Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.55


__ADS_3

Bagas sudah melajukan mobilnya menuju restaurant favoritnya selama ini. Tidak ada yang tahu, Bagas sering ke restaurant ini jika sedang ingin menyendiri. Bahkan mantan pacarnya dulu tak pernah bisa menemukan Bagas jika Bagas menghilang begitu saja dan mematikan ponselnya sebagai bentuk penghilangan dirinya.


Keduanya saling diam dan tak ada yang membuka pembicaraan. Kinan yang sejak tadi duduk dengan sedikit tegang menatap ke arah jendlan sebelah kiri dengan pandangan ke arah luar jendela kaca mobil milik Bagas. Sedangkan Bagas begitu fokus menyetir dan sesekali melirik ke arah Kinan yang diam saja.


"Kenapa diam saja. Kayak lagi sakit gigi aja," ucap Bagas sekenanya.


Kinan menegakkan duduknya dan melirik sekilas ke arah Bagas.


"Kita mau kemana sih, Pak," tanya Kinan bingung.


"Menurut kamu? Kita mau kemana?" tanya Bagas kembali bertanya pada Kinan.


"Makan siang kan," jawab Kinan ragu. Karena Kinan merasa perjalanan siang ini terasa lama sekali.


"Cakep. Itu tandanya kamu menyimak ucapan saya tadi dengan baik," ucap Bagas pada Kinan.

__ADS_1


"Ya nyimak lah. Secara Pak Bagas kan, bos Kinan. Direktir perusahaan terbesar di kota ini, masa iya ucapannya gak di simak sih. Memang Kinan mau cari mati," ucap Kinan sekenanya.


Bagas kembali diam. Kalau Kinan mulai bawel, lebih baik Bagas diam dan tak menimpali. Percuma juga, nanti Kinan selalu ada bahan untuk memperdebatkan.


Tak berselang lama, mobil Bagas langsung masuk ke dalam halaman restaurant dan masuk ke dalam parkiran privat. Di sana tempat mobil mewah parkir dan tidak ada yang mengetahui keberadaan mereka. Mereka juga masuk dari pintu masuk khusus dengan tempat makan terbuka yang pemandangannya begitu indah. Ada pantai buatan yang sangat indah.


Bagas nampak biasa saja dan langsung menggandeng tangan Kinan menuju tempat khusus yang ternyata sudah di pesan oleh Bagas sebelumnya.


Bagas membawa Kinan berjalan menyeberangi pantai buatan dengan jembatan kecil dan di lanjutkan dengan kapal yang akan mengantarkan mereka sampai pulau buatan kecil yang sangat indah sekali. Tempat itu begitu nyaman dan sangat romantis.


"Bagus kan? Sampai melongo gitu. Jangan kayak orang udik," ucap Bagas menasehati dengan berbisisk tepat di telinga Kinan.


Tubuh Kinan yang berdiri tegak dan menempel pada tubuh Bagas pun langsung bergetar dan meremang begitu hebat. Geli sekali, hembusan napas Bagas mengenai tepat di bagian sensitif dekat kuping Kinan.


"Hufff ... Bikin merinding aja Pak," jawab Kinan ikut berbisik.

__ADS_1


"Sama calon istri kan gak apa -apa," ucap bagas menegaskan dan mngulum senyum. Mungkin kalau tidak di depan orang, Kinan sudah di cium di bagian pipinya.


Kinan memutar dua bola matanya dengan malas. Kalau denger Bagas mulai lebay dan pandai merayu Kinan.


Bagas membantu Kinan turun dari kapal kecil itu dan berjalan menuju ke dalam pulau kecil buatan itu.


"Tempatnya bagus gak?" tanya Bagas pada Kinan.


"Bagus banget. Ternyata di dalam kota besar yang penuh dengan polusi udara masih ada tempat indah dan sejuk serta udaranya segar seperti di pantai betulan ya," ucap Kinan begitu takjub dengan tempat yang sungguh unik ini.


"Kamu suka tempatnya, Kinan?" tanay Bagas kembali.


"Suka banget dong. Ini keren Pak," jawab Kinan penuh semangat dan antusias. kedua matanya masih memandang ke segala arah menikmati indahnya panorama yang sungguh mempesona dan memukau.


"Kalau begitu kita nikah di tempat ini. Secepatnya saya akan melamar kamu dan membawa kedua orang tua kamu kesini, lalu kita menikah. Seteelah ini, kita lihat rumah baru yang sudah saya persiapkan untuk kamu, Kinan," ucap Bagas serius tanpa ada nada bercanda.

__ADS_1


__ADS_2