Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
53


__ADS_3

"Dinda, aku mencintaimu," ucap Pandu dengan tulus ketika keduanya sudah sampai pada ******* mereka masing-masing.


"Terima kasih banyak Mas, aku juga mencintaimu, maafkan aku," lirih Dinda mengucapkan kalimat itu.


"Maaf? Untuk apa?" tanya Pandu bingung.


"Maaf karena aku tidak memberikan hak mu sehari setelah ijab qobul, kau harus menunggu beberapa hari kemudian baru mendapatkan hak mu. Untuk itulah aku meminta maaf." jelas Dinda merasa bersalah.


Pandu melempar senyum, ia tidak menyangka jika istrinya itu begitu memperhatikan dirinya, andai saja tidak terjadi insiden hilangnya Arka, mungkin Dinda sudah siap sebelumnya dalam menyerahkan dirinya pada Pandu saat itu.


Pandu sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut. Bahkan ia tidak ingin Dinda dipenuhi rasa bersalah, untuk malam ini saja ia sudah sangat bersyukur sekali, karena Dinda telah memberikan yang terbaik untuk nya malam ini, meskipun berjarak beberapa hari, namun Pandu merasa sangat bahagia saat itu.


Tak ingin membuat Dinda terlalu lelah, dengan terus mengajaknya mengobral, Pandu pun memutuskan untuk mengajak Dinda tidur, Dinda pun tidak menolaknya saat itu, karena ia sudah mengutarakan isi hatinya pada Pandu, ia pun bisa istirahat dengan tenang di dalam pelukan Pandu.


Pagi-pagi sekali, bi Iyas mendengar suara bel berbunyi sampai berkali-kali, bi Iyas yang sedang menyiapkan sarapan pagi itu merasa sangat terganggu, dan ia pun harus meninggalkan semua pekerjaan nya untuk membuka pintu.


Betapa terkejut dan kesalnya bi Iyas saat ia tahu bahwa yang datang adalah Rehan, saat itu bi Iyas buru-buru membuka pintu untuk melabrak mantan majikannya itu.


"Apa tidak ada jam lain selain jam segini Den Rehan, datang dengan memencet bel beberapa kali seperti ini, mencari keributan, ada apa?" omel bi Iyas yang terlihat sangat marah kala itu.


"Iyas, tolong jangan marah-marah. Aku seperti ini karena aku ingin bertemu dengan Arka, dan di mana sekarang Arka, tolong beritahu dia kalau ayahnya datang," ucap Rehan yang mengharapkan kebaikan dari bi Iyas.

__ADS_1


"Apa, maaf ya Den, saya tidak akan mengizinkan Aden Rehan bertemu dengan den Arka, saya tidak mau sampai terjadi sesuatu pada den Arka lagi, jadi mending sekarang Aden Rehan pergi saja dari sini," usir bi Iyas yang tidak membuka hati pada Rehan.


"Iyas, tolong jangan seperti ini, aku ini ayahnya Arka, dan kamu jangan lupa itu!" sergah Rehan yang menatap kesal karena bi Iyas menolak kehadiran nya.


"Tentu saja saya tidak lupa Den, tapi Aden juga jangan lupa, kalau selama ini Aden sama sekali tidak mengharapkan kehadiran den Arka, jadi untuk apa Den Rehan mencari den Arka sekarang." jawab bi Iyas membalas tatapan kekesalan Rehan.


Saat itu Rehan terdiam, ia nampak memendam kemarahan pada bi Iyas yang sama sekali tidak membukakan pintu untuknya, bahkan tidak memberikan izin dari bi Iyas untuk bertemu dengan Arka.


Untuk itulah Rehan memutuskan masuk begitu saja ke dalam demi bisa bertemu dengan Arka, saat itu bi Iyas berusaha menghalangi aksi nekat Rehan, namun bi Iyas tidak bisa mencegah Rehan sendiri, Rehan berteriak-teriak memanggil Arka di dalam rumah Dinda.


Namun Rahan masih belum menemukan Arka lantaran Arka berada di lantai atas, dan saat mendengar ada suara yang memanggil namanya, membuat Arka merasa takut. Ia memutuskan untuk berlari menuju kamar Dinda, ia mengetuk beberapa kali sampai akhirnya ketukan itu disadari oleh Dinda dan juga Pandu yang baru saja terbangun.


"Mas, suara Arka," ucap Dinda menatap Pandu.


"Entah lah Mas, aku sendiri nggak tahu, sebentar ya, aku buka dulu." jawab Dinda yang langsung bangkit dari tempat duduknya.


Pandu pun ikut bangkit dan menyusul Dinda dari belakang, saat pintu kamar itu terbuka, Dinda dan Pandu pun akhirnya sadar, bahwa ada keributan di lantai bawah, dan menyadari juga bahwa Arka saat itu sedang ketakutan.


"Ma, ada seseorang yang memanggil namaku, dan aku merasa sangat takut," ucap Arka mengutarakan rasa takutnya.


"Iya sayang, jangan takut ya, ada Mama dan Papa Pandu di sini." jawab Dinda mencoba untuk menenangkan Arka.

__ADS_1


Pandu menggendong Arka turun ke lantai bawah, dan saat itu ia menyadari bahwa Rehan lah yang telah membuat keributan di dalam rumahnya. Hal itu membuat Dinda merasa sangat marah ketika menatap wajah Rehan.


Sementara Rehan sendiri justru seperti orang yang tidak merasa bersalah sama sekali, ketika ia telah membuat keributan di dalam rumah Dinda, ia justru tersenyum menyapa Arka yang saat itu berada dalam gendongan Pandu.


"Arka sayang, sini sama Ayah Nak, Ayah rindu," ucap Rehan yang ingin meraih Arka dari dekapan Pandu.


"Setelah apa yang kamu lakukan kemarin, kamu masih berani datang ke rumah ku dan membuat keributan, Mas! Sebenernya apa si mau kamu, ha!" maki Dinda yang tidak terima saat menatap wajah Rehan.


"Dinda, aku ke sini hanya ingin bertemu dengan putraku, tolong jangan halangi aku seperti ini," pinta Rehan yang dengan berkaca-kaca ia menatap wajah Arka.


"Apa kamu pikir dengan datang membawa keributan seperti ini, kamu tidak melukai mental putraku, perlu kamu ketahui kalau Arka sangat takut dengan suara-suara sensitif, dan sekarang kamu datang dengan berteriak-teriak seperti ini. Lebih baik kamu pergi dari sini Mas, pergi." usir Dinda yang tidak menerima kehadiran Rehan.


Rehan sama sekali tidak mengindahkan ucapan Dinda yang mengusir dirinya, ia justru fokus membujuk Arka dan memintanya turun dari gendongan Pandu. Hal itu membuat Pandu marah, ia tidak suka dengan cara Rehan yang begitu memaksa, hingga ia harus bertindak tegas saat itu.


Di hadapan Arka, Pandu mengusir Rehan dan membawanya keluar dari ruang tamu. Karena Pandu merasa percuma berbicara pada orang yang sama sekali tidak mau mendengarkan itu.


Rehan menarik kerah kemeja Pandu, ia merasa sangat marah kala itu pada Pandu. Lantaran sikap Pandu yang tiba-tiba mengusir dirinya tanpa mau mendengarkan isi hatinya.


"Kau jangan melewati batas mu Pandu, kau ini adalah ayah sambung, hanya ayah sambung, kau tidak berhak atas putraku, Arka!" maki Rehan menatap penuh kemarahan.


"Benar, apa yang kau katakan sangat benar sekali Rehan, aku hanya lah ayah sambung Arka, tapi aku tidak pernah memaksanya untuk mengakui bahwa aku ini papanya. Aku hanya menanamkan rasa sayang padanya, tidak seperti dirimu yang datang membuat keributan, memaksa Arka untuk langsung menerima mu setelah kau sia-siakan dia, lalu sekarang kamu menyebut bahwa kamu adalah ayahnya Arka, tidak tahu diri," sergah Pandu kesal, ia membalas tatapan kemarahan Rehan kala itu.

__ADS_1


"Kurang aja!! Bug..."


Rehan dengan cepat menghantam pipi kanan Pandu dengan tangan kanannya, ia tidak terima ketika Pandu berbicara kebenaran padanya. Sementara Pandu sendiri yang mendapatkan pukulan dari Rehan hanya melempar senyum menanggapi sikap Rehan, namun tidak dengan Dinda yang menyaksikan kejadian tersebut, Dinda dengan cepat menghampiri mereka berdua dan memberikan sebuah tamparan kasar pada Rehan.


__ADS_2