Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.58


__ADS_3

Tak lama perjalanan menuju Yogyakarta menggunakan pesawat terbang. Rasanay baru saja duduk namun pesawat sudah kembali turun di Bandara Adisucipto.


Kinan dan Bagas sudah turun dan keluar dari bandara. Bukan Bagas namanya jika belum menyewa mobil khusus.


"Atas nama Pak Bagas?" tanya seseorang yang nampak berjalan mendekatui Bagas setelah Bagas menelepon dengan wajah serius.


"Ya betul," ucap Bagas tegas.


"Kami dari hotel ambarukmo. Memang khusus menjemput dahulu. Mobil yang di pesan sudah siap dari hotel dan kunci mobilnya sudah ada di bagian CS lobby," ucap seorang laki -laki dengan sikap hormat dan sangat sopan sekali.


"Oke, Ayo Kinan, kita ikuti Bapak ini," titah Bagas pada Kinan.


Kinan mengangguk kecil. Ia hanay serang karyawan, lebih tepatnya hanya seorang sekertaris Bagas. Tidak ada pilihan selain mengikuti aturan main Bagas.


***


Tepat pukul sepuluh pagi, Kinan dan Bagas sampai di hotel Ambarukmo. Bagas mengambil kunci kamar hotel yang telah di pesannya dari lobby.

__ADS_1


Kinan hanya menatap Bagas yang mengambil satu kunci kamar saja. Tangan Kinan kembali di gandeng dan berjalan ke arah lift.


"Pak ... Kuncinya cuma satu?" tanya Kinan sedikit ragu.


Bagas hanya melirik ke arah Kinanlalu meluruskan pandangannya lagi saat pintu lift sudah terbuka di lantai yang di inginkan.


Kinan berjalan di samping Bagas dan berhenti di salah satu kamar yang sesuai nomornya dengan nomor yang ada di kunci tersebut.


"Pak ... Kita satu kamar?" tanya Kinan bingung. Bagas sudah membuka pintu kamar hotel dan mempersilahkan Kinan masusk terlebih dahulu.


"Kinangak mau masuk. Kinan gak mau satu kamar dengan Bapak. Lebih baik Kinan pulang ke rumah orang tua Kinan," ucap Kinan serius.


"Masih mau kerja, atau mau resign?" tanya Bagas mengancam.


"Bapak mengancam Kinan?" tanya Kinan melotot.


Bagas menggelengkan kepalanya pelan, " Tidak sama sekali."

__ADS_1


"Bapak direktur yang terhormat. Kinan ini memang orang desa, dari kampung. Tapi, bukan wanita muarhan yang bisa Bapak ajak tinggal sekamar di dalam hotel," ucap kinan dengan wajah sedikit bengis.


"Kalau mau berdebat, silahkan di luar. Kalau mau masuk ya masuk, kalau gak mau masuk, saya anggap kamu resign," tegas Bagas yang tidak mau berdebat panjang dengan Kinan.


Bagi Bagas, kedua pilihan itu menguntungkan dirinya. Kinan keluar dari pekerjaanya, malah memudahkan Bagas memiliki istri yang siap di rumah. Kalau pun Kinan masih ingin bekerja, itu atndanya, hubungannya di kantor akan lebih mesra.


Bagas menarik kopernya dan masuk ke dalam kamar terlebih dahulu. Kinan hanya bisa menghembuskan napas kasar dan ikut masuk ke dalam kamar tersebut lalu menutup pintu kamar hotel itu.


Kedua mata Kinan mengedar ke seluruh sudut ruangan kamar hotel itu. Kamar hotel yang cukup besar dengan twinss bed yang ukurannya lebih besar di bandingkan kasur single pada umumnya.


Bagas meletakkan kopernya di atas meja dan mulai di buka. Bagas sengaja membuka kemejanya di depan Kinan yang langsung berteriak keras.


"Arghhh ... Bapak!! Kalau lepas baju di kamar mandi dong. Gak seenaknya di depan anak gadis yang masih perawan," ucap Kinan yang langsung duudk di kasur dan mengambil bantal untuk menutup mukanya agar tidak melihat hal -hal yang membuat dirinya semakin takjub.


"Hah ... Terlalu serius. Ini cuma kemeja. Lagi pula kita sebentar lagi mau menjadi suami istri, kenapa harus galau melihat yang indah -indah," ucap Bags tertawa keras.


"Apa? Menikah? Pak ... Gak usah ngimpi dulu. Udah ganti baju belum? Kinan mulai engap nih," ucap Kinan kesal.

__ADS_1


__ADS_2