
"Apa kamu tidak percaya kalau Pandu itu adalah calon suamiku? Inta1n, kau bisa tanyakan langsung pada Pandu siapa aku di dalam hatinya, kamu akan menemukan jawabannya. Dan, kenapa memangnya? Kenapa memangnya aku tidak boleh menyebut suamimu di hadapan Pandu, apa kamu selama ini belum menceritakan bahwa kamu itu sudah memiliki suami?" tanya Dinda memancing emosi Intan.
"Memangnya apa urusanmu Dinda, aku berkata bahwa aku sudah memiliki suami atau tidak, bukan urusan mu!" celetuk Intan marah.
"Kalau begitu silahkan saja. Tapi jangan kamu pikir kalau aku akan membiarkan kamu mengambil alih cinta Pandu untukku, karena aku telah berusaha mengalah padamu saat kamu merebut mas Rehan dariku, aku pergi dan menyingkirkan diriku juga anakku, bahkan anakku sudah tidak mendapatkan hak nya lagi karena dirimu, tapi sekarang, jangan harap aku akan mengalah, Pandu milikku Intan, dan aku tidak akan membiarkan kamu merebutnya dariku, ingat itu." jelas Dinda dengan tatapan tajam nya.
Saat itu Intan tidak bersuara, ia benar-benar tidak menyangka jika hari ini ia melihat Dinda yang berbeda, ia tidak lagi melihat sosok Dinda yang penakut dan pasrah, namun kali ini Dinda menunjukkan dirinya bahwa ia layak untuk berdiri tegap melawan Intan.
Dengan percaya diri Dinda pun melangkah pergi meninggalkan Intan yang masih menatap kosong dirinya, ia menghampiri Pandu dan Wulan saat itu, lalu mengajak mereka pergi dari tempat itu dan meninggalkan Intan.
Intan menghentakkan salah satu kakinya karena merasa sangat kecewa dengan Pandu dan juga Dinda, saat itu Intan berhadapan bahwa Pandu akan menghampirinya, namun harapan nya ternyata salah besar. Pandu pergi begitu saja bersama dengan Dinda dan juga Wulan.
***
"Argh, sial! Kenapa si Pandu nyebelin banget, kenapa Pandu justru memilih Dinda bukannya aku, kenapa dia ikut pergi bersama Dinda dan tidak menghampiri aku!" marah Intan yang menghempaskan tasnya di ranjang.
Intan pulang dengan hati yang sangat kesal, saat itu Intan marah pada dirinya sendiri dan juga takdir yang sedang ia alami, ia tidak menyangka jika ternyata kini nasibnya bisa jauh lebih buruk dari Dinda, Dinda kini semakin hari semakin sukses dan terkenal, sementara dirinya? Sebuah kebangkrutan sudah terlihat di depan mata, dan hal itu pun membuat Intan begitu sangat emosional.
Rehan tidak sengaja mendengar Intan berbicara bahwa Dinda memiliki calon suami, dan hal itu membuat Rehan sedikit tidak percaya, hingga ia penasaran dan ingin membuktikannya sendiri saat itu. Rehan masuk menemui Intan dan menatap wajahnya dengan serius.
"Intan, bisa kamu kasih tahu aku di mana alamat tempat tinggal Dinda sekarang?" pinta Rehan yang ingin sekali mencari tahu tentang Dinda.
__ADS_1
"Kenapa Mas, kamu penasaran ya sama Dinda, kamu pengen ya ketemu sama mantan istri kamu itu? Asal kamu tahu Mas, Dinda sudah menjadi wanita sukses dan memiliki calon suami yang memiliki pendidikan tinggi, memiliki perusahaan sendiri dan tentunya tampan," ucap Intan memuji Pandu.
"Calon suami? Apa itu artinya Arka akan memiliki ayah sambung?" Rehan menatap wajah Intan dengan serius.
"Tentu saja Mas, kenapa? Apa kamu merasa menyesal karena selama ini kamu telah menyia-nyiakan putramu itu, atau penyesalan mu juga kamu rasakan untuk Dinda, mantan istrimu!" celetuk Intan membalas tatapan Rehan.
"Intan, kenapa kamu tidak bisa menjaga bicaramu, kata-kata mu itu cukup menyakiti Intan," protes Rehan yang tidak suka mendengar Intan bicara seperti itu.
"Jangan pura-pura Mas, aku cukup memahami sikapmu. Dan kalau kamu mau datang menemui Dinda, aku akan segera mengirimkan alamatnya." jawab Intan tanpa basa basi.
Intan pun menuliskan alamat tempat tinggal Dinda sekaligus usaha yang saat ini sudah menjadikan nya sukses seperti ini, dan setelah menerima alamat tersebut Rehan tak mengindahkan ocehan dan omelan dari Intan, ia bertekad bahwa ia akan segera menemui Dinda dan melihat apa yang dikatakan oleh Intan itu benar atau tidak.
Keesokan paginya, Rehan sudah siap untuk pergi ke alamat yang telah diberikan oleh Intan, saat itu Rehan menggunakan taksi online agar kedatangannya untuk mencari tahu tentang Dinda tidak begitu terlihat oleh umum, ia hanya ingin memastikannya saja.
Saat Dinda menoleh ke arah tepat di belakangnya, Dinda menyadari bahwa di hadapannya kini ada Rehan, mantan suaminya dahulu.
"Mas Rehan," lirih Dinda menyebut nama Rehan.
"Dinda, apa ini beneran kamu?" tanya Rehan ragu.
"Ya Mas, ini aku. Ada keperluan apa Mas, kamu datang pagi-pagi ke sini? Apa kamu mau melakukan perawatan," Dinda menatap Rehan dengan penuh tanya.
__ADS_1
"Enggak, aku datang ke sini bukan untuk melakukan perawatan di sini, tapi aku hanya ingin mengetahui kalau apa yang dikatakan oleh Intan itu benar atau tidak," ucap Rehan memperhatikan Dinda dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Soal apa Mas?" Dinda menatap semakin serius.
Rehan pun menjelaskan kedatangannya yang sebenarnya, saat itu Dinda hanya mendengarkan bahwa ternyata Rehan tidak menyangka jika dirinya memang sudah berubah, melihat tatapan Rehan yang berbeda membuat Dinda tersenyum kecil di pipinya, karena ia merasa senang, mantan suaminya itu akhirnya mengakui bahwa dirinya saat ini jauh lebih baik daripada saat ia bersama dengan Rehan.
Saat sedang memuji Dinda di hadapannya secara langsung, tiba-tiba bi Iyas datang bersama dengan Arka. Saat itu Arka mencari ibunya lantaran ingin bermain dengannya, namun ia tidak menemukan ibunya di dalam.
"Mama," lirih Arka memanggil Dinda.
Dinda tersadar, ia lalu mengalihkan perhatian nya pada Arka, dengan senyuman yang begitu ceria. Sementara Rehan sendiri nampak heran ketika melihat seorang anak kecil yang memanggil nama Dinda dengan sebutan mama.
"Siapa dia, Dinda?" tanya Rehan bingung.
"Dia adalah putraku, Arka," ucap Dinda dengan bangga, memperkenalkan Arka sebagai putra yang tidak diharapakan ayahnya.
"J-jadi.... Ini adalah Arka? Ya ampun, sudah tumbuh besar," puji Rehan melempar senyum.
"Ya, dan sebenar lagi dia akan masuk sekolah dasar." jawab Dinda singkat.
Rehan melempar senyum, entah mengapa hatinya saat ini ingin sekali menyentuh pipi Arka, putra nya yang ternyata tidak mengenali siapa dirinya.
__ADS_1
Bi Iyas menunjukkan sikap tidak sukanya saat itu, karena melihat kedatangan Rehan yang sok baik dan sok ramah pada Dinda dan juga Arka, bi Iyas pun memutuskan untuk bertindak, ia menarik pergelangan tangan Arka ketika Rehan hendak mendekati nya.