Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.15


__ADS_3

"Kinan ... Kinan ... Bangun," panggil Bagas pelan tanpa menyentuh Kinan.


Sudah beberapa kali di bnagunkan tetapi Kinan tak kunjung bangun juga. Bagas pun keluar dari mobilnya dan memencet bel di rumah y kos - kosan yang katanya tempat tinggal Kinan.


Seorag perempuan keluar dari pintu depan dengan wajah yang terlihat cemas. Ya, Shella panik sekali tidak ada kabar Kinn sejak dua jam lalu. Ponsel Kinan sepertinya mati karena daya baterainya habis.


"Ada apa ya? Mau cari siapa?" tanya Shella dengan sopan kepada Bagas.


"Ekhemm ... Gini. Saya membawa gadis ... Ekehmmm anu. Jadi gini, Kinan itu ...." ucapan Bagas langsung di sela dengan teriakan histeris Shella.


"Kinan? Mana Kinan?" wajah Shella masih terlihat cemas dan panik


"Ada di mobil saya. Dia tertidur sejak tadi. Sudah saya bangunkan sejka tadi. Maaf Anda siapanya Kinan?" tanya Bagas dengan suara pean.


Tatapan Shella begitu lekat menatap Bagas. Awalnya Shella ingin memarahinya, tapi terakhir Kinan memberikan kabar bahwa ia sedang di ajak makan malam oleh Direkturnya.


"Saya Shella, Kakak Kinan. Kamu siapa? Itu baru pertanyaan benar? Bisa saja, Anda orang jahat yang ingin menyakiti Kinan?" ucap Shella yang terdengar ketus.


Shella membuka gembok pagar kos - kosannya dan berjalan keluar menuju mobil Bagas yang katanya ada Kinan di sana.


"Maaf. Saya Bagas, teman satu kantor Kinan," ucap Bagas pelan.


"Oh ... Kamu Direkturnya? Kenapa bisa sampai malam pulangnya? Kinan itu baru di terima hari ini dan haru lembur. Sekarang pulang sudah jam satu malam. Anda masih waras kan jadi Direktur?" ucap Shella dengan galak.


Shella takut terjadi apa - apa dengan Kinan. Sejak tadi Dimas, kekasihnya sellau memantau Kinan, adik semata wayangnya.


"Maafkan saya. Kebetulan, besok mau ada meeting mendadak. Karena Kinan masih baru, jadi saya harus mengajarkan Kinan untuk bisa mengikuti meeting dnegan baik," ucap Bagas mencari pembelaan. Bukan pembelaan sebenarnya tapi memang nyatanya seperti itu.


"Sudahlah. Kinannya mana, sekarang?" tanya Shella dengan nada yang masih galak. shella ingin cepat bertemu Kinan, dan memastikan Kinan dalam keadaan baik -baik saja. Semua bisa saja terjadi. Ini Jakarta, buka Yogyakarta yang masih bisa menemukan orang baik. Direktur juga bisa melakukan aksi bejatnya.


"Ada di mobil," ucap Bagas pelan.


Bagas membuka pintu mobil di bagian samping depan tempat Kinan duduk.

__ADS_1


Kinan benar -benar pulas dan tidak terganggu sama sekali ada suara ribut. Wajahnya nampak tenang dan terlihat kelelahan.


"Kinan?" panggil Shella membangunkan Kinan beberapa kali yang tk kunjun bangun juga.


"Belum mau bangun juga? Apa biar saya gendong ke kamarnya? Itu juga kalau boleh? Gimana?" tanya Bagas pelan memberikan solusi terbaik.


Kepala Shella kleuar dari mobil Bagas dan menatap Bagas.


"serius? Mau gendong Kinan sampai kamar? Kamarnya di lantai dua. Kebetulan Kinan belum punya kamar kos, dan ia masih menumpang di kamar saya," ucap Shella pelan.


"Iya tidak apa -apa. Saya juga harus cepat pulang untuk persiapan meeting besok pagi," ucap Bagas pelan.


"Oke. Bawa Kinan, biar saya tunjukkan kamarnya," ucap Shella pean.


Bagas menggendong tubuh Kinan yang mungil itu ke lantai dua. KEdua matanya mengedar ke arah kos - kosan yang begitu mewah dan rapi. Tapi, kos - kosan ini cukup jauh bagi Knan menuju kantornya.


"Ini kamarnya. Rebahkan di tempat tidur saja," ucap Shella pelan.


"Iya," jawab Bagas pelan. Kakinya melangkah kecil menuju tempat tidur yang cukup besar itu.


"Terima kasih sudah mengantarkan Kinan. Maaf kalau say sempat kesal pada Anda. Saya sangat cemas seklai. Kebetulan Kinan di titipkan pada saya, jadi saya harus bertanggung jawab atas Kinan selama Kinan berada di Jakarta," ucap Shella menjelaskan.


Bagas hanya mengangguk pelan dan membalikkan tubuhnya agar cepat keluar dari kamar perempuan. Pandangannya langsung tertuju pada satu bingkai foto di atas meja rias. Bingkai foto itu cukup besar, dan menampakkan foto Shella bersama seorang lelaki yang amat familiar dalam ingatan Bagas. Namun, Bagas lupa siap lelaki itu?


Tatapanya tak berkedip dan terus menatap tajam ke arah bingkai foto itu hingga Shella pun melihatnya dengan aneh.


"Apa ada yang salah dnegan foto itu?" tanya Shela tiba - tiba yang sejak tadi mentap aneh kepada Bagas.


Bags tergagap dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Saya seperti pernah melihat lelaki itu, tapi dimana saya lupa," ucap Bagas pelan.


"Oh itu. Namanya Dimas, dia, kekasihku sekaligus kakak kandung Kinan," ucap Shella pelan menjelaskan.

__ADS_1


Shella pikir tidak apa - apa menjelaskan secara jujur. Toh, Bagas adalah Bos Kinan.


Bagas nampak menganggukkan kepalanya dan mencoba mengingat kembali sosok lelaki yang bernama Dimas itu. Tapi, semakin mencoba mengingat, Bagas semakin kesal dengan diriinya sendiri karena tak berhasil mengingatnya.


"Saya pulang dulu. Sekali lagi, saya minta maaf atas kejadian ini. Saya tidak bermaksud untuk memanfaatkan Kinan. Tapi, ini demi kesuksesan meeting besok pagi," ucap Bagas pean kepada Shella saat Bagas berpamitan pulang kepad Shella.


"Iya. Saya juga terima kasih kepada Pak Bagas, karena sudah mengantarkan Kinan sampai di rumah dengan selamat. Jika ada sesuatu di kemudian hari, Bapak bisa bilang pada saya. Bukan saya cerewet untuk hal ini, karena saya menjaga amanah untuk bisa menjaga Kinan dnegan baik," ucap Shella panjang lebar.


Bagas pun pulang ke rumahnya. Tubuhnya sudah sangat lelah sekali.


"Bagas?" panggil Anita, Mamah Bagas dengan suara pelan.


Bagas menoleh ke asal suara dan menutup kemabli pintu ruang tamu dnegan rapat.


Anita sudah berdiri di ambang lorong yang menghubungkan ruang tamu dan ruang tengah.


"Mamah? Belum tidur?" tanya Bagas dengan suara pelan. Bagas menghampiri Anita dan mencium tangan dan pipi Anita dengan penuh kasih sayang.


"Gimana Mamah mau tidur lelap, jika anak Mamah belum kembali ke rumah. Kamu kemana saja? tadi Mamah telepon Festi, katanya kamu lembur, dan kamu sudah punya sekertaris baru? Siapa namanya? Lupa Mamah," ucap ANita sambil mengernyitkan dahinya mengingat ucapan festi tadi.


"Kinan, namanya," jawab Bagas pelan.


"Oh ya, Kinan. Cantik?" tanya Anita pelan yang terus berjalan menuju ruang makan.


Seperti biasa, sebelum tidur Bagas pasti meminum susu putih buatan Sang Mamah.


"Cantik," jawab Bgas pelan sambil mengambil satu tempe goreng di atas meja makan itu dan mulai mengunyah gorengan tinggi kalori itu.


"Ajak main ke sini?" ucap Anita pelan.


Bagas memberhentikan kunyahan gorengan tempe di mulutnya dan menatap ke arah sang Mamah yang masih mengaduk susu putih full creamuntuk anak semata wayangnya. Merasa di tatap aneh, Anita pun membalas tatapan Bagas.


"Kenapa? Mama salah bicara begitu?" tanya Anita pelan sambil meletakkan satu gelas susu di depan Bagas.

__ADS_1


Bagas menggelengkan kepalanya pelan.


"Bukan salah. Tapi tidak tepat. Kinan itu hanya sekertaris Bagas. Bagas mash berharap bisa melamar Ajeng, cinta pertama Bagas, Mah," ucap Bagas pelan.


__ADS_2