
"Dinda, kenapa kamu ada di sini?" tanya Rehan setengah terkejut kala itu.
"Aku mengganggu mu ya Mas? Aku ingin bicara serius padamu," ucap Dinda mengulas senyum.
"Bicara, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Rehan dengan suara dingin.
Belum saja menjelaskan, Intan sudah datang menghampiri Rehan dan bergelayutan di lengannya, dengan senyum terpaksa Intan menyapa Dinda.
"Dinda, jangan lupa. Malam ini Mas Rehan sudah sah menjadi suamiku, jadi kamu tidak bisa membawanya sekarang dariku, karena ini adalah malam ku bersama Mas Rehan," ucap Intan dengan penuh percaya diri mengatakan hal itu.
"Terserah, memang Mas Rehan sekarang adalah milik mu, tapi aku ingin sekali bicara sesuatu pada suami mu ini, dan aku ingin bicara berdua saja, ini cukup penting," sahut Dinda yang tidak langsung mengatakan niatnya.
"Kenapa harus bicara berdua? Kenapa tidak bicara saja di sini, sampaikan maksud kedatangan mu," celetuk Intan tidak terima.
"Maaf Intan, kau jangan memaksaku, setelah ini aku akan pastikan kalau aku tidak akan lagi meminta waktu pada suamimu." jelas Dinda yang masih berusaha untuk meminta Intan mengizinkan dirinya.
Karena merasa penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Dinda, akhirnya Rehan pun menyetujui permintaan Dinda. Ia akan pergi bersama Dinda malam itu, dan melupakan malam pertama yang dinantikan oleh Intan selama ini.
Wajah Intan terlihat tidak setuju ketika Rehan meminta izin padanya, namun karena Rehan sudah memutuskan hal tersebut akhirnya Intan pun mau tidak mau harus menerimanya.
Rehan pergi bersama Dinda di sebuah kafe yang sudah cukup sepi, saat itu Rehan berhadapan dengan Dinda yang terlihat menatapnya dengan serius.
__ADS_1
"Dinda, ayo katakan apa yang mau kamu bicarakan di sini," ucap Rehan yang saat itu sudah tidak sabar.
"Ya Mas, memang aku juga tidak ingin menundanya lagi, di sini aku meminta sedikit waktu mu untuk mendengar apa yang akan aku katakan. Mas, selama ini kamu selalu menungguku untuk meminta talak dirimu, tapi aku masih memperjuangkan pernikahan kita. Tapi, sampai di titik ini, aku sama sekali tidak pernah mendapatkan keberhasilan itu, bahkan hari ini kamu sudah menyelenggarakan pernikahan bersama wanita kedua dalam hidup mu. Di sini aku sadar Mas, kalau harapan ku untuk memperjuangkan pernikahan kita sia-sia, untuk itu aku mengajakmu ke sini, karena aku ingin meminta talak darimu."
Dengan mata berbinar dan tangan gemetar, Dinda akhirnya menyampaikan apa yang selama ini ia tahan, dengan harapan bahwa pernikahannya tidak akan berakhir di perpisahan. Namun semua sudah terlanjur, hatinya sangat hancur karena Rehan akhirnya menikahi Intan dan menjadikan Dinda sebagai wanita kedua dalam hidupnya.
Sementara Rehan yang kala itu mendengar permintaan dari Dinda, terdiam cukup lama. Permintaan itu yang selalu diajukan oleh Rehan ketika Dinda mengekang perselingkuhannya dengan Intan, namun saat Dinda benar-benar meminta perpisahan. Entah mengapa perasaan Rehan terasa lain, namun Rehan tidak mungkin mengatakan kebenarannya pada Dinda.
"Bagus Dinda, memang tidak ada yang bisa kita perjuangkan dalam pernikahan kita ini, sebab itulah aku dari dulu selalu meminta mu untuk berpisah dariku, karena di antara kita memang tidak ada kecocokan apalagi untuk mengarungi bahtera rumah tangga," ucap Rehan pada saat itu.
"Ya, mungkin kamu benar. Sebab itulah aku meminta talak padamu, tapi Mas, aku harap kamu tetap tidak memotong jatah bulanan untuk Arka, meskipun nanti aku bukan lagi istri yang wajib kau nafkahi, tapi Arka tetap lah putramu yang tidak akan pernah menjadi mantan anakmu," seru Dinda.
"Ya, kamu jangan khawatir, aku tidak akan melupakan kewajiban ku sebagai seorang ayah, hartaku cukup banyak Dinda, dan aku tidak akan melupakan Arka meskipun sebenarnya aku tidak menyukai kehadirannya," sahut Rehan dengan suara tertahan.
Dengan sekuat hati, Dinda berusaha untuk tidak menangis di hadapan Rahan, keputusan yang telah ia pilih adalah keputusan yang sudah tepat, dan ia tidak mau jika sampai menangisi keputusan yang sudah menjadi keputusannya.
Setelah membicarakan semuanya Dinda pun memutuskan untuk berpamitan, Dinda tidak mau berlama-lama bersama Rehan kala itu, dan saat Dinda memutuskan untuk pamit, Rehan sempat menawarkan diri untuk mengantar Dinda pulang, namun Dinda menolak dengan alasan tidak mau mengganggu malam pertama Rehan bersama dengan Intan. Dan saat itu Dinda memutuskan untuk pergi berlalu meninggalkan Rehan yang juga memutuskan untuk pulang saat itu.
Sementara di tempat lain, Intan menunggu dengan gelisah di rumah, ia merasa kesal karena sampai saat ini suaminya itu belum juga pulang. Pikiran Intan pun tak karuan saat membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Rehan dan Dinda saat itu, apalagi mereka pergi hanya berdua saja.
"Astaga, kenapa aku membiarkan Dinda pergi bersama Mas Rehan, dan mereka hanya berdua saja, bagaimana kalau malam ini di isi dengan Dinda, bagaimana kalau Mas Rahan sudah tidak lagi menginginkan malam pertama dengan ku."
__ADS_1
Intan terus berpikir hingga ia merasa sangat pusing, rasa gelisah nya semakin bertambah parah hingga membuat kepalanya terasa sakit.
Tok! Tok! Tok! Intan terkejut, saat itu ia mendengar suara ketukan pintu, tak menunggu waktu lama Intan pun membukakan pintu tersebut lalu ia melihat Rahan di balik pintu rumahnya.
"Mas, akhirnya kamu pulang juga, ya ampun aku hampir gila memikirkan kamu, Mas!" marah Intan yang saat itu langsung membawa Rehan masuk.
"Maaf sayang, tadi Dinda bicara serius makanya aku harus menanggapinya dengan serius juga," ucap Rehan yang tidak membalas kekesalan Intan.
"Sepenting apa si Mas, seserius apa?" tanya Intan penasaran.
Rehan pun meminta Intan duduk bersamanya lalu ia menjelaskan apa yang disampaikan oleh Dinda saat itu, mendengar penjelasan dari Rehan, tentu sama membuat hati Intan merasa sangat senang, ia tidak menyangka jika ternyata Dinda akhirnya menerima kekalahan yang sudah lama ia nantikan.
"Mas, kamu nggak lagi bohongin aku, kan?" Intan menatap Rehan dengan penuh selidik.
"Untuk apa aku bohong sayang, aku serius. Dinda meminta ku untuk menalaknya, dan aku akan mengurus perpisahan ku dengan Dinda secepatnya,'' ucap Rehan melempar senyum.
"Aaaa, aku seneng banget Mas dengernya, aku pikir tadi kamu melupakan malam kita, dan kamu asik sama Dinda," seru Intan yang sebelumnya berpikir buruk pada Rehan.
"Ya ampun sayang, tidak ada yang bisa merusak malam kita. Jangan cemaskan ini, sekarang aku justeru merasa lebih bersemangat untuk menyambut malam ini, karena ada kabar bahagia yang aku dapatkan sayang." Rehan mengulas senyum lalu dengan cepat ia menggendong Intan masuk ke dalam.
Intan pun pasrah ketika Rehan membawanya masuk untuk menghabiskan malam ini bersama, setelah penantian panjang dan penuh perjuangkan. Kini Intan dapat memiliki Rehan seutuhnya, ia juga berhasil mengusir Dinda meskipun secara perlahan.
__ADS_1
Gelak tawa di dalam kamar pun terdengar kedua pasangan itu terlihat begitu menikmati kebersamaan yang mereka lalui dengan bahagia.