
Hari ini adalah hari yang paling buruk bagi Kinan. Moodnya turun naik setelah mengenal Bagas, Sang Direktur yang terkenal dingin itu. Terkadang hangat da enak di ajak bicara, tapi terkadang Bagas bersikap dingin dan begitu cuek.
"Benar ini kos -kosannya?" tanya Bagas pelan. Rumahnya begitu mewah malah tidak terlihat seperti kos - kosan.
Kinan menatap ke arah rumah itu dan membaca nomor rumah yang ada di tembok depan dekat pagar, lalu menyamakan dengan yang tertulis di pesan singkat dari Shella. Nomor dua ratus dua belas, batinnya. Nomornya benar kok, tapi kenapa rumahnya berbeda, batinnya kembali.
"Hei ... Kinan? Ini betul tidak rumahmya? Kenapa malah diam?" tanya Bagas samnil melirik ke arah yang terlihat cemas.
Kedua tangan Kinam sibuk mengetik pesan singkat yang di tujukan kepada Shella, calon Kakak iparnya.
Keringat dinginnya mulai keluar dari dahinya. Degub jantungnya pun mulai berdetak dengan sangat keras. Kinan mengabaikam semua pertanyaan Bagas. Ia tak peduli karena saat ini yang Kinan pikirkan adalah bagaimana caranya ia bisa pulang dan bertemu dengan Shella.
Sesekali Kinan mulai mencari kontak Shella dan mulai menyambungkan ke nomor yanh di tuju.
"Argh ...." desis Kinan dengan keras. Ucapan umlatan itu lolos begitu saja dari bibirnya yang mungil.
Bagas pun menoleh ke arah Kinan yang mulai pucat.
"Coba lihat mana alamatnya?" tanya Bagas pelan sambil menengadah tangannya ke depan Kinan untuk meminta ponselnya dan membaca alamat itu dengan benar. Bagas tahu persis pasti ada yang yidak beres.
Kinan masih saja diam dan fokus pada layar ponselnya. Lagi - lagi ia mengabaikan pertanyaan Bagas.
"Kinan? Kamu dengar kata - kata saya? Ini perintah. Mana ponselnya?" suara Bagas terdengar sangat lantang dan begitu keras.
Kinan malah menunduk tak bergeming. Lama - lama tubuhnya nampak bergetar. Ponsel Shella tidak aktif. Ini yang makin membuat Kinan bingung dan cemas. Hanya menangis satu satunya cara menenangkan hatinya yang gelisah.
"Kinan? Kamu menangis?" tanya Bagas dengan lembut. Sedingin dinginnya Bagas paling tidak bisa melihat seorang perempuan menangis.
__ADS_1
"Bapak ... Kinan mau pulang," ucap Kinan sambil menangis tersedu.
Wajah Bagas mulai panik. Suara tangisan Kinan seperti bayi yang sedang di cubit keras dan mencari pembelaan.
"Tenang Kinan. Kamu jangan panik begitu. Saya jadi ikut panik. Kamu tarik napas dalam. Lalu keluarkan dengan perlahan. Kita cari solusi bukan malah menangis. Coba saya lihat ponsel kamu," ucap Bagas dengan suara pelan.
"Untuk apa?" tanya Kinan pelan sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya dengan punggung tangannya.
"Jangan salah paham dulu. Saya hanya ingin membaca alamatnya dengan benar. Sepertinya alamat yang kamu bacakan tadi salah," ucap Bagas pelan.
"Tapi nomornya benar, Pak," jawab Kinan membela diri.
"Bukan masalah nomor. Tapi nama perumahan atau jalannya, Kinan. Ini Jakarta? Bukan di kampung. Salah menyebutkan nama maka resikonya kamu akan kesasar," ucap Bagas dengan tegas.
Kinan membuka kembali ponselnya dan membuka pesan singkat dari Shella. Kinan mulai membaca ulang alamat yang diberikan Shella.
"Apa? Perumahan Ceria yang di Jakarta Selatan?" tanya Bagas dengan suara tegas dan kedua menyipit ke arah Kinan.
Kinan mengangguk pelan. Wajahnya polos dan tanpa dosa.
"Kenapa Pak? Nomornya benar bukan? Dua ratus dua belas?" tanya Kinan polos.
"Argh ...." teriak Bagas dengan keras sambil memukul setir mobilnya dengan kencang.
Kinan menunduk dan tak berani menatap Bagas yang tiba - tiba berwajah garang itu.
"Kinanti!! Saya ini sudah lelah!! Tolong jangan menguji kesaban saya. Kamu tahu, sejak tadi kita baik - baik bukan beraryi saya harus peduli dengan kamu. Saya punya kehidupan lain. Saya hanya ingin dapatkan chemistry yang baik dengan kamu sebagai sekertaris saya. Kamu tahu ini Jakarta? Jakarta itu luas. Alamat yang kamu tuju itu Jakarta Selatan da kita ada di Jakarta Barat, itu jauh. Kamu ngerti? Ini sudah jam berapa? Besok pagi kita harus siap meeting," ucap Bagas dengan suara keras.
__ADS_1
Kinanti benar - benar takut. Sejak pagi Bagas baik - biak saja, dan malam ini betul - betul seperti hewan buas. Amarahnya benar -benar di luapkan.
Wajh Kinanti terus di tundukkan dalam. Air matany terus menetes ke bawah hingga jatuh di pangkuannya. Belum pernah Kinanti di bentak speerti ini oleh kedua orang tuanya dan kedua kakak lelakinya. Mungkin hal ini yang di takutkan oleh keluarganya jika ia berada jauh dengan orang tua dan kakaknya, tidak adayang memnatu atau membantunya di saat Kinan dalam kesulitan. Betul katan orang, Jakarta itu keras, lebih keras dari pada Ibu Tiri.
"Nangis. Wanita bisanya seperti itu. Sini ponselnya. saya mau baca dengan benar alamatnya. saya capek sekali. Kalau ini salah lagi, saya turunkan kamu di jalan," ucap Bagas dengan suara tegas.
Kinan hanya memeberikan ponselnya tanpa melihat Bagas. Ia benar - benar takut. bagas meenrima ponsel itu dan membaca dengan seksama. Lalu Bagas mencari aplikasi map yang biasa di gunakan sebagian orang untuk mencari arah tujuan alamat yang sedang di cari.
Malam semakin larut. Kini waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Perjalanan masih cukup jauh karena kepadatan jalan yang mengakibatkan macet di segala arah.
Bagas hanya bisa diam. Kesal sekali dirinya saat ini. Untung saja sekertarisnya, kalau bukan sudah di suruh turun dari mobilnya sejak tadi.
Ponsel Bagas berbunyi. Suaranya begitu nyaring. Tanpa melihat siapa peneleponnya, Bagas mengangkat sambungan telepon itu begitu saja.
"Ya. Hallo?" ketus Bagas yang terdengar sangat cuek dan malas mengangkat telepon.
"Oh Kamu? Kenapa?" tanya Bagas dengan suara yang begitu dingin.
"Kita sudah putus Klara. Papah sudah menjodohkan aku dengan gadis pilihannya. Tentu aku tak bisa menolak keinginan Papah. Lagi pula, kamu sudah ada yang lain, jelas - jelas dulu kamu selingkuh. Lalu untuk apa kembali lagi menghubungi aku?" tanya Bagas ketus. Satu tangannyamasih fokus menyetir dnegan kedua mata menatap ke arah jalanan yang silau akan lampu mobil.
"Kalau masih membicarakan ini. aku tutup teleponnya dan aku blokir nomor kamu. Aku sudah tidak ingin berurusan lagi dengan kamu!!" teriak Bagas kesal.
Ponsel itu langsung di matikan sepihak oleh Bagas dan ponselnya di letakkan kembali dnegan asal di dekatnya.
Kinan hanya diam. Cukup jelas telinganya mendengakan Bagas yang juga marah dan kesal kepada si penelepon.
Keduanya diam dan suasana semakin hening. Kinan yang sudah kelelahan pun perlahan menyandarkan punggungnya pada jok mobil dan tertidur.
__ADS_1