
"A-ada apa, apa penawaran ku ini tidak etis?" tanya Pandu yang membalas tatapan Dinda dan juga Wulan.
"Tidak salah Pandu, kau memberikan tawaran yang keliru, baik si, tapi tidak pantas jika kau tinggal bersama Dinda tanpa status apapun di dalam satu rumah, apalagi saat ini Dinda statusnya sudah menjadi janda, akan sangat sensitif sekali di kalangan masyarakat," ucap Wulan yang mencemaskan penilaian dari orang-orang luar.
"Ya, ini benar sekali. Status ku sudah sangat buruk di mata masyarakat, jadi mungkin lebih baik kalau aku menerima tawaran dari Wulan saja, tapi bukan berarti kita putus pertemanan Pandu," seru Dinda melempar senyum kala itu.
"Tentu, aku kalau kita putus berteman mungkin aku akan pindah ke planet mars agar tidak bertemu dengan mu lagi." jawab Pandu membalas senyuman Dinda.
Mereka pun tertawa bersama kala itu, sambil menikmati minuman yang tersedia di meja, Pandu saat itu mencuri-curi pandang pada Dinda yang fokus mengobrol dengan Wulan, entah mengapa ketika itu hatinya berdesir menatap senyuman Dinda yang begitu sangat manis, jika sebelumnya Pandu hanya menganggap Dinda adalah teman biasa, namun mungkin bisa saja seiring berjalannya dengan waktu Pandu akan memiliki perasaan lain saat itu.
Beberapa saat kemudian, Dinda harus bersiap-siap membereskan semua yang akan ia bawa pergi, untuk itulah ia memutuskan untuk berpamitan pada Pandu dan juga Wulan.
"Emmm, aku pamit dulu ya kalau gitu, soalnya ada banyak tugas yang harus aku lakukan di rumah," ucap Dinda berpamitan.
"Iya Dan, tugas kamu memang banyak sekali, dan nanti kalau udah selesai, kamu kabarin aku ya, aku ****** kamu pakai mobil," seru Wulan yang sangat baik hati itu.
"Terima kasih banyak Wulan, semoga saat usahaku sukses, aku bisa membalas semua kebaikan kamu," sahut Dinda terharu.
"Aamiin, aku akan mendoakan semoga harapan mu menjadi kenyataan, agar aku bisa kecipratan." jawab Wulan penuh senyum.
Dinda pun tersenyum, saat itu ia hendak bangkit dari tempat duduknya, dan saat ia melangkah tiba-tiba Pandu menawarkan diri untuk mengantarkan Dinda pulang.
__ADS_1
"Emmm, kamu ke sini tadi naik taksi kan? Sekarang pulang nya biar aku antar ya," tawar Pandu pada Dinda.
"Nggak usah Pandu, nggak usah repot-repot, kamu masih mau ngopi bareng kan sama Wulan, jadi nggak papa, biar aku pulang naik taksi," tolak Dinda yang merasa tidak enak hati.
"Udah Din, terima aja tawaran Pandu, lagian juga itung-itung ngirit kan? Kamu nggak perlu keluar uang buat bayar taksi, karena sama Pandu gratis." jawab Wulan yang meminta Dinda untuk menerima tawaran Pandu.
Dinda sebenarnya merasa tidak enak hati pada Wulan, namun karena Wulan sendiri lah yang setuju dengan penawaran Pandu, akhirnya Dinda pun menerima tawaran dari Pandu, mereka akhirnya pulang bersama.
Di sepanjang perjalanan Pandu dan Dinda saling mengobrol ringan, saat itu Pandu terlihat begitu bersemangat menghibur Dinda yang sedih ketika Pandu membahas tentang rumah tangganya bersama dengan Rehan. Pandu menarik tissue yang ada di hadapannya, lalu mengulurkan tissue tersebut pada Dinda.
"Dinda, maafkan aku ya, kalau pembahasan ku ini membuat hatimu terluka," ucap Pandu yang masih menyodorkan tissue itu pada Dinda.
"Jadi, orang tua mu tidak tahu kalau kau sudah bercerai dengan suamimu?" ulang Pandu yang saat itu menatap Dinda dengan serius, sesekali ia menatap jalanan agar ia tetap berada di jalur yang benar.
"Ya, mereka tidak tahu. Karena aku sendiri bingung harus memulainya darimana. Terakhir orang tuaku datang ke rumah beberapa bulan yang lalu, saat aku masih menutupi perselingkuhan suamiku dengan Intan, dan setelah itu mereka tidak pernah berkunjung, aku pun juga tidak pernah datang ke sana." jelas Dinda kembali menyeka air matanya.
Pandu merasa kasihan saat itu, ia tidak tega ketika melihat air mata Dinda kembali tumpah, namun di balik kesedihan itu Pandu pun sempat memberikan nasehat pada Dinda, agar Dinda segera memberitahukan masalah ini pada kedua orang tuanya, bagaimana pun mereka juga berhak atas masalah yang terjadi pada anaknya, dan Dinda pun tidak bisa jika menutupi semua masalah yang ia alami selamanya.
"Dinda, maaf ya, kalau aku berpendapat seperti ini salah menurut mu, tapi kedua orang tuamu sangat berhak atas masalah yang kamu alami, ada baiknya jika kamu menceritakan semua ini pada mereka," ucap Pandu yang mengulang ucapannya.
"Ya, aku tahu ini, tapi mungkin beberapa hari lagu, saat ini aku masih belum siap, aku masih berusaha mencerna semua yang terjadi," lirih Dinda, hatinya masih terasa pilu saat itu.
__ADS_1
"Ya, aku mengerti, itu lebih baik Dinda. Sembuhkan dulu hatimu, semoga semua bisa berjalan dengan baik setelahnya, kamu jangan khawatir, ada banyak wanita yang mengalami nasib tidak beruntung seperti dirimu, tapi aku berharap, suatu saat nanti, nasib mu setelah ini jauh lebih beruntung dari semua wanita yang berbahagia di dunia ini." jelas Pandu memberikan semangat pada Dinda.
Dinda melempar senyum, ia merasa bersyukur karena saat menikah ia berada jauh dari orang tuanya, kedua orang tuanya berada desa sementara dirinya tinggal di kota besar yang padat dengan penduduknya. Jika saja ia berada dekat dengan orang tua, mungkin benar, bahwa masalah nya akan terasa ringan, tapi ia tidak sanggup jika sampai orang tuanya tahu betapa sedih dan terpukul dirinya saat ini.
***
"Nah, ini rumah ku, selamat datang di tempat tinggal baru mu, Dinda," ucap Wulan melempar senyum, setelah ia membawa Dinda, Arka, dan juga bi Iyas masuk ke rumahnya.
"Terima kasih banyak Wulan, aku sangat beruntung bisa bertemu lagi dengan mu, dan saat ini aku bisa tinggal bersamamu," seru Dinda terharu.
"Itulah gunanya sahabat Dinda, aku sangat menghargai pertemanan kita sejak kita duduk di bangku SMA, dan aku sangat senang karena pertemanan kita bisa bertahan sejauh ini, sekarang mari, ku tunjukkan kamar mu bersama dengan Arka." ajak Wulan melempar senyum, lalu membawa Dinda masuk ke sebuah kamar yang sudah ia siapkan.
Wulan tidak hanya menyambut Dinda dengan baik, namun ia juga menyambut bi Iyas dengan ramah tamah, ia tidak membeda-bedakan seorang tamu yang akan tinggal di rumah nya. Apalagi Wulan sudah sering sekali mendengar tentang bi Iyas dari Dinda, bi Iyas bukan lah pembantu biasa, melainkan sudah dianggap adik oleh Dinda sendiri.
"Nah, di sini kamar kamu dan Arka, aku juga sudah menyiapkan kamar untuk bi Iyas mu," ucap Wulan melempar senyum.
"Terima kasih Wulan, aku tidak bisa berkata-kata lagi, aku sangat berterima kasih sekali," Dinda menggenggam tangan Wulan erat.
"Sama-sama Dinda, jangan khawatir. Aku juga telah banyak mendengar kabar tentang bi Iyas darimu, untuk itu aku tidak mau bi Iyas jadi asisten rumah tangga ku di rumah ini, kamarnya ada di kamar tamu, berada di samping kamar mu, dia akan menjadi partner kerjamu dalam menjaga Arka ketika kau sibuk dengan bisnis mu nanti, jadi dia tidak akan ku ganggu dengan pernak pernik kesibukan rumah tangga," sahut Wulan yang memberikan kebebasan pada bi Iyas tentang pekerjaan rumah tangga.
"Terima kasih banyak, memang aku membutuhkan bu Iyas sampai kapan pun, apalagi sebentar lagi semua akan beroperasi, tentu saja aku harus belajar untuk membiasakan diri menjadi wanita karir, bukan lagi wanita rumahan." jelas Dinda yang sudah siap menghadapi kesibukan itu.
__ADS_1