Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.39


__ADS_3

Makan malam yang terbilang sukses walaupun hanya bertiga saja. Kinan mulai bisa ikutmasuk ke dalam suasanan keluarga tersebut. Hubungan Ibu dan anak itu begitu kental dan sangat dekat. Bahkan Bagas tidak malu, bermanja - manja dnegan Sang Mama di depan Kinan.


Kesalah pahaman pun mulai bisa di terima baik. Hanya saja, Kinan masih belum bisa mempercayai semua ini.


Kini, Bagas dan Kinan duduk di salah satu kursi taman yang ada di taman belakang. Kursi besi berwarna putih.


"Kita sudah lama tidak bertemu," ucap Bagas dengan suara lembutnya mencairkan suasana hening di sana.


Keduanya tadi smepat terdiam dengan pandangan mata yang menerawang jauh entah kemana. Tak menyangka malam ini menjadi malam yang indah bagi keduanya. Namun, kebahagiaan itu tidak bisa terus di umbar agar terlihat.


"Iya Pak," jawab Kinan begitu singkat.


"KInan ...." Bagas memanggil nama itu dengan lirih. Tangan kanan Bagas mulai memegang tangan kiri Kinan dan menggenggamnya erat.


Kinan menoleh ke arah Bagas, tanpa menjawab sepatah kata pun.


"Saya tidak ingin kehilangan kamu lagi," ucap Bagas begitu pelan.


Rasanya aneh, tapi terdengar sedih dan pilu.


"Pak? Kita hanya teman lama, lebih tepatnya teman masa kecil," ucap KInan mengingatkan. Kinan tetap membiarkan Bagas memegang tangannya, ia sendiri pun rindu akan masa - masa kecilnya dulu.


Jadi dulu, rumah mereka itu satu kompleks. Kebetulan kedua keluarga ini adalah memiliki hubungan persahabatan yang baik. Saat itu, Kinan masih terllau kecil untuk mengingatnya. Kedua kakak laki -lakinya terlalu asyik dengan bermain kesukaan dan lebih memilih permainan yang di sukai laki -laki. Mereka lupa, jika adik kecil mereka adalah seorang perempuan yang masih kecil, hanya bisa berlari mengikuti kemana pun kedua kakaknya pergi tanpa tahu bahaya mengundangnya.


"Memangnya kamu tidak ingin, saya lamar, Kinan? Saya menunggu kamu sejak lama?" ucap Bagas pelan.


"Menunggu?" tawa Kinan langsung pecah. Cukup lucu juga lawakan Bagas malam ini.

__ADS_1


"Iya. Menunggu kamu. Sudah sejka lama saya jatuh cinta dnegan kamu, bahkan sejak kita masih kecil," ucap Bagas pelan meyakinkan Kinan.


"Apa? Bapak yakin? Dulu kita masih kecil dan belum tahu arti cinta," ucap Kinan membela diri.


"Setidaknya aku punya rasa kagum terhadap kamu, Kinan. Entah kenapa, rasa itu mulai tumbuh sejak dulu," ucap Bagas sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi taman itu dan kedua matanya menerawang ke atas langit yang begitu tliht cerah dan indah karena taburan bintang.


"Itu hanya rasa kagum seorang anak kecil, Pak. Tidak akan mungkin di bawa sampai ia dewasa. Mungkin Bapak hanya sedang rindu dengan masa - masa indah sewaktu kita kecil, dan perasaan yang baru saja Bapak ungkapkan itu hanya kamuflase," ucap Kinan dnegan tegas.


Kinan sendiri tidak sadar menjawab apa. Ia benar - benar tidak tahu harus menjawab apa dalam kegugupannya.


"Apa kamu tidak mempercayaiku? Kamu masih gak yakin?" tanya Bagas pelan dengan tangan yang etrus menggenggam tangan Kinan.


Kinan mencoba menenangkan dirinya dan membenarkan duduknya denagntegak agar aliran darah di tubuhnya sedikit mengalir lancar. Perlahan tangan kirinya di lepaskan dari genggaman Bagas. Mereka ekarang sudah besar, sudah dewasa, bukan seperti mereka yang dulu kenal. Dulu masih kecil, belum tahu apa -apa, bahkan rasa malu pun tidak ada. Mereka mungkin dulu berani saling gendong - gendongan, atau berpeganagan tangan atau yang lebih ekstrim saling mencium pipi, itu dulu, tidak untuk sekarang. Untuk saling menatap mata saja, rasanya jantung sudah mau copot. Padahal sudah sekian puluh tahun lamanya mereka tidak bertemu, tidak mungkin rasa suka itu masih terawat dengan subur bagai bunga di taman.


Bagas hanya mentap tangan Kinan yyang beringsut keluar dari genggaman tangannya.


"Kinan belum yakin," jawab Kinan pelan.


"Lalu? Saya harus menunggu kamu lagi? Untuk berapa lama?" tanya Bagas melemah. Bagas kira malam ini akan menjadi malam yang membahagiakan untuknya ternyata semua itu salah, dan tidak sesuai kenyataan.


"Kinan tidak menyuruh seperti itu. Kinan tidak ingin di tunggu, Pak," ucap Kinan yang menjadi bimbang. Ia memang kagum dengan Bagas, tapi tidak lebih dari perasaan kagum saja, bukan untuk ingin memiliki. Tujuan Kinan hanya ingin bekerja dan berkarir.


"Lalu? Kita ini sudah di jodohkan, Kinan? Tidak ada salahnya kita publikasikan juga, hubungan kita di kantor? Apa kamu malu, jalan dengan saya? Apa karena saya terlalu tua untuk kamu?" tanya Bagas mulai konyol dengan semua pertanyaan dan pemikirannya.


"Gak Pak. Bukan masalah itu. Tapi, memang Kinan belum ada perasaan apapun dnegan Bapak. Tolong Bapa mengerti," ucap Kinan lirih.


"Jika saya datang melamar kepada orang tuamu, apa kamu juga akan menolakku seperti ini? Toh, kita sudah di jodohkan?" tanya Bagas yang tak mau kalah dalam masalah ini. Bagas hanya tidak ingin Kinan tergoda dengan lelaki lain.

__ADS_1


"Kalau itu urusannya lain, Pak. Kinan lelah, mau istirahat," ucap Kinan pelan.


Malam ini KInan memang di suruh menginap oleh Mama Anita. Kinan tidak di perbolehkan pulang dan tidur di kamar tamu.


Kinan bangkit berdiri dan akan berjalan menuju kamar tamu yang tadi telah di tunjukkan oleh Mama Anita untuk istirahat Kinan malam ini.


"Kinan?" panggil Baga pelan sambil memegang tangan Kinan. Kinan pun berbalik dan menghadap ke arah Bagas yang sudah ad di hadapannya.


Pearsaan Bagas masih sama, bahka tidak pernah luntur atau hilang seklai pun. Rasa cintanya begitu besar kepada


KInan.


Cup ...


Kening Kinan di kecup lembut oleh Bagas secara tiba - tiba. Jujur, rasanya Kinan ingin terbang melayang ke awan. Rasanya membuat hati dan tubuh bergetar.


Kinan hanya terdiam dan bersikap seolah - olah tidak terjadi apa -apa di antara mereka berdua barusan.


Tubuhnya berbalik dnegan cepat dan langsung berjalan meninggalkan Bagas. Jangan sampai Bagas tahu, jantung Kinan sedang kacau. Detaknya begitu cepat terasa hingga membuat sesak di dadanya.


"Semoga mimpi indah, Kinan" ucap Bagas setngah berteriak saat ia tersadar Kinan sudah berjalan menjauhinya.


Bagas pasti akan menerima resiko terburuk esok hari atas keberaniannya malam ini mencium kening Kinan.


Degub jantung Kinan masih terasa belari - larian. Tidak hanya jantungnya, aliran darahnya pun terpicu mnegalir ke ubun -ubun. Antara senang, bahagia dan kesal juga.


'Apakah ini tandanya Kinan juga cinta sama Pak Bagas? Tapi, Kinan ... Argh mungkin ini hanya perasaan biasa saja, bukan rasa suka atau rasa cinta antara dua lawan jenis,' batin Kinan di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2