
"Nggak mau Ayah, aku mau di sini saja, aku takut di kamar sendiri," tolak Arka pada ayahnya.
"Arka, ayo jangan membantah Ayah mu, kamu masuk dulu sebentar, nanti kita akan lanjut main lagi!" paksa Rehan yang langsung menggendong Arka.
Setelah mengurung Arka sementara di kamar, Rehan pun segera membuka pintu dan mendapati Dinda, Pandu, Wulan, dan juga bi Iyas di hadapannya. Dinda dengan cepat menerobos masuk ke dalam untuk mencari keberadaan putranya, melihat sikap Dinda yang begitu agresif itu tentu saja membuat Rehan marah dan memprotes sikap Dinda.
"Apa-apaan ini Dinda, dari mana kamu tahu tempat tinggal ku, dan kenapa kamu menerobos masuk seperti ini seenaknya!" marah Rehan pada Dinda saat itu.
"Justru yang harus nya bertanya, marah, itu aku Mas! Di mana kamu sembunyikan Arka, katakan," Dinda yang tak bisa mengerem langsung menuding Rehan sebagai pelakunya.
"Kamu mencari Arka di sini? Apa kamu sudah gila Dinda, kamu kan yang mengasuh Arka, kenapa kamu jadi mempertanyakan itu padaku," seru Rehan yang tidak mau mengakui.
"Rehan, Arka menghilang beberapa hari ini, dan kami yakin bahwa kamulah pelakunya, jadi sekarang lebih baik serahkan Arka pada kami, atau kami akan melaporkan kamu ke polisi," ancam Pandu dengan mantap.
"Melaporkan aku ke polisi? Memangnya kalian punya bukti apa, ha! Jangan sembarangan menuduh ya, atau aku juga akan bisa menuntut kalian semua!" sergah Rehan tidak terima.
Melihat sikap Rehan yang begitu tegas tidak mau mengakui membuat Pandu merasa ragu, apakah Rehan terlibat atau justru tidak sama sekali. Namun Dinda sangat lah yakin, bahwa Rehan lah yang telah membawa Arka pergi, hingga ia memutuskan untuk semakin brutal di rumah Rehan.
Dinda berteriak memanggil Arka dan memintanya untuk segera keluar, sementara Arka sendiri yang mendengar keributan itu merasa sangat takut. Hingga akhirnya ia mengenali suara yang telah memanggil dirinya sejak tadi, suara sang ibu yang begitu familiar di telinga membuat Arka memberontak ingin keluar.
"Mama!! Mama!!"
__ADS_1
Suara Arka terus memanggil Dinda menyahuti suara ibunya yang tidak berhenti memanggilnya, hingga membuat Rehan sangat marah saat itu. Ia takut jika Arka benar-benar akan mendengar dan ia akan keluar dari kamar itu. Rehan pun mencari berbagai cara saat itu untuk membuat Dinda berhenti, namun bukannya berhenti Dinda justru pergi ke seluruh ruangan untuk memastikan keberadaan Arka.
Saat tiba di depan sebuah kamar, Dinda sayup-sayup mendengar suara anak kecil yang berteriak memanggil nama mama, dan Dinda pun semakin mendekati pintu kamar tersebut lalu menempelkan telinganya di dinding pintu.
"Arka, Arka ini Mama, nak!"
Dinda pun menyadari bahwa yang memanggil nama mama itu adalah putranya, Rehan dengan cepat menghalangi Dinda ketika Dinda berusaha ingin membuka pintu kamar tersebut.
"Mas, minggir! Kamu benar-benar keterlaluan Mas, Arka anakku, kenapa kamu bawa dia pergi dariku!" marah Dinda mengusir Rehan dari harapannya.
"Dinda, Arka sudah nyaman tinggal bersamaku, jadi lebih baik kamu tidak perlu lagi menjenguk nya," ucap Rehan tanpa ada rasa bersalah.
"Apa kamu bilang! Mas, selama ini kamu sama sekali tidak perduli pada Arka, bahkan kehadirannya pun tidak kamu harapkan, jadi kenapa kamu culik dia dariku, Mas. Sekarang kamu minggir! Berikan kunci kamar ini padaku, cepat!" titah Dinda dengan nafas yang tertahan.
Baku hantam yang tidak bisa terhindarkan itu akhirnya terjadi, beruntung lah Pandu dapat mengalahkan Rehan saat itu, hingga membuat Pandu memaksa Rehan untuk menyerahkan kunci kamar pada Dinda.
Dengan rasa sakit yang tertahan akhirnya Rehan menyerahkan kunci kamar pada Dinda. Dan dengan cepat Dinda pun membuka pintu kamar tersebut, Dinda menangis haru, ketika ia melihat putranya sedang menangis ketakutan di dalam sana. Dengan cepat Dinda memeluk Arka dan berusaha memenangkannya.
"Mama, aku takut," rengek Arka yang masih terus menangis.
"Iya sayang, Mama ada di sini, kamu jangan takut ya." jawab Dinda mengelus-elus pundak Arka.
__ADS_1
Setelah berhasil membuat Arka tenang, Dinda pun membawa Arka keluar dari kamar yang sempit itu. Dengan kemarahan yang benar-benar tidak bisa ditahan, Dinda pun menghampiri Rehan.
"Kau bertanggung jawab penuh atas rasa takut yang aku rasakan mas Rehan, kau harus menerima konsekuensi karena kamu berani merebut Arka dariku, sel tahanan akan menjadi tempat yang sangat layak bagimu saat ini!" marah Dinda menatap penuh dendam.
"Kamu tidak bisa melakukan ini padaku Dinda, aku adalah ayah dari Arka, ayah kandungnya. Kalau tidak dengan cara seperti ini, kamu tidak akan mengizinkan aku bertemu dengan putraku," ucap Rehan, ia berusaha menatap Arka yang saat ini sedang ketakutan.
"Tapi tidak dengan cara seperti ini Mas, caramu itu sangat memalukan. Kamu culik Arka dariku di hari di mana aku sangat membutuhkan nya, dan kamu sempat tidak mengakui semua itu, kamu harus menerima akibatnya," marah Dinda yang tidak bisa menahan dirinya.
"Tapi Dinda, Arka juga putraku, jangan menghukum ku seperti ini karena aku juga membutuhkan Arka." jawab Rehan yang akhirnya melirihkan suaranya.
Dinda terdiam saat itu, ia mencoba mengerti perasaan Rehan, bahwa mungkin hatinya saat ini sudah terketuk dan mulai menerima Arka. Namun tetap saja, perbuatan Rehan tidak bisa dibiarkan dan dimaafkan, Dinda pun membujuk Arka dan mengajaknya pulang kembali padanya, dan Arka tanpa menolak, ia langsung menganggukkan kepala mengikuti keinginan ibunya.
Mereka pun pergi meninggalkan kediaman Rehan dengan membiarkan Rehan tetap berada di alam bebas, Dinda mengurungkan niatnya untuk membawa Rehan ke kantor polisi. Memberikan Rehan kesempatan untuk merubah pribadinya menjadi yang lebih baik lagi.
Dinda tak berhenti memeluk Arka, ia terus saja memeluk sampai tiba di rumah. Ia tidak akan membiarkan Arka jatuh ke tangan Rehan lagi, dan ia akan memastikan bahwa Rehan tidak bisa melakukan hal yang sangat buruk itu.
"Arka, sekarang kamu mandi ya, sama bi Iyas," ucap Dinda setelah tiba di rumah.
"Ya Ma." jawab Arka, lirih. Ia dengan patuh pergi bersama dengan bi Iyas.
Saat itu bi Iyas memperlakukan Arka seperti anaknya sendiri, ia sangat kehilangan Arka beberapa hari ini, ia tidak mau jika kejadian itu sampai terulang kembali. Untuk itu, bi Iyas terus saja membujuk dan memberitahu Arka untuk selalu bicara dan mengatakan ke mana ia akan pergi.
__ADS_1
"Den Arka sayang, jangan ulangi lagi kesalahan seperti ini ya, kalau Aden mau pergi sama ayahnya Aden, Aden harus bilang dulu sama bibi atau mama, jangan seperti kemarin-kemarin," ucap bi Iyas sembari mengeringkan tubuh Arka dengan handuk.