Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.22


__ADS_3

Dika dan Kinan berpisah di halaman depan kantor. Dika berjalan menuju parkiran motor untuk mengambil motornya. Sedangkan Kinan berjalan ke arah luar kantor untuk mencari taksi online.


"Mbak Kinan? Mau pulang juga? Nunggu siapa?" tanya Dika yang tiba - tiba sudah berada di dekat Kinan berdiri di halte untuk menunggu angkutan umum.


"Dika?" jawab Kinan sedikit terkejut. Dika sudah seperti jalangkung yang tiba - tiba datang tanpa di undang.


"Nunggu pacar?" tanya Dika lembut sambil membenarkan posisi helm yang sedang di apkainya.


"Nungu angkutan umum, lebih tepatnya," jawab Kinan tanpa basa basi. Tubuh Kinan sudah lelah. Ingin rasanya cepat pulang ke rumah dan merebahkan tubuhnya di kasur hingga tertidur pulas sampai pagi hari.


Mendengar jawaban Kinan. Dika pun mengedarkan pandangannya, mencari angkutan umum di sore hari yang mulai terasa sulit di temui.


"Angkutan umum? Ini sudah sore? Kamu gak akan mudah cari angkutan kalau sudah jam segini." ucap Dika pelan sambil mencari - cari angkutan mikrolet yang biasa lewat di jalan raya tersebut.


"Oh ya? Kalau taksi online?" tanya Kinan sambil membuka ponselnya untuk mencari aplikasi yang bisa memesan taksi online.


"Bisa. Tapi, taksi online jam segini itu, jarang menerima orderan karena jam sibuk dan macet," jawab Dika pelan.


Kinan menatap Dika lekat, mencari suatu kebohongan di sana. Kinan hanya takut situasi ini hanya akan di manfaatkan oleh segelintir orang. Secara Kinan hanya gadis desa yang mempunyai mimpi bisa sukses di Jakarta.


"Masa sih?" tanya Kinan yang merasa tidak yakin dnegan jawaban Dika.


"Kalau tidak percaya, kamu bisa coba saja lewat aplikasi. Tapi saya gak bisa menjmin itu. Lihat saja, jalanan ini begitu ramai dan padat akan kendaraan baik roda empat dan roda dua. Makanya, saya lebih suka naik motor butut ini," ucap dika merendah sambil tersenyum lebar dengan nagganya.


Kinan hanya menarik napas dalam saat mulai menekan dan mencari taksi online di dalam aplikasi yang telah terinstal di ponselnya. Benar dan tepat apa yang di kartakan Dika. Beberapa kali Kinan mencari informasi yang di berikan hanya lalu lintas padat dan semua pengendara jasa online sedang dalam kesinbukannya masing - masing.


Wajahnya langsung muram dan terlihat lesu.


"Kenapa? Ada taksi onlinenya?" tanya dika pelan dan lembut. Dika yang ingin pulang lebih cepat pun langsung mengurungkan niatnya karena kasihan kepada Kinan yang terlihat mulai panik dan bingung.


"Benar kata kamu, Dika. Semua tidak mau menerima pesanan," jawab Kinan lirihh. Kinan semakin bingung, bagaimana upayanya lagi agar Kinan bisa pulang.

__ADS_1


"Apa mau aku antar, Mbak Kinan? Memang kos Mbak Kinan, dimana?" tanya Dika pelan dengan sedikit ragu.


"Kamu yakin mau mengantarkan Kinan?" tanya Kinan memastikan kembali ucapan Dika.


Dika mengangguk pelan.


"Ya. Mana alamatnya? Siapa tahu searah?" ucap Dika pelan.


"Ini alamatnya? Jauh kan?" tanya Kinna pelan.


"Oh ... Ini satu arah sama rumah saya. Kalau boleh dan di ijinkan, saya bisa antar Mbak Kinan," ucap Dika pelan.


"Benarkah? Ini kos calon kakak ipar Kinan. Kebetulan Kakak Kinan menyuruh Kinan untuk ikut tinggal bersama pacarnya, biar Kinan ada yang menjaga. Tapi, hari ini, Mbak Shella harus lembur jaga malam di rumah sakit. Makanya tidak bisa menjemput Kinan," ucap Kinan sendu.


"Ya sudah. Yuk naik? Atau mau cari kos dekat sini, biar Mbak Kinan bisa jalan kaki kalau ke kantor. Di daerah sini banyak kos dan kontrakan juga, karena banyak gedung dan perusahaan sehingga banyak karyawan yang membutuhkan kos atau kontrakan sebagai tempat tinggal," ucap Dika pelan.


"Bener? Gak keberatan? Takutnya malah ngerepotin?" tanya Kinan dengan sungkan.


"Sama sekali gak kok, Mbak KInan," jawab Dika pelan.


Dika tertawa pelan.


"Sudah terbiasa Mbak Kinan. Karena pekerjaan saya menuntut saya untuk bersikap sopan dan menghargai," ucap Dika pelan.


"Ya ... Sama Kinan, jangan di biasakan dong? Kita kan bisa jadi teman baik?" pinta Kinan pelan.


"Bisa. Dengan sennag hati malah," jawab Dika spontan dengan senyum merekah.


Kinan pun ikut tersenyum mendengar jawaban Dika. Setidaknya di hari edua ini, Kinan sudah memiliki teman baru yang bisa di ajak bicara dan sharing.


"Kita pulang sekarang. Lihat sudah mulai gelap," ucap Dika dengan suara pelan.

__ADS_1


"Oke. Kita langsung pulang saja. Cari tempat kosnya lain waktu saja. Kinan harus berunding dengan kakak Kinan dan juga orang tua Kinan di Yogya," ucap Kina dengan suara pelan.


"Oke. Gimana baiknya saja. Kan saya di sini hanya bersifat ingin membantu hja," jawab Dika pelan.


Kinan sudah duduk di atas motor dengan posisi duduk menyamping. Maklum rok pendek span yang di pakainya tidak memungkinkan Kinan untuk duduk melangkah seperti biasanya naik ojek.


Keduanya semakin akrab. Perjalaan yang macet dan padat itu membuat mereka terus mencari tema unik untuk di obrolkan agar tidak membosankan.


Perjalanan yang cukup memakan waktu itu pun tak terasa lama. Keduanya sudah smapai di jalan menuju kos Kinan.


"Dika?" panggil kinan dari arah belakang pelan dan tampak malu.


"Ya, Kenapa, Mbak Kinan?" jawab Dika pelan sambil fokus menyetir motornya.


Dika cukup lincah membawa motor itu melik - liuk di antara kendaraan agar cepat samapi dan terhindar dari kemacetan yang sangat panjang. Kepala Dika sedikit menoleh ke belakang ke arah Kinan dengan tubuh yang sedikit di mundurkan agar terdengar jelas suara Kinan saat mengajaknya bicara.


"Makan dulu yuk? Kinan yang traktir," ucap Kinan pelan mengajak Dika yang terlihat lelah. Setidaknya ini sebagai ucapan terima kasih sudan membantu KInan dnegan memberikan tumpangn kepada dirinya.


"Makan? Ekhemm ...." jawab Dika yang seolah sulit mengiyakan perminataan Kinan.


"Kenapa? Kok kayaknya sulit?" tanya Kinan pelan. Kinan padahal sudah mengekpetasikan jawaban Dika.


"Ibuku sakit, Mbak Kinan. Aku harus segera pulang," ucap Dika tegas.


Ibunya memang sedang sakit. Dika tidak boleh memaksakan kehendaknya hanya untuk sebuah traktiran makan.


"Sakit apa? Ya sudah di bungkus saja, makanannya. Stop di sini, biar Kinan beli makan dulu sebentar," paksa Kinan dengan tegas.


"Tidak usah Mbak Kinan. Kita langsung pulang saja," ucap Dika pelan.


"Berhenti kata Kinan. Kinan lapar, harus makan," titah Kinan mulai galak.

__ADS_1


Dika hanya bisa pasrah dan mengangguk kecil. Kinan pun langsung turu dan masuk ke salah satu tempat makan bertenda di pinggir jalan.


Kinan hanya tidak ingin berhutang budi, setidakanya ada hal lain yang bisa Kinan lakukan untuk membalas kebaikan Dika.


__ADS_2