
Bagas mengangguk pelan dan mnggenggam tangn Kinan denagn erat. Nama itu adalah nama ynag selalu d ucapkan Kinan saat Kinan masih kecil. Saat itu Kinan tidak bisa mengucap nama Bagas hingga yang tercetus nama Baba.
"Pak Bagas? Baba?" ucap Kinan masih dengan rasa tidak percaya. Kinan lupa bagaimanwajah Baba. Kinan hanya ingat suaranya saat itu dan kata -kata yang selalu membuat Kinan semangat.
Lagi - lagi Bagas hanya mengangguk pelan dan tersenyum.
"Saya, Baba yang kamu kenal waktu kamu masih kecil dulu. Kamu masih ingat?" tanya Bagas lembut menatap Kinan yang kini telah berdiri saling berhadapan.
Kinan mengangguk kecil dan menatap lekat wajah Bagas. Mengingat wajah yang dulu dan sempat terlupakan karena tak bisa mengingatnya dengan baik. Wajah Bagas sungguh sangat berbeda, dulu berbadan gempal dan sedikit hitam, tapi kini tubuhnya tegap, tinggi dan gagah, serta kulitanya lbih terang.
"Ya, Kinan ingat. Tapi ... Bagaimana Pak Bagas tahu, kalau Kinan ini adalah Ajeng?" tanya Kinan mulai penasaran.
"Mau dengar cerita Baba?" tanya Bagas lembut menyebut namanya dengan sebutan Baba.
"Mau ... Kinan mau dengar," jawab Kinan pelan.
"Bagas, Kinan, makan malam suda siap. Sini ..." panggil Anita pelan.
Bagas mengangkat tangan Kinan dan mengecup punggung tangan itu penuh kasih sayang sambil menatap kedua mata Kinan penuh damba membuat seluruh tubuh Kinan pun terasa bergetar.
Cup ...
"Kita lanjutkan ceritanya nanti lagi ya? Mama sudah panggil kita untuk makan malam," titah Bagas kepada Kinan yang hanya menatap Bagas dengan senyuman.
"Iya Pak," jawab Kinan yang masih terdengar kaku dan terlalu formal. KInan merasa canggung dan ingin segera pergi dari hadapan Bagas. Tentu Bagas melihat perubahan sikap dan wajah Kinan yang mulai memerah seperti tomat matang.
"Eits ... Jangan pergi dulu. Ingat jangan panggil saya dengan sebutan Pak, bila berada di luar kantor. Lalu, kita pacaran kan?" tanya Bagas memantapkan statusny.
__ADS_1
Kinan tak bisa menjawab. Malam ini penuh dengan kjutan dan misteri.
"Ekhm ... Pak Bagas? Mamanya sudah manggil terus dari tadi. Gak enak," jawab Kinan pelan. Tubuhnya berputar dan berjalan menuju meja makan yang terlihat romantis itu dengan langkah kecil.
"Sini Kinan, Kamu pasti suka sekali dengan makanan ini? Ini Mama buat khusus untuk tamu spesial Mama," ucap Anita penuh rasa bahagia.
Kinan sudah memilih tempat duduk dan Bagas persisi duduk di sebelah Kinan. Lalu Mama Anita duduk di seberang Kinan. Satu asisten rumah tangganya mulai membagikan daging steak yang telah di bakar. Dagingany sangat wangi dan masih terlihat mengebul asap panas karena baru di angkat dari tempat pemanggangan.
Wajah Kinan berbinar senang. Suasana makan malam ini mengingatkan Kinan pada keluarganya di Yogya.
"Kok bengong? Ayo di makan, Kinan?" titah Mama Anita yang terlihat sangat simpatik pada Kinan.
"Apa mau di potongin?" tanya Bagas menawarkan diri untukmembantu Kinan. Tanpa aba - aba pun, bagas menagmbil piring Kinan dan mulai memotong daging itu hingga menjadi potongan kecil agar memudahkan Kinan menyatapnya.
"Terima kasih, Pak," jawab Kinan masih canggung. Piring makannya sudah berad di depan Kinan, dan Kinan mulai menusuukkan potongan kecil daging itu pada garpunya dan mulai menikmati di dalam mulutnya. Rasa manis, asam, pedas, brcampur menjadi satu hingga menjadi rasa lezat.
"Gimana? Enak, Kinan?" tanya Anita pelan yang juga mengunyah potongan daging di mulutnya.
"Kok masih panggil, Tante ya? Panggil Mama, Kinan. Kalian kan sebnatr lagi menikah, harus di biasakan," ucap Anita pelan yang membuat Kinan langsung terbatuk keras. Ucapan Mama Anita membuat Kinan benar - benar syok.
uhuk ... Kinan spontan langsung terbatuk saat mendengar ucapan Mama Anita yang membuatnya syok bukan main.
"Kamu kenapa Kinan? Bagas ambil minum untuk calon istrimu, jangan cuma diam saja!! Mama gak mau sesuatu terjadi pada Kinan, dia sedang tersedak!!" ucap Mama Anita dengan suara tegas dan lantang.
Bagas langsung memberikan Kinna air di dalam gelas.
"Minum Kinan. Kamu harus lebih hati - hati dan pelan - pelan saja kalau man," ucap Bagas lembut. Bagas tahu, Kinan masih tak percaya dengan ucapan Mama Anita tadi.
__ADS_1
Dengan cepat, Kinan meneguk air di dalam gelas itu. lalu, menarik napas dalam untuk mengontrol hatinya yang begitu syok dengan ucapan mama Anita.
"Sudah?" tanya Bagas pelan sambil mengusap pelan punggung Kinan agar terasa nyamna.
"Sudah Pak. Terima kasih," jawab Kinan singkat dengan wajah menunduk malu.
Bagaimana tidak canggung dan malu. Bagas yang selama ini dikenal sebagai Direktur di tempat Kinan bekerja adalah teman kecilnya. Laki - laki yang sempat membuat Kinn jatuh hati karena sikap dewasanya, perhatiannya dan cara menjaganya hampir sama seperti kedua kakak kandung laki -lakinya.
"Kamu tidak apa - apa, Kinan?" tanya Mama Anita lembut.
"Gak apa - apa, tante," ucap Kinan polos.
"Mama ... Kenapa sih Kinan? Gak susah kan? Manggil Mama?" tanya Mama Anita mulai sedikit kecewa.
"Iya Mama," jawab Kinan mulai mengikuti ucapan Anita.
"Nah, gitu kan terlihat akrab dan lebih manis. Memang seharusnya begitu, kamu sudah Mama anggap sebagai anak kandung Mama sendiri. Sejak dulu, Mama ingin sekali punya anak perempuan, dan ternyata Bagas memang pintar memilih calon istri yang sesuai keinginan Mama," ucap Mama Anita memuji Kinan.
"Ma, Kinan dan Pak Bagas, tidak ada hubungan apa -apa. Ya kan, Pak? Bahkan Kinan saja baru tahu, kalau kita adalah teman kecil dulu," ucap Kinan dengan jujur sambil menatap Bagas yang terlihat santai dan begitu tenang.
"Lho? Kamu belum tahu Kinan? Kalian berdua itu di jodohkan? Kemarin, Bagas tidak datang karena ada rapat yang tidak bisa di tunda. Maafkan kami yang sudah mengecewakan keluarga kamu, Kinan. Kami berjanji akan kembali lagi untuk melamar kamu. tapi, ternyata memang semesta sudah merestui kebersamaan kalian, dan kalian di persatukan melalui hubungan kerja ang tidak di sengaja," ucap Mama Anita pelan mnjelaskan dengan senyum bahagia.
Semudah itu? Selancar itu? Jika semesta sudah merestui dan mengijinkan?
"Apa? Kinan dan Pak Bagas di jodohka?" ucap Kinan pelan sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Kenapa? Apa orang tuamu tidak pernah memberitahukan ini kepadamu?" tanya Mama Anita kembali kepada Kinan.
__ADS_1
'Tidak pernahsekali pun. Hanya saja, Kinan tidak di perbolehkan pcaran, dan tidak boleh bekerja di luar kota. Ayah hanya mengijinkan Kinan untu bekerja di sekitar daerah Yogyakarta saja. Ini pun, Kinan pergi dari rumah di bantu Mas Dimas, karena kesal dengan calon pelamar Kinan yang tidak hadir," ucap Kinan pelan. Selama ini Kinan tidak mengerti, ternyta ini alur ceritanya.
Pantas saja, Ayah dan Ibunya tak pernah mengijinkan Kinan pergi malam atau sekedar berjalan - jalan dengan teman terlebih ada laki -laki di sana. Kedua orang tuanya benar - benar menjaga KInan dnegan baik. Tapi, kalau sudah begini, kejadian kemarin lamaran yang gagal, apakah kedua orang tuanya masih mau menerima Bagas?