Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.20


__ADS_3

Kinan menoleh ke arah asal suara. Suara yang khas dan terdengar bagai geledek itu sangat mengejutkan kedua insa yang sedang asyik berbincang.


"Maaf Pak. Kinan baru saja selesai makan siang. Kebetulan kebarengan dengan Dika," ucap Kinan pelan.


"Tidak perlu banyak alasan. Saya di depan itu lama, denegrin kalian ngobrol. Kalian itu di bayar perusahaan untuk kerja bukan untuk ngobrol. Apalagi ini sudah jam kerja, malah seolah tidak peduli dengan pekerjaan," ucap Bagas tegas dengan suara keras.


Bagas membanting pintu pantry, dan ada beberapa karyawan lainnya yang juga ikut melihat situasi ini. Kinan pun menunduk malu lalu berdiri dan pergi dari pantry itu tanpa melihat orang - orang di sekitar yang menatapnya lekat.


"Itu anak baru kan? Sekertaris Pak Bagas. Ngelunjak aja dia," ucap salah satu karyawan yang nampak nyinyir menatap penuh kebencian ke arah Kinan.


Dika pun berdiri sambil merapikan seluruh piring kotor di atas meja dan tidak peduli dengan semua ini. Resiko di marahi oleh Bos jika salah, itu suatu kewajaran.


"Hei OB. Gak usah sok ganteng. Kerja yang bener. Kamu di sini cuma OB," ucap Sofia keras dari ambang pintu pantry.


Dika hanya menoleh ke arah Sofia dan tersenyum kecut. Lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.


Kinan sudah duduk di belakang meja kerjanya. Ada setumpuk berkas yang harus di kerjakan. Entah berkas apa itu, tidak ada perintah apapun sebagai note. Dengan menghela napas dalam, Kinan pun mencoba mengalah dan berdiri berjalan menuju ruangan Direktur dinginnya itu sambil membawa setumpuk berkas di dalam pelukannya.


TOK ... TOK ... Tok ...


"Permisi ... Pak Direktur. Ini berkasnya harus Kinan apakan?" tanya Kinan dengan sopan sambil menunduk.


Kinan takut sekali menatap ke arah Direkturnya itu. Lebih aman menunduk tanpa harus menatap kedua mata elang yang tajam itu. Rasanya cukup seklai di marahi dan di permalukan di depan umum seperti tadi setelah di elu - elukan dan di puji karena suatu prestasi. Rasanya begitu jomplang sekali. Dalam satu waktu harus merasakan dual hal situasi mood yang berbeda.


Bagas meletakkan pulpennya dan menaap Kinan yang sejak tadi menunduk.

__ADS_1


"Dengarkan saya. Saya tidak melarang kamu, mau berpacaran dengan lelaki dalam satu perusahaan pun. Tapi, ingat tentang pekerjaan kamu. Kamu itu bawahan saya, dan kamu punya tanggung jawab besar sebagai sekertaris saya. Seharusnya kamu lebih profesional lagi dalam bekerja dan bersikap. Bukan malah asyik tertawa dengan OB yang pekerjaannya hnaya beres - beres pantry," ucap Bagas dengan nyinyir.


"Maaf Pak. Bukan maksud Kinan untuk berleha - leha atau bersantai. Kinan hanya makan siang dan ngobrol sedikit sama Dika. Kami juga tidak ada hubungan apa - apa. Kita baru kenal tadi," ucap Kinan pelan berusaha jujur menjelaskan. Wajah Kinan masih saja menunduk dan tidak berani menatap ke arah Bagas.


BRAK ... Bagas menggebrak meja kerjanya dan keras berbicara kepada Kinan.


"Terus? Apa peduliku? Itu kan urusan kamu, Kinan. Urusanku adalah mengingatkan kamu akan pekerjaan kamu. Itu saja. Agar perusahaan ini tidak rugi dan tidak sia - sia membayar karyawannya."


Kinan mulai menunduk lebih dalam lagi. Hatinya yang lembut mulai tersinggung dengan ucapan yang keras yang terkesan kasar dan menuduh. Ingin rasanya Kinan berteriak keras dan menitikkan air matanya karena sakit hati.


"Pak ... Berkas ini harus Kinan apakan? Kinan belum tahu kerjaan Kinan," tanya Kinan dengan suara bergetar.


Bagas tetap diam. Rasanya kesal sekali melihat kejadian tadi di pantry. Melihat Kinan yang terlihat santai dan bahagia.


'Argh ... Aku ini kenapa sih? Aku kan sudah punya Ajeng, tapi kenapa Kinan sellau mmebuatku penasaran,' batin Bagas di dalam hatinya.


"Pak?" panggil Kinan pelan sambil menatap Bagas yang masih dingin dan fokus pada laptopnya.


Tanpa menjawab Kinan, Bagas langsung memutar nomor telepon di telepon meja kerjanya lalu berbicara kepada seseorang untuk segera datang ke ruangannya. Kinan hanya di abaikan.


"Kinan permisi Pak," ucap Kinan pelan dengan rasa kecewa.


ceklek ...


"Maaf, Pak Bagas tadi panggil saya?" tanya Festi dengan suara pelan.

__ADS_1


"Tolong Fes. Sekertaris saya sepertinya masih butuh bimbingan. Saya serahkan tugas ini sama kamu," ucap Bagas tegas sambil melambaikan tangannya untuk segera kleuar dari ruangannya.


"Baik Pak. Ayok Kinan," titah Festi tegas.


Kinan hanya mengangguk kecil. Ia sadar sebagai junior harus bisa belajar menghargai seniornya.


Festi lebih dulu keluar rumah, dan Kinan mengikuti dibelakangnya.


"Kamu kenapa sih Kinan? Mempermalukan diri sendiri di pantry? Jaga harga diri kamu sebagai sekertaris," ucap Festi yang mulai menampakkan rasa tidak sukanya kepada Kinan karena pujian yang bertubi - tubi tadi di arahkan kepada Kinan setelah selesai presentasi.


"Apa maksud Mbak Festi bicara seperti itu kepada Kinan?" tanya Kinan mulai kesal.


"Berita tentang kamu itu selalu saja beredar. Apalagi beritanya hot, tentang hubungan kamu dengan OB ganteng itu. Kamu tahu, Dika itu sebenarnya orang kaya, tapi hidupnya hancur setelah kepergian Ayahnya. Dan Sofia itu adalah mantannya sejak SMA sampai kuliah, karena tahu Dika itu bangkrut, Sofia mutusin Dika. Jadi, kamu harus tahu diri, bukan Pak Bagas aja yang jadi cover boy di kantor ini, Dika pun juga sosok adam yang patut di gilai oleh kaum hawa di kantor ini. Paham?" ucap Festi pelan mnejelaskan.


"Lalu? Apa hubungannya antara Kinan, Dika, dan Pak Direktur? Kan gak ada hubungannya? Lagi pula Kinan tidak punya hubungan apapun dengan salah satunya," jawab Kinan membela diri.


Festi menatap lekat ke arah Kinan. Seharusnya Kinan itu paham dengan penjelasannya.


"Kamu itu gak beneran ngerti atau pura - pura bodoh sih, Kinan?" tanya Festi dengan gemas.


Kinan menggelengkan kepalanya pelan.


"Kinan beneran gak ngerti. Apa maksudnya? KInan baru dua hari kerja di sini. Kinan belum tahu apapun tentang dunia di kantor ini," ucap Kinan dengan santai tanpa berdosa sama sekali.


"Semua perempuan iri sama kamu, Kinan. Kamu yang datang melamar dan langsung di terima, lalu kamu bisa memimpin rapat dengan baik, hingga banyak investor yang bertahan bahkan merekamemperbaharui kontrak kerjanya yang lebih menguntungkan bagi perusahaan. Lalu, semua orang tadi melihat kedekatan kamu dnegan Dika. Kamu tahu? Dika dan Pak Bagas itu lelaki dingin dan sulit untuk di dekati. Tapi, kamu sepertinya mudah sekali, berbicara dengan mereka seolah sudah mengenal keduanya dengan baik," ucap Festi panjang lebar.

__ADS_1


Jujur di dalam hati Festi pun cemburu dan sangat iri dengan Kinan. Gadis yang terlihat biasa saja, tapi biasa menjadi terlihat luar biasa.


__ADS_2