
Kinan mulai gelisah. Kini waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Bagas tidak menunjukkan tanda -tanda keluar dari dalam ruangannya. Berkas yang harus di tanda tangani Bagas juga belum di kembalikan. Biasanya Bagas akan menelepon Kinan dan mengambil semua berkas yang sudah selesai di tanda tangani oleh Bagas.
"Hufff ... Ngapain aja sih di dalam. Bukannya cepet di balikin itu berkas biar bisa di kerjain. Malah senagja di tunda," umpat Kinan kesal. Kinan duduk bersandar di kursinya dengan kepala menengadah ke atas dan kedua matanya teerpejam. Bibirnya masih saja mengumpat kesal sambil menggoyang -goyangkan kursinya hingga berputar mengikuti tubuhnya.
Kinan mengingat kejadian barusan di dalam ruangan Bagas. Bisa -bisanya Bagas mencuri ciuman di bibirnya. Bibir ini sengaja ingin di berikan untuk suaminya kelak, tapi sudah ternodai oleh Bagas, direkturnya sendiri.
"Arghh ... Menyebalkan sekali sih," umpat Kinan semakin kesal. Kinan hanya bisa mendesah saja tanpa bisa berteriak keras mengeluarkan seluruh emosinya karena ini di kantor.
Bagas sudah keluar sejak tadi dan berdiri di depan pintunya. Kedua matanya tertuju menatap Kinan yang berbicara sendiri dengan kepala melihat ke atas langit -langit serta menutup kedua matanya. Bagas hanay mengulum sneyum, lucu juga tingkah Kinan itu.
"Mau kerja atau mau santai -santai?" ucap Bagas dengan suara lantang hingga mengagetkan Kinan.
Kinan langsung memebuka kedua matanya dan duduk dengan tegak sambil merapikan pakaiannya. Kedua matanay saling bertemu pandang dengan kedua mata tajam Bagas yang sejak tadi mengamatinya.
__ADS_1
"Se -serius kok, Pak. Tadi hanya meregangkan otot saja. Agak lelah," ucap Kinan berbohong.
"Meregangkan otot bibir? Dari pagi kan saya sudah bilang. Kalau saya libur, karena sekertaris kesayanagn saya bilang kalau mood jelek mendingan libur jangan kerja, bikin gak fokus," tegas Bagas pada Kinan.
Kinan hanya diam. Ucapannya tadi di kembalikan lagi pada dirinya.
"Tapi itu kan hanya sebuah saran, Pak. Saya menunggu berkas yang saya minta untuk di tanda tangani oleeh Bapak, biar saya selesaiakn pekerjaan saya hari ini," ucap Kinan pada Bagas.
"Maaf. Saya lagi gak mood. Kalau lagi gak mood, cuma tanda tanagn pun bisa berubah bentuknya. Kamu mau? Bila nanti di anggap memalsukan tanda tangan saya?" ancam Bagas pada Kinan.
"Apakah ada kata -kata saya yang terlontar dengan ancaman? Gak ada kan? Ayok ikut saya," titah Bagas pada Kinan.
"Ikut Bapak? Ini jam kantor Pak," ucap Kinan mengingatkan.
__ADS_1
"Tapi kamu itu sekertaris saya. Kamu menolak ajakan saya? Ini berpengaruh pada maju mundurnya perusahaan. Kita mau ketemu klien," ucap Bagas melotot.
"Tapi ... Hari ini tidak ada jadwal pertemuan dengan klien, Pak Bagas. Kinan sudah cek jadwal di agenda khusus," ucap Kinan mengingatkan.
"Tidak semua klien terjadwal di agenda kamu, Kinan. Kalau kamu merasa sudah tidak sanggup lagi jadi sekertaris saya. Lebih baik kamu mengundurkan diri saja," tegas Bagas pada Kinan.
"Pak Bagas kok gitu sih? Iya, Kinan ikut Pak bagas sekarang," jawab Kina pasrah. Kinan langsung mematikan komputernya dan mengambil tasnya yang ekmudian di selempangkan di bahunya.
Kinan tidak punya pilihan lain. Menjadi salah satu karyawan di Perusahaan Terbesar itu memiliki kebanggaan tersendiri. Kinan pun senang saat bisa di terima di Perusahaan ini.
"Ya sudah ayok," titah Bagas pada Kinan dan langsung menggandeng tangan Kinan dengan erat.
Kinan menatap tangannya yang di genggam erat oleh Bagas dan berjalan di samping Bagas.
__ADS_1
"Pak ... Bapak ...." panggil Kinan pada Bagas.
Bagas hanya diam dan tak menggubris panggilan Kinan. Kinan hanya bisa menunduk malu. Takut jika karyawan lain melihat, etntu habislah riwayat Kinan di Kantor.