Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
33


__ADS_3

"Dinda, sebenarnya aku mengundang mu datang ke sini, karena aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tentang isi hatiku yang selama ini aku pendam. Din, jujur... Kali ini aku nggak bisa lagi bohong, kalau aku memiliki perasaan lebih padamu, lebih dari sekedar teman," lirih Pandu yang saat itu mencoba untuk mengutarakan isi hatinya.


"Perasaan lebih itu yang seperti apa Pandu, aku tidak mengerti," ucap Dinda yang ingin mendengar sebuah ungkapan kebenaran.


"Aku mencintaimu Dinda. T-tapi aku tidak mau memaksa, aku minta maaf jika ini salah, aku minta maaf jika perasaan ku keliru padamu, tapi aku ingin mengungkapkan nya saja, jika pun kamu tidak bisa menerima atau belum siap, tidak masalah." jawab Pandu melempar senyum.


Sejauh ini Pandu tidak mau memaksa jika memang Dinda masih tidak bisa menerima hubungan lain setelah perceraian nya dengan Rehan, saat itu Dinda melempar senyum, ia merasa senang ketika Pandu menyerahkan semua keputusan padanya, seakan ia merasa terhormat karena mendapatkan pilihan yang harus ia ungkapkan pada Pandu.


"Tolong berikan aku jawaban Dinda, jangan di gantung ya, perasaan ku," pinta Pandu pada saat itu.


"Kamu tenang saja Pandu, aku bukan lah wanita yang suka mengabaikan perasaan pria yang mengungkapkan perasaannya. Sejauh ini hanya kamu dan Wulan yang tahu kisah cintaku, mungkin kamu akan mengatakan bahwa kisah cinta ku tidak lah beruntung, makanya aku sekarang ada di posisi saat ini, menjadi janda dengan satu anak. Satu hal yang ingin aku pertanyaan padamu tentang keputusanmu mencintaiku, apakah kamu sudah benar-benar memikirkannya?" tanya Dinda, ia ingin memastikan bahwa ungkapan cinta Pandu tidak akan pudar hanya karena status.


"Jika kamu mempertanyakan hal ini padaku, justru aku sama sekali tidak punya masalah apa pun dengan status mu Dinda, justru aku berpikir bahwa aku akan sangat beruntung jika sampai aku menjalin hubungan denganmu, aku mendapatkan bonus berupa seorang putra yang tumbuh di tangan wanita hebat seperti dirimu," ucap Pandu dengan bangga.


"Kamu sama sekali tidak bermasalah dengan status ku?" tanya Dinda lagi untuk memastikan.


"Ya, aku tidak mempermasalahkan hal ini, Dinda." jawab Pandu dengan tegas.


Dinda melempar senyum tipis, jawaban Pandu membuat hati Dinda cukup senang, statusnya itu lah yang membuat dirinya sendiri menjadi tidak percaya diri. Namun ketika Pandu memberikan jawaban tersebut, tentu saja merupakan suatu kehormatan bagi Dinda.


"Terima kasih Pandu, jika kamu tidak ragu menerima status dan putraku, ada baiknya jika aku pun tidak ragu menerima cintamu," ucap Dinda dengan tulus.


"A-apa? Apa jawaban mu barusan?" dengan tatapan berbinar Pandu mempertanyakan lagi jawaban Dinda.

__ADS_1


"Ya, aku menerima mu Pandu, dan itu dengan keyakinan ku." jawab Dinda melempar senyum ketika melihat ekspresi wajah Pandu.


Pandu sangat senang sekali mendengar jawaban dari Dinda, tentu saja hal itu akan membuat dirinya sangat bahagia, karena jawaban itulah yang selama ini ditunggu oleh Pandu. Sementara Dinda sendiri ikut tersenyum melihat ekspresi wajah Pandu yang begitu ceria.


Namun, ini bukan lah kisah cinta seorang remaja yang menggebu dengan nafsu, Pandu dan Dinda sudah cukup dewasa hingga meraka menunjukkan ekspresi bahagia mereka dengan sekedar nya.


Malam itu Pandu merasa cukup senang, karena Dinda sudah menjadi kekasihnya saat ini. Karena waktu sudah cukup malam dan waktunya Dinda harus pulang, akhirnya Pandu pun memutuskan untuk mengantarkan Dinda kembali ke tempat tinggalnya.


Tibanya di rumah, Pandu membukakan pintu mobil untuk Dinda, Dinda keluar dengan melempar senyum pada pria yang sedang berada di puncak kebahagiaan itu. Pandu menatap wajah Dinda dengan serius, ia melempar senyum ketika Dinda justru menunduk karena malu.


"Jangan menatap ku seperti itu, aku malu," ucap Dinda.


"Aku sangat senang Dinda, pada akhirnya penantian ku ini tidak bertepuk sebelah tangan, aku mendapatkan jawaban atas perasaan yang selama ini aku pendam, kalau tahunya begini, kenapa aku harus menunda nya sampai saat ini," seru Pandu menyalahkan dirinya sendiri.


"Apa, coba ulangi lagi? Kamu memanggilku dengan sebutan apa?" Pandu tersenyum sembari memasang telinga di depan Dinda ketika Dinda memanggil dirinya tidak lagi dengan nama.


"Mas, aku panggil kamu dengan sebutan itu ya, kita berdua bukan lagi sahabat, tapi naik satu tingkat jadi sepasang kekasih, tidak etis jika aku memanggilmu dengan sebutan nama." jelas Dinda melempar senyum.


Pandu melempar senyum, tidak mungkin ia menolak panggilan itu, panggilan itulah yang diimpikan oleh Pandu selama ini, saat itu Pandu pun tidak ingin menyita waktu Dinda terlalu banyak untuk dirinya. Pandu meminta Dinda masuk dan ia akan segera pulang ketika Dinda menutup pintu.


Lambaian tangan Dinda pun mengiringi kepergian Pandu, di sepanjang perjalanan menuju pulang Pandu tak henti-hentinya mengucapkan syukur karena perasaan nya pada Dinda sudah terbalas. Dan malam itu Pandu tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan ia berniat untuk menemui Wulan. Sahabat nya itu harus menjadi orang pertama yang tahu tentang hubungannya dengan Dinda saat ini.


Saat tiba di rumah Wulan, Pandu seperti bertemu dengan kakaknya sendiri, dengan erat ia memeluk tubuh Wulan yang tiba-tiba terkejut saat itu.

__ADS_1


"Hei, apa-apaan ini, kenapa kamu memeluk ku se-erat ini," omel Wulan yang memukul-mukul pundak Pandu.


"Wulan, kamu adalah orang pertama yang harus tahu tentang ini, biarkan aku memeluk mu dulu, aku ingin meluapkan kebahagiaan ku dengan cara ini," ucap Pandu yang masih memeluk erat Wulan.


"Kalau caramu seperti ini, kau yang bahagia, tapi aku yang tersiksa, aku bisa mati karena mu!" pekik Wulan yang benar-benar ingin lepas dari pelukan Pandu.


Akhirnya Pandu pun melepaskan pelukannya, saat Wulan benar-benar merasa tersiksa dengan perlakuannya.


"Maafkan aku," ucap Pandu melempar senyum.


"Memangnya apa si yang membuat mu sebahagia ini, ayo katakan?" tanya Wulan dengan nada memaksa.


"Wulan, sekarang aku sudah tidak sendiri lagi, malam ini adalah malam yang sangat indah bagiku, aku telah mengutarakan cintaku pada Dinda, dan Dinda pun membalas perasaan ku. Wulan, kau tahu kan, betapa aku sangat mencintainya," ucap Pandu dengan ekspresi bahagianya.


"Jadi kalian sudah resmi menjalin hubungan sekarang?" tanya Wulan memastikan.


"Tepat sekali Wulan, aku dan Dinda sudah menjadi sepasang kekasih sekarang," kata Pandu melempar senyum.


"Oh astaga, kalau begitu aku turut berbahagia untuk mu sahabat ku, sekarang status mu naik tingkat, kau bukan lagi jomblo sejadi di kota ini." Wulan dengan bangga tersenyum menatap sahabat dekatnya itu.


Pandu melirik kesal dengan kalimat itu, tapi apapun yang dikatakan oleh Wulan tak sedikit pun mengurangi rasa bahagia yang saat itu Pandu rasakan, ia tetap bahagia merayakan hari jadiannya dengan Dinda.


Sebuah panggilan telpon menghentikan kebahagiaan Pandu, saat itu Pandu terhenti dan merogoh ponsel di kantung celananya, sementara Wulan memilih untuk membuatkan dua gelas kopi yang akan ia nikmati bersama Pandu nanti.

__ADS_1


__ADS_2