan dirinya.


"Maaf Pak. Bapak gak pulang? Ini sudah malam?" tanya Kinan kemudian. Kinan sudah mulai capek. Dan sudah sepantasnya Bagas pulang karena ini tempat tinggal yang telah di sewa oleh Kinan.


"Kamu ngusir saya?" tanya Bagas melotot.


"Bukan gitu Pak. Ini sudah malam. Kan gak enak juga?" ucap Kinan pelan.


Bagas melihat ke arah jam tangan yang ada di pergelangan tangannya.


"Baru jam sembilan malam. Di Jakarta jam segini belum malam. Atau mau main ke rumah saya?" tanya Bagas dengan suara pelan.

__ADS_1


"Apa? Main. Ini sudah malam Pak. Kinan itu perempuan baik - baik. Jam segini itu bagusnya Kinan di rumah, bukan malah keluyuran. Kalau Bapak Kinan tahu, Kinan bisa di ceramahi tujuh hari tujuh malam tanpa henti," ucap Kinan sambil tertawa mengingat Bapaknya yang terlalu mewanti - wanti Kinan untuk mengingat kodratnya.


"Karena kamu perempun baik - baik, makanya saya mau ajak kamu ke rumah sya, bukan ke hotel. Kamu jangan berpikir saya orang yang tidak baik!!" ucap Bagas.


"Bukan maksud Kinan begitu Pak?" ucap Kinan sedikit tergagap.


"Bagaimana? Maksud kamu apa? Bicara seolah saya bukan orang baik? Kalau saya tidak baik, dari tadi saya sudah melakukan hal tidak senonoh sama kamu? Bener gak?" tanya Bagas kesal.


"Iya Pak. Maaf," jawab Kinan tidak enak hati.


Sejak tadi, Kinan malah mati kutu di buat Bagas. Kinan harus beberapa kali minta maaf untuk sebuah kesalah pahaman.


"Bisa gak sih jangan panggil saya Pak? Ini bukan di kantor? Ini di luar kantor? panggil yang agak romantis dikit gitu?" ucap Bagas pelan tanpa ekspresi.


"Hah? Panggilan yang romantis? Maksudnya?" tanya Kinan dengan sedikit bingung.


"Ya, jangan Pak. Panggil Mas atau panggil Yank?" ucap Bagas menatap lekat Kinan.


"Hah? Mas? Masih bisa di terima. Kalau Yank? Memangnya kita ada hubungan?" tanya Kinan yang terlalu bersemangat bertanya. Ia gugup bila harus memanggil Yank.


"Gak ada. Bisa - bisa Kinan di bully di kantor. Lagi pula hubungan Kinan dan Bapak kan hanya hubungan kerja, bukan hubungan yang lain," ucap Kinan yang tak mau kalah berdebat.


"Iya Yank. Gimana Ayank ya," ucapBagas terkekeh.


"Bapaaakkkk ....." teriak Kinan kesal.


"Apa Yank?" jawab Bagas semakin terkekeh senang menggoda Kinan.


"Jangan gitu Pak. Bapak gak tahu ya, di kantor banyak yang naksir Bapak?" ucap Kinan dengan sedikit kesal.


"Suka sama saya?" tanya Bagas pura - pura bodoh.


Kinan mengangguk kecil.


"Iya Pak. Memang Bapak gak tahu?" tanya Kinan pelan.


"Gak mau tahu juga. Terus kamu cemburu?" tanya Bagas menatap tajam dua bola mata indah Kinan.

__ADS_1


Keduanya masih duduk saling berhadapan di meja makan.


Karena pertanyaan aneh itu membuat Kinan semakin gugup sendiri. senjata makan tuan. Niatnya menggoda Bagas malah Kinan sendiri yang gugup karena pertanyaannya menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.


"Gak Pak. Kinan gak cemburu sama sekali. Kinan malah memberi tahu Bapak kan?" ucap Kinan pelan.


Bagas menganguk - anggukan kepalanya pelan.


"Ya. tapi pertanyaanmu seolah - olah kamu tidak terima, Kinan. kalau semua perempuan single di kantor menyukai saya. Saya kan tidak bisa memaksa merea untuk tidak menyukai saya. Tapi saya bisa memilih kepada siapa hati saya akan say labuhkan, dan itu kepada kamu, Kinan," ucap Bagas dengan pelan dan santai.


"Apa?" tanya Kinan melotot seolah tak percaya dengan ucapan Bagas.


"Kenapa? Ada yang salah dengan ucapan saya?" tanya Bagas tenang.


"Tadi Bapak bicara apa? Soal hati?" tanya Kinan pelan masih tidak percaya.


"Iya. Soal hati. kenapa?" tanya Bagas kemudian dengan sangat pelan.


"Gak apa -apa sih. Cuma ...." ucapan Kinan terhenti sejenak. Kepalanya saat ini berputar cepat tak bisa berpikir dnegan cerdas, jika terus begini.


"Cuma apa? Kaget sama pernyataan saya?" tanya Bagas pelan.


Kinan hanya mengangguk pelan.


"Saya kagum sama kamu, Kinan? Apa itu salah?" tanya Bagas mentap tajan Kinan yang semakin salah tingkah.


"Gk salah Pak," ucap Kinan pelan.


"Saya suka sama kamu, apa perasaan saya salah?" tanya Bagas kemudian dengan tatapan yang masih lekat pada bola mata Kinan. Kinan cukup terkejut dengan ucapan Bagas yang begitu tenang mengalir dari bibirnya tanpa ada kebohongan, terlihat jujur dan tulus.


Kedua mata Kinan hanya mnegerjap indah. Ia tidak tahu harus menjawab bagaimana. Saat ini, Kinan benar - benar bingung. Ia memang kagum dengan sosok Bagas, Direktur muda yang tampan itu. tapi, bukan berarti ia mau di jadikan seseorang yang berarti bagi Bagas kan? Ini malah bisa merusak hubungan kerjanya nanti. tentu masalah hati dan pekerjaan itu kan berbeda.


"Kenapa kamu diam, Kinan? Kamu tidak mau menjawab, Kinan?" tanya Bagas penasaran.


Bagas berharap apa yang di inginkan saat ini bisa di terima oleh Kinan.


Kinan hanya menggelengkan kepalanya pelan. tak tahu harus menjawab apa? Dan tak tahu harus bersikap apa?

__ADS_1


__ADS_2