
Keesokan paginya, Rahan terbangun dari tidurnya, beberapa hari ini ia harus bekerja keras intuk toko dan usahanya, sejak menikah dengan Intan, kebutuhan yang dikeluarkan semakin hari semakin banyak, hingga memaksa Rehan untuk kembali bekerja keras agar kebutuhan rumah tangganya bisa terpenuhi.
Pagi ini Rehan ingin segera mandi, ia membuka pintu kamarnya namun ternyata pintu itu terkunci dari dalam, beberapa kali Rehan mengetuk pintu dan berharap bahwa Intan akan segera membukakannya, namun Rehan tak mendapatkan jawaban.
"Intan, buka dong pintunya, aku mau mandi nih!"
Rehan berteriak memanggil nama Intan dari luar kamar, berhadapan bahwa Intan membukakan pintu. Namun beberapa kali saja ia mengetuk pintu, Intan sama sekali tidak membukakan pintu.
Sampai akhirnya Intan pun mendengar suara suaminya, ia bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu.
"Ada apa si Mas, kenapa kamu berisik banget pagi-pagi," protes Intan yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya.
"Intan, aku ingin sekali mandi, kenapa pintu kamarnya kamu kunci," protes Rehan kesal.
"Kamar mandi nggak hanya satu ya, kenapa kamu repot banget si, ya udah masuk sana." cetus Intan pada Rehan.
Rehan pun dengan hati tidak suka ia harus masuk dan segera membersihkan diri, saat ia keluar dari kamar ia melihat Intan yang sedang mengisi roti tawarin HP dan dengan selai di meja makan, saat itu Intan terlihat sangat sangatlah santai, duduk seperti orang yang tanpa beban, Rehan menghampiri meja makan dan meminta roti pada Intan, Intan masih melayani Rehan dengan sarapan roti, selama menikah Intan bahkan tidak membuat sarapan pagi untuk suaminya.
"Mas, nanti aku minta uang ya, buat pergi ke salon, ada salon yang lagi viral, dan aku sama temen-temen pengen ke sana," ucap Intan dengan mudahnya.
"Apa, uang lagi? Intan, beberapa hari yang lalu aku udah memberikan kamu uang 10 juta, sekarang kamu minta lagi," Rehan menatap serius ke arah Intan.
__ADS_1
"Mas, 10 juta itu hanya cukup buat aku ke mall aja, aku butuh uang buat ke salon yang lagi viral, udah pasti itu mahal, ayolah Mas, jangan pelit-pelit sama istri sendiri, nanti rezeki kamu sempit." celetuk Intan yang kala itu mendoakan yang tidak baik pada suaminya.
Rehan melotot tajam ke arah Intan, ia tidak suka sekali ketika mendengar ucapan istrinya itu, hingga membuatnya terpaksa harus menuruti permintaan Intan.
"Oke baik lah, akan memberikan mu uang, tapi jangan doakan rezeki suamimu seperti itu Intan, kau tahu? Selama aku menikah dengan mu, aku harus bekerja lebih keras lagi untuk menyetabilkan ekonomi kita, karena selama ini pengeluaran dan pemasukan itu imbang berat, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menghentikan dirimu," ucap Rehan yang mengeluhkan sikap boros Intan.
"Mas, aku kan udah bilang si sama kamu, kalau tugas memberi nafkah itu adalah kewajiban kamu, terus kenapa si kamu protes sekarang, apa janji kamu coba selama ini?" tegas Intan yang tidak mau mengakui bahwa dirinya itu memang sangat boros.
"Intan, coba dengarkan aku dulu, memang benar, memberikan nafkah itu adalah tugasku sebagai suami, tapi apa kamu tidak bisa menjadi istri yang tidak hanya menghabiskan uang suami, harusnya kamu juga menghemat agar kita bisa selalu berada di titik ini, jangan terlalu boros lagi Intan, karena sesuatu hal buruk akan terjadi jika gaya hidup mu seperti ini." jelas Rehan yang mencoba menasehati Intan.
Intan saat itu merasa sangat kesal, ia meletakkan roti bertabur selai itu ke dalam piringnya lalu meninggalkan Rehan begitu saja saat itu, karena saat itu ia marah mendengar Rehan yang terus menyalahkannya.
Di perjalanan Rehan masih sempat mengirimkan sejumlah uang yang cukup besar pada Intan, biarpun Rehan dan Intan hubungannya sedang tidak baik-baik saja, namun Rehan tidak lupa dengan janjinya ketika Intan meminta uang padanya.
"Sudah ku kirim uang nya, kalau mau pergi ke salon yang kau beritahu tadi, hati-hati ya di jalan, jangan pulang terlalu malam."
Pesan singkat yang dikirim oleh Rehan, terbaca beberapa menit setelah Intan keluar dari kamar mandi, saat itu Intan merasa sangat senang karena ia medapat kiriman uang dari Rehan meskipun mereka sebenarnya sedang renggang, Intan pun menghubungi semua teman-temannya dan mengajak mereka untuk segera mendatangi Dinda Salon Kecantikan yang sedang viral itu.
Ajakan Intan pun mendapatkan respon baik dari mereka yang memang sedang menunggu kabar dari Intan, dan hari itu juga mereka mendatangi salon kecantikan tersebut bersama-sama. Saat tiba di tempat tujuan, Intan dan lainnya saling melempar senyum melihat sebuah gedung yang di sana sudah tertulis nama salon tersebut. Dan karena sudah tidak sabar Intan pun masuk dan melihat isi salon yang cukup mewah dan nyaman.
"Ya ampun, panas saja viral, kalian lihat ini, semua fasilitas yang ada sangat membuat orang yang datang nyaman," ucap Intan menatap teman-temannya.
__ADS_1
"Kau benar sekali Intan, ini sangat lah membuat kita terasa nyaman." timbal lainnya yang melempar senyum kala itu.
Di salon tersebut sudah ada beberapa pekerja yang memakai baju segaram, mereka pun datang menyapa Intan dan teman-temannya. Karena Dinda dan Wulan sedang sibuk mengemas barang di pabrik pembuatan, Pandu pun membantu melayani para pelanggan baru yang datang.
Pandu menghampiri Intan bersama teman-temannya, menyapa dengan ramah dan menawarkan berbagai pelayanan yang ada di salon tersebut. Sejak pertama kali menatap wajah Pandu entah mengapa Intan merasa ada sesuatu yang berbeda, getaran di hatinya itu cukup kuat hingga membuatnya tidak berkedip walau sekejap pun, hal itupun membuat para teman-teman lainnya merasa bingung ketika Intan menatap Pandu dengan pandangan berbeda.
"Hai, ayo pilih, kita mau melakukan perawatan apa, jangan melamun terus, dan alihkan pandangan matamu itu, nanti lepas loh," bisik salah satu dari mereka.
"Eh, astaga.. Ya ampun, oke oke, aku akan pilih perawatan yang akan aku lakukan di salon ini." jawab Intan kelimpungan.
Intan pun tersenyum pada Pandu yang saat itu masih begitu santai menanggapi Intan yang salah tingkah, dan setelah memilih Intan dan lainnya akhirnya melakukan perawatan di sana selama beberapa jam.
Saat itu Intan menunjuk Pandu untuk melayani dirinya, hal itu sempat membuat para pekerja lainnya merasa bingung, dan tidak enak hati ketika salah satu pelanggannya justru meminta Pandu untuk melayani dirinya, dengan terpaksa salah satu dari mereka pun akhirnya menemui Pandu yang telah kembali ke ruangannya.
"Ada apa, Sari?" tanya Pandu yang sedang membantu kesibukan Dinda itu.
"Maaf Pak, salah satu pelanggan baru yang datang tadi meminta Bapak untuk melakukan tritmen perawatan yang beliau pilih, saya bingung harus bagaimana," ucapnya dengan tatapan tidak enak hati.
"Ya sudah kalau begitu, beritahu dia kalau sebentar lagi saya akan ke sana." jawab Pandu tanpa merasa keberatan.
Sari pun akhirnya melempar senyum, ia merasa lega karena teman dari atasannya itu sama sekali tidak marah ataupun tersinggung, Sari pun akhirnya bisa keluar dari ruangan itu dengan rasa yang sangat lega.
__ADS_1