
"Intan, kamu yang sabar ya, semoga masalah rumah tangga kamu bisa segera teratasi," ucap Pandu mencoba untuk menghibur Intan.
"Masalah ini akan berakhir jika aku dan Mas Rehan berpisah Mas," lirih Intan menyeka air matanya.
"Maksud kamu?" Pandu melotot menatap Intan, ia tidak menyangka jika ternyata Intan berbicara demikian.
"Aku nggak sanggup kayak gini terus Mas, aku bisa gila kalau terus-terusan sama Mas Rehan." keluh Intan kembali menangis.
Pandu menyodorkan tissue pada Intan, ia tidak tega melihat air mata Intan yang kembali tumpah. Dan di saat bersamaan, Dinda datang ke kafe tersebut bersama dengan Wulan, Wulan lah yang mengajak Dinda pergi untuk minum kopi bersama, Dinda tidak sengaja menangkap pemandangan yang cukup mengejutkan baginya itu.
Langkah kaki Dinda terhenti, dan disadari oleh Wulan yang tiba-tiba melihat Dinda mematung di tempat, saat Wulan menyusuri tatapan mata Dinda yang mengarah pada sebuah meja, akhirnya Wulan pun menyadari siapa yang saat ini sedang diperhatikan oleh Dinda.
"Astaga, itu Pandu sama Intan!" Wulan tiba-tiba memasang wajah marah, ketika ia melihat apa yang terjadi.
Wulan saat itu tidak bisa diam saja, ia harus bertindak tegas karena Dinda sendiri lah yang melihat pemandangan tersebut, Dinda ingin sekali melarang, namun langkah kaki Wulan begitu cepat sampai di meja Pandu bersama dengan Intan, Wulan menghentakkan meja tersebut dengan tangannya hingga membuat Pandu dan Intan terkejut. Di tambah lagi dengan kedatangan Dinda, yang saat itu seketika membuat Pandu bangkit dari tempat duduknya.
"Apa-apaan ini? Pandu, bisa kamu jelasin semua ini?" Wulan dengan cepat melemparkan pertanyaan saat berhadapan dengan Pandu.
"Ya, tentu saja aku bisa menjelaskannya, aku akan menjelaskan semuanya Wulan, sama kamu dan juga Dinda," ucap Pandu yang masih terlihat santai saat itu.
"Ya, tentu harus kamu jelaskan, dan sekarang tolong jelaskan semuanya dengan sejelas-jelasanya. Aku mau denger semuanya dari kamu," seru Wulan menunggu.
"Kamu kenapa si, kenapa harus datang di saat aku dan Mas Pandu lagi ngobrol, dan kenapa harus gebrak meja kayak tadi, apa kamu nggak punya sopan santun, ha!" omel Intan terpancing emosi saat itu.
__ADS_1
Mendengar Intan yang justru memprotes kedatangan dan sikapnya, tentu saja membuat Wulan terbakar api kemarahan, karena berhak atas Pandu sebagai sahabat dan juga kekasih dari sahabat nya membuat Wulan begitu berani melawan Intan, sampai membuat Intan bungkam.
Wulan memberikan penjabaran pada Intan bahwa dialah yang berhak marah, bukan lah Intan. Karena jika hal itu diteruskan maka Dinda akan salah paham dengan kebersamaan meraka, melihat Wulan yang begitu terlihat emosi membuat Dinda mencoba untuk melerai, ia tidak enak jika sampai banyak mata dan telinga yang mendengar dan melihat cekcok antara Wulan dan Intan saat itu.
"Wulan, udah lah, jangan kayak gini, malu tahu nggak," ucap Dinda yang mencoba menahan Wulan untuk membalas ucapan kasar Intan.
"Tapi dia yang nggak tahu diri Dinda, dia yang nyolot tahu nggak," seru Wulan tidak terima.
"Gimana nggak nyolot, harusnya memang kalian berdua itu nggak ada di sini," sinis Intan menatap Wulan dan Dinda.
"Intan, maaf jika kedatangan sahabat saya ini mengganggu pembicaraan kamu bersama dengan Mas Pandu, sekarang saya akan membawa sahabat saya ini pergi dan kamu bisa lanjutkan obrolan kamu lagi bersama dengan Mas Pandu." jawab Dinda melempar senyum tipis.
Saat itu Dinda menarik lengan Wulan dan membawanya pergi, Wulan terkejut saat itu, melihat sikap Dinda yang langsung membawanya pergi. Begitu juga dengan Pandu yang tidak menyangka jika Dinda tidak menunjukkan sikap cemburu dan marahnya pada Intan, hingga membuat dirinya memutuskan untuk mengejar Dinda dan meninggalkan Intan.
"Loh Mas, kamu mau ke mana? Kita belum selesai ngobrol nya," seru Intan yang mencoba menahan Pandu.
"Maaf Intan, tapi aku harus mengejar Dinda dulu." jawab Pandu yang menolak Intan, saat Intan menahan lengan Pandu.
Saat itu Pandu dengan cepat mengejar Dinda yang membawa Wulan pergi, Dinda mengajak Wulan menyebrangi jalanan karena ia ingin mengajak Wulan minum kopi di kafe yang berada di sebrang jalan, saat itu Pandu pun menyusul Dinda bersama dengan Wulan.
"Dinda!"
Suara yang cukup di kenal, terdengar di telinga Dinda, langkah kakinya pun terhenti dan Wulan pun ikut mematung bersama dengan Dinda. Saat itu Wulan menyadari bahwa sahabatnya sedang mengejar Dinda dan lebih memilih Dinda daripada tetap duduk bersama dengan Intan.
__ADS_1
"Din, itu adalah Pandu, tolong jangan marah padanya, dengarkan penjelasan darinya," bisik Wulan sebelum Pandu tiba di dekatnya.
"Ya, aku tahu itu, jangan khawatir. Aku sangat mengenal Intan," ucap Dinda yang percaya penuh pada Pandu.
"Bagus, kalau begitu aku harus pergi dulu, aku nggak mau ganggu kalian berdua." jawab Wulan yang melepaskan tangan Dinda, lalu setelah itu ia pergi.
Sebelum tiba di kafe tersebut, Dinda menoleh ke belakang dan akhirnya ia bertatapan dengan Pandu yang berjarak beberapa langkah darinya, saat itu Dinda masih berusaha menunjukkan sikap santainya, bahkan ia sama sekali tidak terlihat marah pada Pandu saat itu.
Dengan rasa bersalah, Pandu mendekati Dinda dan dengan cepat ia menggenggam kedua tangan Dinda sebagai permintaan maaf darinya, saat itu Dengan memperhatikan tatapan mata Pandu, meskipun Pandu belum berbicara namun Dinda dapat membaca bahwa Pandu ingin sekali menjelaskan apa yang saat itu ingin sekali ia sampaikan.
"Dinda, aku mohon tolong maafkan aku, ini tidak seperti yang kamu dan Wulan duga, aku sama sekali tidak sengaja bertemu dengan Intan, tadi aku__" Pandu terdiam ketika tiba-tiba jari telunjuk Dinda berada di tengah-tengah bibir nya.
"Tidak perlu bicara panjang lebar dan menjelaskan sesuatu yang akan membuat aku bingung untuk menerimanya Mas, aku percaya kok sama kamu," ucap Dinda tanpa mau mendengar dulu penjelasan dari Pandu.
"Tapi Din, kamu belum mendengar penjelasan aku, kamu belum mendengar ceritaku," seru Pandu menatap Dinda dengan rasa bersalah.
"Tidak perlu Mas, saat aku menerima kamu menjadi kekasih ku, saat itu lah aku berikan semua kepercayaan ku sama kamu, dan aku rasa aku tidak perlu lagi menjelaskan siapa Intan sama kamu Mas, jadi aku rasa kamu udah paham bagaimana kamu harus bersikap sama Intan." jawab Dinda dengan simpel.
Dinda tersenyum saat itu, Pandu tercengang, begitu kah cara Dinda mencintai seseorang, bagaimana mungkin Dinda tidak menunjukkan rasa cemburu atau marah ketika melihat sendiri bahwa kekasihnya itu sedang bersama dengan wanita lain. Namun sikap Dinda yang seperti itu justru membuat Pandu harus berhati-hati, agar jangan sampai Dinda terluka dengan perbuatan nya yang yang terlewat batas.
Saat itu Dinda justru mengajak Pandu pulang, ia tahu bahwa Pandu sudah menikmati secangkir kopi dan makanan bersama Intan, tentu saja akan sangat menyiksa jika Dinda mengajaknya masuk ke kafe tersebut.
Sementara Wulan yang melihat sikap Dinda yang begitu dewasa, membuat nya sangat kagum, ia benar-benar tidak akan membiarkan siapa pun merebut Pandu dari Dinda, apalagi jika itu adalah Intan.
__ADS_1