
Bagas sengaja memperlambat buka kemejanya dan tatapannay tetap ke arah Kinan yang wajahnya masih tertutupi oleh bantal.
"Udah belum sih? Malah diam saja," ucap Kinan setengah berteriak karena suaranya tentu hanay menggema di dalam bantal.
Bagas malah ingin menggoda Kinan dan berjalan ke arah Kinan lalu berdiri tepat di depan Kinan.
"Pak? Pak Bagas? Jangan main -main sama Kinan dong," ucap Kinan memelas. Suaranay terdengar sendu dan perlahan bantal itu di turunkan lalu menatap Bagas yang kini tepat ada di depannya. Tubuh Bagas setengah polos hanya memakai kaos dalam berwarna putih.
Kinan melotot dan mendongakkan wajahnya menatap Bagas yang sedang menaik turunkan alisnya dengan sengaja.
"Arghhhh ... Bapak!!" teriak Kinan kemudian langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Telat banget teriaknya? Udah puas lihat tubuh keren saya baru teriak. Dasar sekertaris aneh," ucap Bagas tertawa.
"Bapak sengaja kan? Mau bikin Kinan seoalh -olah merasa bersalah," ucap Kinan ketus dari balik telapak tangannya.
Bagas menarik tangan Kinan dan menurunkan tangan itu ke bawah. Tubuh Bagas langsung sedikit membungku mensejajarkan tubuh Kinan dan mendekatkan wajhanya ke arah wajah Kinan. Kinan makin melotot dan berusaha memundurkan tubuhnya serta wajahnya dari Bagas.
"Kalau iya, kenapa? Masalah buat kamu?" tanya Bagas makin memajukan wajahnya membuat Kinan tak bisa menyeimbangkan tubuhnya lagi dan terjatuh terlentang di atas kasur dengan kedua tangan Kinan yang erat di genggam oleh Bagas.
Bagas malah makin sengaja ingin menggoda Kinan. Tubuhnya yang hanya memakai kaos dalam dan mimik wajah Bagas di buat senakal mungkin agar Kinan berteriak keras.
"Pak ... Jangan Pak. Istighfar Pak," ucap Kinan dengan nada memohon.
__ADS_1
Tubuh Bagas sudah akan menindih Kinan dan di hentikan. Memang tidak ingin sejauh itu, ini hanay shock terapi untuk KInan saja.
"Terima saya dan terima lamaran saya. Baru saya akan menghentikan hal ini," ucap Bagas tegas.
Kinan hanay bisa mngehmbuskan napasnya dengan kasar.
"Bukannya kita sudah menjadi sepasang kekasih, Pak?" ucap Kinan mengingatkan.
"Ohhh iya. Bnear sekali. Kita kan sudah menjadi sepasang kekasih, jadi sudah setengah halal dong," ucap Bagas makin ingin menjatuhkan tubuhnya di atas Kinan.
"Pak!! Stop!! jangan aneh -aneh Pak. Kalau memang Bapak mau serius, ya nikahi saya," ucap Kinan pasrah. Dari pada Bagas nekat melakukan hal -hal yang di inginkan, eh salah hal -hal yang tidak boleh di lakukan alias tidak di inginkan Kinan.
Bagas menatap kedua netra Kinan lekat dan mencari kejujuran di sana. Ucapan Kinan ini hanya sebuah ucapan atau memang gadis itu mau menerima lamaran Bagas.
Kinan mengangguk pasrah, "Iya Pak. Kinan serius."
"Kamu lagi gak sedang mempermainkan saya kan?" tanya Bagas pada Kinan.
"Lho ... Ini seharusnya Kinan yang tanya Bapak? Bapak bicara soal ini memang serius atau hanya ingin mempermainkan Kinan?" tanaya Kinan lantang.
"Kamu pikir saya bercanda? Ini soal perasaan, Kinan. Gak ada yang bercanda jika seorang laki -laki mengajak serius menikah pada seorang gadis? Semua itu dari hati yang sudah di pikirkan dengan matang pakai logika dan realistis," ucap Bagas menekankan jawabannya.
"Ada banyak kasus, laki -laki hanya ingin mencari keuntungan saja, Pak," ucap Kinan menegaskan.
__ADS_1
"Tapi itu bukan saya. Saya tidak pernah bermain -main dengan wanita. Tapi, kebanyakan wanita hanya ingin bersenang -senang. Mencari kesempurnaan diantara lelaki yang sebenarnya sudah sempurna," ucap Bagas lantang.
"Kinan tidak butuh lelaki sempurna. Seorang laki -laki akan menjadi sempurna jika laki -laki tersebut memiliki sifat tanggung jawab dan peka. Itu saja," ucap Kinan menjelaskan.
"Jadi? Kapan saya bisa melamar kamu, Kinan?" tanya Bagas sendu.
"Bapak itu serius?" tanya Kinan ragu.
Bagas bangkit berdiri dan berjalan menuju kaca jendela allu memukulkan kepan tanagnnya di dinding dengan keras.
"Kenapa sulit sekali meluluhkan hati keras kamu, Kinan? Saya harus menunjukkan sikap yang seperti apa lagi? Agar kamu percaya denagn semua ucapan saya, Kinan. Saya ini serius," ucap Bagas pada Kinan.
Kinan menegakkan tubuhnya dan duduk di atas kasur.
"Maaf Pak," jawab Kinan lirih.
"Kenapa minta maaf? Apa kamu tidak mencintai saya? Tapi, bukankah kamu sudah emnerima saya kemarin, Kinan?" tanya Bagas makin gusar.
Bagas tidak mau kalah set dari Dika. Bagas tahu, Dika sedang mengincar Kinan.
"Kasih Kinan waktu," ucap Kinan lirih.
"Waktu? Berapa lama? Saya harus menunggu kamu lagi? Tanpa kepastian? Iya kalau kamu amanah dengan waktu yang akan saya berikan? Kalau tidak?" tanya Bagas penuh emosi.
__ADS_1
Perjodohannya gagal karena keterlambatannya waktu itu. Bagas mementingkan bisnisnya hingga ia telat datang untuk melamar Kinan. Jangan sampai keinginannya kembali terkubur karena Bagas telat bergerak melamar Kinan.