
"Dika? Boleh minta tolong ...." ucap Kinan tiba - tiba. Kinan tadi memang mengulum senyumnya dan menahan ketawanya saat melihat Dika mencium punggung tangannya.
Dika mendongak menatap Kinan. Wajah Kinan masih terlihat pucat dan sendu. Gadis yang belum lama ia kenal ini sudah bisa menaklukan hati Dika.
"Minta tolong apa?" tanya Dika dengan suara pelan.
"Kinan mau teh manis panas. Biasanya Ibu selalu membuatkan mitu, bila Kinan sakit dan Kinan akan lebih baik," ucap Kinan lembut.
"Teh manis panas? Hanya itu? Atau ada lagi? Biar sekalian aku bawakan, Kinan?" tanya Dika pelan. Dika senang sekali jika Kinan meminta tolong pada diriny. Ini adalah kesempatan untuk melakukan yang terbaik dan sempurna. Setidaknya Dika ingin memperlihatkan bahwa dirinya benar - benar serius mencintai Kinan.
"Ekhemmm ... Kalau ada bolu pisang," ucap Kinan tiba - tiba. Entah kenapa di dalam pikirannya hanya ada bolu pisang saja. Kinan seperti orang mengidam yang ingin sekali makan bolu pisang.
"Bolu pisang?" tanya Dika kembali. Permintaan Kinan agak aneh. Dimana - mana orang sakit pengen yang seger kayak bakso, sop, atau soto. Makanan berkuah yang bisa meningkatkan metabolisme tubuh dan berkeringat.
"Ya, Bolu pisang saja," jawab Kinan lirih.
"Oke. Baiklah. Aku akan membawakan itu semua untuk kamu, Kinan. Kamu tunggu ya, atau kmau istirahat dulu," ucap Dika cepat. Dika langsung berdiri, seolah terburu - buru untuk segera mencari apa yang di inginkan oleh Kinan saat ini.
Dika menuju dapur di villa itu dan membuatkan teh manis panas sambil menunggu air panas selesai di rebus, Dika memesan bolu pisang ter-enak di daerah lembang melalui aplikasi online khusus berbelanja.
"Nah ... Ini dia, dapat. Tinggal klik saja," ucap Dika yang sibuk dengan ponselnya dan berbicara sendiri di dapur dengan ponselnya seperti orang gila.
"Ngapain kamu? Ngomong sendiri kayak orang gak waras," satu tepukan di bahu Dika mengagetkan lelaki muda itu yang sedang khuyuk menatap layar ponselnya. Suara Atika yang dtang tiba - tiba sungguh mengagetkan Dika.
"Mama? Bikin kaget Dika saja. Ini lagi buat teh manis, Kinan sudah bangun dan minta di buatin teh manis panas. Kayaknya dia sedang ingat Ibunya gitu," ucap Dika mengadu.
Atika melipat tangannya di depan dda menatap semua gerak gerik Dika. Tubuhnya di sandarkan pada lemari pendinginsmbil mengulum senyum.
"Kamu itu aneh ya, Dika? Gak biasanya kamu se- perhatian ini sama perempuan. Dan baru Kinan saja, Mama lihat kamu panik banget, wajh kamu tuh udah kayak pakaian kusut atau koran lecek gitu< ' ucap Atika menggoda Dika yang sedang jatuh cinta.
Dika hanya melirik ke arah Atika yang memang paling sennag menggoda Dika dalam satu hal yang membuat Dika malu. Ponselnya di masukka ke dalam kantong celananya dan Dika mulai mengambil teh sachet dan menambahkan gula putih lalu menyeduhnya. Aroma wangi melati mulai tercium. Dikasengaja membuat dalam gelas besar dan mulai mengaduknya agar tercampur teh dan gulanya.
"Apa sih, Ma?" jawab Dika dengan menunduk malu.
__ADS_1
Hahaha ... Suara tawa Atika terdengar nyaring sekali di telinga Dika. Dika tahu, pasti Sang Mama sedang mencari celah untuk membuat Dika semakin malu.
"Kok maulu gitu, sampai wajahnya merah?" ucap Atika sambil tertawa.
"Jangan goda Dika dong Ma," ucap Dika sendu.
"Kamu serius dengan Kinan?" tanya Atika pelan.
Atika tahu, Dika itu seorang laki -laki dengan tipe cepat bosan dengan perempuan. Tapi, kalau sudah sayang, ia akan setia dan begitu melindungi gadisnya itu.
"Mneurut Mama? Dika terlihat sedang bermain - main?" tanya Dika kembali.
Atika menggelengkan kepalanya pelan. "Mama gak tahu. Pemikiran kamu sama sekali gak bisa Mama baca kalau soal perempuan. Bukankah kamu dan Sofia juga serius?" tanya Atika tiba - tiba. Terakhir Dika memnag berpacaran dengan Sofia.
Dika tersenyum kecut saat nama Sofia kembali terucap dari bibir TAika. SEolah kejadian beberapa bulan lu kembali di ingat jelas. Perselingkuhan Sofia dengan sahabatnya sendiri benar - benar tidak bisa di maafkan.
"Sofia? Sudahlah MA, jangan pernah sebut nama itu lagi di depan Dika. Dika muak dengarnya," ucap Dika mulai malas membahas Sofia.
"Kenapa? Kalian sudah putus? Bukankahn kamu dulu sangat menginginkan Soia, gadis barbie itu?" tanya Atika yang memang sejak dulu tak suka dengan Sofia.
"Bisa saja kamu ngelesnya. Sofia pernah jalan sama Rudi dan kamu melihat itu semua? Iya kan?" tanya Atika kemudian.
Dika menatap lekat kedua mata Atika, Sang Mama. Perempuan hebat yang di panggilnya Mama itu selalu tahu dengan semua yang terjadi.
"Mama tahu itu? Kenapa Mama gak cerita sama Dika?" tanya Dika kemudian.
"Mama tidak mau. Mama hanya ingin kamu tahu sendiri dengan mata kepalamu sendiir. Urusan perempuan, Mama tidak mau ikut campur, takutnya kamu berpikir Mama mengada - ada atau karena Mama tidak suka dengan Sofia. Tapi, Kinan memang beda," ucap Atika penuh senyum.
"Kali ini, Dika gak slah pilih kan?" tanya Dika pelan.
Atika mengangguk pelan.
"Ya. Mama suka dnegan Kinan. Gaya dan sikapnya sederhana dan gak neko - neko. Mama suka," ucap Atika pelan.
__ADS_1
"Tapi Ma ...." ucap Dika lirih terlihat ada suatu masalah di sana.
"Tapi apa? Kinan belum bisa menerima kamu? Itu soal mudah, Dika," ucap Atika pelan menyemangati Dika, putra semata wayangnya.
"Bagas juga menyukai Kinna," ucap Dika pelan.
"Bagas? tapi kan gimana Kinannya?" ucap Atika menenangkan Dika.
"Mereka satu kantor. Setiap hari mereka bersama Ma. Kemungkinan itu pasti ada, dan celah itu pasti ada," ucap Dika pelan.
"Kamu suka sama Kinan?" tanya Papa Surya yang tiba - tiba datang ke dapur dan menimbrung obrolan antara anak dan Ibu itu.
"Papa ... Bikin kaget aja sih? Mau kopi?" tanya Atika lembut sambil merangkul pinggang suami sirinya itu.
Kemesraan ini memang membuat Dika bahagia, tapi kadang perasaan kesl kepada Papa kandungnya itu masih terasa sesak di dadanya.
"Jawab dong Dika, kalau Papah tanya," ucap Atika menengahi. Atika tahu, Dika masih belum bisa menerima Surya sebagai Papahnya seratus persen. Mungkin pelan - pelan Atika harus terus menasehati agar Dika bisa menerima dengan lapang dada.
"Iya Pah. Dika suka dengan Kinan, Jawabnya singkat.
"Kenapa tidak datang saja ke rumah orang tuanya. Mungkin mereka bisa menerima kamu?" titah Surya pelan.
Surya tahu, kalau Bagas yang datang tentu Kleuarga besar Kinan sudah tidak akan menerimanya lagi karena kesalahan kemarin. Tapi, jika dengan orang berbeda dengan segala kemapanan Dika, bisa jadi kedua orang tua Dika bisa menerima Dika, asal Surya tidak ikut campur soal ini.
"Papah dong yang seharusnya ke rumah Kinan untuk melamarkan?" pinta Atika lembut.
Senyum Surya begitu mempesona. Ini yang membuat Atka sellau luluh setiap saat.
"Papa tidak bisa membantu kalau soal ini. Ada hal lain, yang suatu hari kalian berdua tahu. Tapi, Papa pastikan, lamaran kamu pasti di terima," ucap Surya dengan mantap dan lantang.
Dika terlihat berpikir sejenak. Ucapan Papa Surya betul adanya. Lebih baik langsung datangi keluarganya jika memang serius.
Atika menatap Dika, "Mama mau kok, melamarkan Kinan untuk kamu, Dika?"
__ADS_1
Sontak ucapan Sang Mama membuat semua pintu kebahagiaan pun terbuka lebar.