
"Masa sih gak tahu?" ucap Kinan dengan suara pelan. Tatapan Kinan menoleh ke arah koper yang sedang di buka Bagas.
Bagas dengan polosnya menggelengkan kepalanya pelan.
"Apa sih? Say tidak paham?" ucap Bagas yang semakin kesal.
BRAK ...
"Kinan bilang jangan, ya, jangan di buka. Ini banyak pakaian dalam Kinan!! Gitu aja gak paham sih Pak?" ucap Kinan yang mulai kesal dengan Bagas.
"Upss ... Maaf. Saya lupa, kalau kita berbeda gender," ucap Bagas sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya yang terlihat lebar.
"Bukan beda gender lagi. Kinan dan Pak Bagas itu lawan jenis. Tak sepantasnya juga, kita berdua berada dalam satu kamar seperti ini. Mungkin kalau ada Ayah dan Bunda, kita bisa habis di ceramahi," ucap Kinan mulai kesal.
Kinan menggerutu sambil membuka koper besarnya dan mulai memasukkan beberapa pakaiannya dengan asal ke dalam lemari. Minimal ia telah berhasil memindahkan pakaiannya, masalah rapih atau tidak, itu bisa di lakukan nanti lagi, jika Kinan memiliki waktu senggang.
"Saya jadi penasaran dengan Ayah dan Bunda kamu, Kinan? Boleh saya kenalan?" tanya Bagas pelan.
Bagas sudah duduk di atas kasur empuk sambil menatap Kinan yang tengah sibuk merapikan pakaiannya. Kinan menoleh ke arah Bagas. Tak mengerti dengan ucapan nyeletuk Bagas yang sejak tadi siang itu terlihat aneh dengan sikap yang tidak biasa.
"Kenapa dengan Ayah Bunda Kinan? Kok sampai mau kenalan segala?" tanya Kinan dengan raut wajah mulia di tekuk. Kinan merasa Bagas mulai banyak bertanya dan ingin tahu tentang dirinya.
Baru juga beberapa menit. Ucapan Kinan sama sekali tidak di balas. Malahan yang ada suara dengkuran halus dari arah belakang. Kinan pun menoleh ke arah belakang. Dengan santainya, Bagas merebahkan tubuhnya di atas kasur milik Kinan yang belum di coba sama sekali.
"Apa? Pak Bagas malah tertidur? Kenapa jadi begini sih?" ucap Kinan pelan sambil mengepalkan tangannya karena kesal.
Kinan hanya bisa menarik napas panjang dan dalam. Kelakuan Direkturnya itu agak unik memang. Jadi biarkanlah. Lagi pula, selama ini Bagas selalu berlaku sopan dan tidak pernah macam - macam.
__ADS_1
Kinan pun mulai membereskan semua isi kedua koper itu. Tak hanya pakaian saja. Beberapa make up, alat mandi pun sudah di siapkan di tempatnya masing - masing.
Selang dua jam, tepatnya kini sudah jam tuujuh malam. Baru saja selesai, dan Kinan benar - benar merasa lelah dan lemas. Tenggorokan mulai haus dan perut mulai lapar. Kinan duduk di salah satu sofa kecil yang ada di kamar itu sambil kedua kakinya naik ke atas kursi dan bersila. Jas yang di pakainya di lepas dan di rentangkan untuk menutupi sebagian pahanya yang mulus yang tak tertutupi oleh rok pendeknya.
"Kenapa belum bangun juga sih? Gak mungkin juga kalau di bangunin kan? Kalau nunggu sampai bangun, entah jam berapa Pak Bagas akan bangun," ucap Kinan pelan mengumpat. Dirinya jadi serba salah. Tubuhnya juga capek mau tiduran. Tapi perutnya juga lapar dan haus. Kulkas masih kosong, belum ada makanan dan minuman yang bisa di nikmati.
Kinan bangkit berdiri. Jasnya di lempar begitu saja di sofa itu. Rambutnya pun di cepol ke atas hingga lehernya yang mulusdengan kulit bersih sawo matang itu terlihat seksi.
Tubuhnya yang mungil dan hanya memakai rok pendek dan kemeja berbahan satin tanpa lengan. Kinan mulai mencari ponselnya. Ia memesan beberapa makanan dan minuman siap saji. Lalu, Kinan membeli beberap minuman dan cemilan dan beberapa kebutuhan yang penting sekali melalui aplikasi belanja online.
Ia kembali duduk dan membuka pesan singkat yang sejak sore tak di bukanya. Banyak sekali pesan singkat yang masuk. Salah satunya dari Mas Ardi, Mas Dimas, Mbak Shella, Ayah, Bunda dan Dika ... Nama ini, kini sellau gencar dan selalu ada di setiap pesan singkat yang masuk atau di panggilan tak terjawab.
Satu per satu pesan singkat itu di buka oleh Kinan. Dan pesan singkat yang paling membuat Kinan penasaran adalah pesan singkat yng di kirim dari Dika. Pesan singkat itu berderet sekitar ada tiga pesan dalam waktu yang berdekatan dan ada dua kali panggilan tak terjawab.
Ketiga pesan itu pun di buka oleh Kinan. Pesan yang pertama berisi permintaan maaf Dika kepada Kinan karena telah mengganggu Kinan dengan menelepon berkali - kali. Lalu, pesan yang kedua adalah, rasa khawatir Dika terhadap Kinan, atas kejadian kakinya yang terkilir. Lalu, pesan yang terakhir, Dika menanyakan alamat terbaru Kinan.
Kinan membalas pesan Dika dengan jawaban singkat.
"Besok akan Kinan beritahu, jika bertemu," balas Kinan dengan cepat.
Tidak lama pesan itu pun langsung berbalas.
"Aku sudah tidak bekerja lagi di sana, Kinan." begitu balasan Dika.
"Kamu keluar, Dik?" tanya Kinan dalam pesan singkatnya.
"Ya. Ada hal lain yang harus aku selesaikan." jawab Dika di tambah emoji yang bergambar lengan berotot, menandakan semua harus di jalani dengan kuat.
__ADS_1
"Apa itu, Dika?" tanya Kinan kembali.
"Jika, suatu hari kita di ijinkan untuk bertemu lagi. Maka aku akan bercerita tentang semua ini. Ekhem ... ada hal lain juga yang ingin aku tanyakan kepadaku, Kinan?" ucap Dika dengan suara pelan.
"Kenapa tidak kamu ceritakan sekarang saja, Dik? Kamu malah membuat Kinan penasaran?" ucap Kinan pelan.
"Kamu sudah makan, Kinan?" tanya Dika yang begitu peduli dan perhatian dalam pesan singkat itu.
"Belum. Baru saja selesai membereskan pakaian. Lagi pesan makanan, tapi belum datang," ucap Kinan membalas pesan isngkat itu.
Pesan singkat itu tak di balas lagi oleh Dika. Tiba - tiba saja, ponselnya seperti tidak aktif. Di saat yang sama semua pesanan Kinan pun datang. Dua menu makanan dan minuman cepat saji dan pesanan dari salah satu mini market yang bisa di anatarkan pesanan belanjaannya.
Kinan menyiapkan dua makanan itu dalam piring. Biar bagaimana pun. Bagas adalah atasannya dan telah baik membantunya untuk mendapatkan tempat tinggal yang baru.
"Kinan? Kamu tidak membangunkan saya?" ucap Bagas dari arah ruang tengah yang tersambung dengan mini bar yang di gunakan sebagai dapur bersih seklaigus ruang makan.
"Pak Bagas. Maaf tadi terlihat nyenyak. Tapi, sudah Kinan pesankan makanan juga. Pasti sudah lapar kan?" tanya Kinan dengan suara pelan sambil sibuk membuatkan kopi latte yang biasa Kinan buat untuk kedua kakaknya yang terlalu manja dengan bikinan kopi Kinan.
Bagas pun berjalan menuju ruang makan. Wajahnya masih terlihat lelah dan duduk di salah satu kursi makan.
"Ini beli?" tanya Bagas melihat dua makanan yang sudah di letakkan di dalam piring makan.
"Beli Pak. Kinan baru selesai beres - beres," ucap Kinan pelan sambil membawa dua gelas kopi latte, satu dengan pemanis untuk Bagas, dan satu lagi tanpa pemanis untuk Kinan.
Kinan meletakkan dua gelas kopi tersebut di atas meja.
"Terima kasih, Kinan," ucap Bagas pelan sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Kinan memang bukan gadis biasa, bahkan wanita yang luar biasa. Tidak hanya cantik, pintar, tapi Kinan biasa membuat Bagas senang.