
Bagas tersenyum bahagia saat melajukan mobilnya menuju hotel Ambarukmo. Kinan terpaksa tinggal di rumah dan menginap di ruamhnya sendiri. Besok pagi, Bagas akan menjemput Kinan kembali ke rumahnya lalu kembali ke kota besar. Minggu depan sesuai dengan kesepakatan, keduanya akan bertunangan. Ini yang membuat Bagas bingung. Jangan sampai, Bapaknya KInan marah setelah mengetahui yang sebenarnya. Jika, Bagas adalah oarng yang di jodohkan kemarin.
Kinan duduk di atas kasur empuknya sambil bersandar pada sandaran tempat tidur dengan guling di pelukannya.
Ibu Ayu masuk ke dalam kamar tidur Kinan dan duduk di tepi ranjangnya.
"Cantiknya Ibu kok malah melamun di kamar yang gelap sih?" tanya Ibu Ayu sambil memberikan susu putih untuk Kinan.
Itulah kebiasaan Ibu jika Kinan ada di rumah. Selalu di buatkan susu putih untuk di minum sebelum tidur dan Kinan akan di perlakukan seperti anak kecil saja.
"Ibu ... Kinan ini sudah dewasa, gak perlu di buatkan susu seperti ini. Lagi pula slemaa tinggal di kost, Kinan sudah tidak pernah lagi minum susu sebelum tidur. Kinan harsu merubah kebiasaan itu," ucap Kinan pada Ibunya.
Ibu Ayu hanya tertawa, "Besok lagi, Ibu gak akan buatkan susu untuk kamu. Ini terakhir dan minumlah. Lagi pula sudah mau jadi sitri orang masa iya, Ibu harus bersusah payah ikut mengurus kamu," ucap Ibu Ayu tertawa keras.
"Ibu ... Jangan godain Kinan dong," ucap Kinan lirih sambil emneguk susu putih buatan Ibu Ayu hingga habis tak bersisa.
"Wuhh ... Haus ini? Apalagi kesal?" tanya Ibu Ayu yang melihat ada sesuatu di pikiran Kinan.
"Apa sih Bu. Kinan gak apa -apa. Cuma syok aja," ucap Kinan muali membuka cerita.
__ADS_1
"Soal Bagas? Kamu sudah pacaran berapa lama?" tanay Ibu Ayu penasaran.
"Baru Bu. Belum lama," ucap Kinan tenang.
"Ya sudah. Kamu tidur dulu, istirahat, kamu kayak lelah. Besok kita lanjut ceritanya," ucap Ibu Ayu yang kemudian pergi dari kamar Kinan.
Tak lama Bagas sampai di hotel dan langsung menelepon gadisnya. Kinan semakin harui semakin membuat Bagas tergila -gila dan merinduinya.
"Hai sayang," ucap Bagas yang sudah terlentang di kasur dengan ponsel mengahdap ke arah wajahnya.
Ya, mereka melakukan panggilan video call.
"Pak Bagas? Baru sampai?" tanya Kinan yang masih duduk bersandar pada tempat tidur.
"Dih ... Gak sama sekali. Tadi habis ngobrol sama Ibu," ucap Kinan pelan.
"Soal saya ya? Pasti saya calon menantu idaman," ucap Bagas begitu bersemanagt sekali. Hatinya masih bahagia dan di penuhi bunga -bunga yang begitu indah.
"Dih ... Pe De amat Pak. Gak lah ya. Malahan Ibu bilang kamu yakin nikah sama pak Bagas?" ucap Kinan sambil berpura -pura membuang wajahnya ke arah lain.
__ADS_1
"Ahhh masa sih? Ibu bilang gitu? Perasaan Bapak tadi begitu antusias mau cepat -cepat meghalalkan kita," ucap Bagas menatap Kinan lekat.
"Ya ... Kinan jawab aja, kalau jodoh gak kemana," ucap Kinan terkesan ogah -ogahan.
"Kok gitu sih jawabnya? Memang kamu gak mau serius sama saya?" tanya Bagas dengan suara meninggi.
"Kan Kinan jawabnya benar Pak. Kinan bilang gimana jodoh kan? Secara ...." ucapan Kinan langsung di sela oleh Bagas.
"Udah deh, saya gak mau kamu bahas hal -hal yang menjurus overthinking. Saya itu mau serius sam kamu. Nanti syaa di buktikan smeuanya selama di kantor, dan saya tidak main -main,"
tegas Bagas pada Kinan.
"Oke. Besok kita pulang jam berapa? Bapak sarapan di sini dulu ya?" pinta Kinan pada Bagas.
"Iya sayang. Besok saya kesana pagi -pagi sekali. Pesawat berangkat siang kok. Masih ada waktu untuk ngobrolin persiapan pernikahan kita," ucap bagas tertawa.
"Tunangan Pak, bukan perniakhan. Niakhnya masih lama," ucap Kinan menunduk.
"Ya terserah saya dong. Mau nikah apa tunangan. Intinya juga kesana -sana juga, kamu jadi istri saya. Iya kan?" ucap Bagas tertawa lagi.
__ADS_1
"Ahhh Bapak ... Kinan mau tidur ya. Ngantuk. See u again, Bapak Direktur," ucap Kinan dengan sangat manis sekali.
"Uhhhh ... Good nigt my beloved, mimpi indah ya," ucap Bagas memberikan ciuman pada bibirnya.