
"Astaga Intan, kau jangan lupakan tugasmu Intan, kau ini punya suami," sergah yang lain yang tidak suka dengan ucapan Intan.
"Ya ampun, aku hanya bercanda. Kalian jangan mengambil hati, oke." jawab Intan tertawa lepas, saat itu ia menyadari bahwa teman-temannya itu tidak suka jika ia berbicara seperti itu.
Intan memendamnya di hati, sampai beberapa hari setelah itu ia terlihat semakin penasaran dan ingin kembali lagi ke salon kecantikan itu, tentu saja ia ingin bertemu dengan Pandu.
Sikap Intan itu membuat Rehan merasa curiga, karena setelah pulang dari salon, ia terlihat begitu sangat bahagia dan cerita, Rehan beberapa kali menangkap Intan tengah mengamati semua jemarinya, dan ia selalu mengangkat jemari tersebut tinggi-tinggi hingga membuat Rehan semakin curiga.
"Ehem... Sepertinya kali ini kamu sangat terpesona dengan perawatan yang kamu lakukan itu ya, sejak tadi aku perhatikan kamu terus saja menatap kuku-kuku mu yang begitu sangat cantik itu,"
Rehan duduk di samping Intan yang tidak menyadari kehadirannya, ia pun menurunkan tangannya karena melihat Rehan yang datang menghampiri dirinya.
"Mas, sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Intan yang justru mempertanyakan keberadaan Rehan.
"Sudah sejak tadi Intan, makanya aku bisa bicara padamu seperti itu, karena aku melihat kamu yang sepertinya sangat puas sekali dengan perawatan mu di salon viral itu," ucap Rehan melempar senyum.
"Ya Mas, aku sangat senang sekali karena perlakuan mereka dan cara kerja mereka yang begitu sangat ramah, apalagi saat aku mendapatkan perawatan ini, aku merasa bahwa aku di spesial kan," seru Intan membagikan ceritanya.
"Wau, sangat luar biasa ya, apakah tidak semua salon seperti itu Intan? Yang melayani setiap pelanggannya seperti seorang ratu, meng-istimewakan orang-orang yang datang berkunjung?" Rehan menatap curiga, karena menganggap bahwa Intan terlalu berlebihan.
__ADS_1
"Iya si Mas, kamu benar. Tapi ini berbeda, sangat berbeda, aku jadi ingin melakukan perawatan lagi di tempat itu Mas," rayu Intan yang menggandeng lengan Rehan.
"Intan, aku ingin bertanya padamu, untuk apa kau melakukan berbagai perawatan jika suami saja tidak kau urus. Beberapa bulan terakhir ini kau tidak membuatkan aku makanan di rumah, kau selalu memesan makanan di luar dan kau juga selalu tidur lebih dulu, apa cantik dan bagus nya seluruh tubuh kamu itu bukan untuk ku?"
Rehan mulai berbicara serius, saat ini Rehan sepertinya sudah hampir kehilangan perhatian dari Intan yang justeru sibuk dengan dunianya. Saat itu Intan mulai tidak nyaman dengan topik pembicaraan dari Rehan, karena separuh hatinya saat ini sedang memikirkan pria lain.
Sementara Rehan sendiri sebenarnya ingin sekali berbicara serius pada Intan, terkait semua bisnis yang ia kelola selama ini, mengalami masalah beberapa minggu terkahir ini, dan ia belum sempat bercerita pada Intan karena Intan selalu sibuk dengan egonya.
Untuk itulah Rehan dengan terpaksa harus memendam semua masalahnya sendiri, dan menunggu waktu yang tepat agar ia bisa berbicara pada Intan.
"Mas, sebenarnya kamu ini lagi mau ngomong apa si, aku nggak ngerti loh, apa kamu mau meminta aku untuk melayani kamu? Kalau begitu sekarang saja, agar kamu bisa diam dan merasa puas," ucap Intan yang menawarkan tubuhnya dengan kasar pada Rehan.
"Intan, salah satu yang kuingin kan adalah itu, tapi aku memiliki keinginan lain untuk hubungan kita ini," lirih Rehan menatap Intan sayu.
"Apa alasan yang membuat kamu menolak untuk punya anak dariku Intan? Bukan, sebenarnya bukan itu yang aku inginkan saat ini, aku ingin hubungan kita ini banyak komunikasi dan interaksi Intan, sepertinya sudah cukup lama kamu sibuk dengan teman-temanmu sampai melupakan aku, suamimu." jelas Rehan meminta haknya.
Intan menghembuskan nafas kesal, meskipun hatinya sudah menyadari bahwa ia sudah cukup lama meninggalkan dan acuh pada suaminya, tapi Intan masih tidak mau memikirkan hal itu sekarang.
Karena tidak mau berakhir dengan pertengkaran, akhirnya Rehan pun meminta Intan untuk memberikan sedikit waktu nya untuk menemani dirinya tidur saja, melepaskan hasratnya yang sudah tidak diperhatikan lagi oleh Intan, setelah itu Intan pun memilih untuk menyelimuti tubuhnya yang tidak menggunakan pakaian apapun itu dengan selimut, lalu ia pun tertidur.
__ADS_1
***
1 bulan kemudian
Rehan nampak kesal, ketika ia menerima laporan keuangan dari bisnis yang sedang ia kelola, semua anjlok dan tidak sesuai dengan harapan, baik bisnis nya yang ada di dalam kota maupun luar kota, semua nampak tidak baik-baik saja. Dengan kasar Rehan menghempaskan kertas itu ke meja, dan di hadapan orang kepercayaannya.
"Bagaimana ini bisa terjadi, kenapa pendapatan kita setiap bulan semakin kecil dan rendah seperti ini, kalau begini caranya, semua bisnis ku akan hancur dan bangkrut!" pekik Rehan menghentakkan meja kerjanya.
"Ya Pak, memang belakangan ini target pemasaran kita tidak sesuai, dan saya sendiri tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi," ucap Bram, pria yang selama ini bertugas mengatur keuangan bisnis Rehan.
"Aku bisa bangkrut Bram, aku rugi besar-besaran kalau seperti ini terus," keluh Rehan yang merasa sangat pusing kala itu.
"Tenang Pak, mungkin kita bisa cari strategi yang lain, untuk menarik pemasaran kita. Misal, menurunkan harga semua barang yang kita punya di dalam toko pada masyarakat, siapa tahu ini akan mengembalikan pelanggan kita yang sudah memilih berhenti menjadi pelanggan kita." jelas Bram yang mencoba untuk melakukan strategi lainnya.
Saat itu Rehan tidak bisa memikirkan apapun, kepalanya semakin terasa sakit dan ia tidak bisa berpikir jernih. Ia benar-benar tidak menyangka jika hal ini bisa terjadi, bahkan ia tidak percaya jika semua bisnisnya mengalami benturan yang sangat keras hingga membuat dirinya harus berpikir keras untuk melakukan perbaikan.
Bram memiliki usul, ia meminta Rehan untuk mengeluarkan semua modalnya kembali untuk membeli produk-produk baru yang tidak ada didalam toko, Rehan pun menerima usulan itu, dan ia berniat untuk pulang, mengambil semua uang dan pegangannya untuk modal, namun gaya mewah Intan yang begitu sangat menguras tabungan itu membuat Rehan akhirnya tidak dapat menambah modal cukup banyak, tidak mungkin ia memakai semua tabungannya karena kebutuhan rumah tangga juga perlu ia perhatikan.
"Gila, aku habis banyak sekali uang selama menikah dengan Intan, bahkan aku tidak memiliki banyak tabungan karena semua kupakai untuk memenuhi kebutuhan Intan yang benar-benar gila itu," ucap Rehan mengeluh ketika ia tahu bahwa sisa tabungannya tidak banyak lagi.
__ADS_1
Saat itu Rehan harus melakukan tindakan tegas pada Intan, ia tidak mau jika sampai ia begitu terlalu memanjakan Intan akan berakibat fatal pada dirinya sendiri, Intan harus tahu masalah keuangan yang sedang ia rasakan saat itu, dan terpaksa Rehan pun harus menyetop beberapa gaya hidup mewah Intan yang tidak sesuai lagi dengan uang yang ia miliki.
Saat sore tiba, Rehan akhirnya bisa bertemu dengan Intan yang baru saja pulang dari salon, ia baru saja bertemu dengan Pandu dan berbincang-bincang ringan dengan nya, karena sudah cukup sering ke salon akhirnya Intan dan Pandu pun memiliki komunikasi dengan baik, bahkan Intan sudah memiliki nomor telepon Pandu di dalam ponselnya.