Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.37


__ADS_3

Perasaan Kinan mulai campur aduk tak jelas. Malam ini jadi malam bersejarah bagi Kinan. Pasalnya malam ini adalah pertama kalinya Kinan main ke rumah seorang lelaki dan di ajak makan malam bersama dengan keluarganya.


"Ayo turun, sudah sampai," ucap Bagas lembut tanpa menyentak kepada Kinan.


Kinan hanya terdiam memandangi rumah Bagas yang begitu besar dan mewah dari kaca jendela mobil Bagas.


Kedua mata indahnya menatap lekat tanpa berkedip.


"Kinan? Kamu gak apa - apa kan?" tanya Bagas pelan. Bagas sekilas menatap Kinan dari arah samping. Wajah panik Kinan terlihat jelas. Bagas mematikan mesin mobilnya dan mengambil tas laptop yang ada di jok penumpang belakang.


"Hey ... Ayo turun. Mama pasti sudah menunggu kedatangan kita berdua?" ucap Bagas pelan.


Kinan menoleh dan mengerjapkan kedua matanya pelan.


"Apa? Menunggu kedatangan kita? Kinan bahkan tidak mengenal Mamanya Pak Direktur," ucap Kinan pelan.


Bagas mengabaikan ucapan Kinan. Ia keluar dari mobilnya dan menutup kembali pintu mobilnya dan berjalan memutar membuka pintu mobil bagian kiri untuk mempersilahkan Kinan keluar.


"Silahkan keluar tuan putri, kita sudah sampai istana ...." ucap Bagas sambil tersenyum lebar menatap kebingungan Kinan.


Kinan pasrah dan turun dari mobil Bagas. Lalu berjalan mengikuti Bagas.


Tak satu pun jawaban atau ucapan keluar dari mulut Kinan. Ada juga mulutnya brkomat - kamit melafalkan doa - doa yang baik - baik di dalam hatinya. Kinan benar - bena cmas. Sesekali melihat ke arah arlojinya untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Mama? Ini Kinan sudah datang," ucap Bagas setengah berteriak.


Mendengar suara putra kesayangannya itu berteriak. Anita pun yang masih menata meja makan pun langsung keluar dari arah dapur menuju ruang tamu. tatapannya langsung mengarah kepada Kinan.


"Ini sekertaris kamu? Cantik sekali," ucap Anita dengan senyum ramahnya langsung memeluk Kinan. Seketika membuat Kinan semakin bingung.


"Cantik Ma? Calon mantu Mama lho. Gak salah pilih kan, Bagas?" ucap Bagas dengan bangga.


Kedua mata Kinan langsung membola menatap ke arah Bagas yang berdiri di belkang Anita, Sang Mama. atapan Kinan begitu tajam seolah ingin membunuh Bagas saat itu juga. Bagas hanya membalas tatapan tajam Kinan dengan senyuman lebar dan terkekeh. Ingin rasanya mencubit hidungnya yang mancung itu karena gemas.

__ADS_1


"Apa kabar kamu, Kinan? Ekhem Mama panggil kamu Kinan atau Ajeng?" tanya Anita pelan sambil mengendurkan pelukannya menatap Kinan yang begitu cantik.


"Ajeng? Tante kenal nama kecil Kinan?" tanya Kinan peasaran sambil menatap wanita paruh baya yang masih terlihat catik itu.


"Kok panggil Tante sih? Panggil Mama," ucap Anita dengan tegas.


"Maaf ... Kinan hanya sekertaris Pak Bagas, Tan ... Ma," ucap Kinan yang masih canggung dan belibet.


Senyum Anita terbit dan melebar. Kedua tangannya memegang erat tangan Kinan yang terasa dingin.


"Sekarang memang sekertaris Bagas, beberapa bulan lagi kan jadi menantu Mama? Iya kan, Bagas?" tanya Anita dengan senyum.


"Iya Ma. Kinan calon istri Bagas," ucap Bagas mantap.


"Bu - bukan Ma ... Tan. Haduh ... Bukan begitu maksudnya. Kinan beneran cuma sekertaris Pak Bagas dan hanya karyawan biasa. Kita berdua gak ada hubungan apa - apa. Pak Bagas? Jangan seperti ini dong? Tadi katanya ada undangan makan malam? Kok malah begini jadinya," cicit Kinan sendu. Kinan benar - benar tidak tahu harus bagaimana. Pearsaannya tidak bisa di todong begitu saja. Memang, Bagas sudah memintanya menjadi pacarnya. Tapi, Kinan belum menjawabnya.


"Lho? Kalau kamu sudah mau saya ajak ke rumah itu tandanya kan kita sudah resmi menjadi sepasang kekasih? Lagi pula jawaban kamu kan hari ini, dan kamu menjawabnya dengan datang ke rumah itu tandanya? Kamu menerima kan? Kita resmi pacaran Kinan," ucap Bagas dengan santai dan tenang. Tatapan Bagas begitu lekat dan penuh damba.


Kinan tak membalas tatapan itu. Kinan begitu kecewa dan kesal. Ia seperti di permainkan di kondisi ini.


"Kinan saja," ucap Kinan pelan.


"Oke. Kinan. Padahal nama Ajeng itu bagus, kesannya wanita terhormat dan berakhlak baik. Kinan juga bagus kok. Mama suka semuanya. Dan yang paling penting Mama suka dengan Kinan seutuhnya," ucap Anita pelan dan menggandeng Kinan yang masih tertegun dengan ucapan Anita. KInan hanya pasrah mengikuti langkah Anita menuju taman belakang yang sudah di di hias sedemikian rupa untuk acara makan malam ini.


"Wah ... Indah sekali," ucap Kinan dengan jujur karena takjub melihat pemandangan indah di taman belakang yang berhiaskan lampu - lampu warna warni yang begitu cantik.


"Kamu suka, Kinan? Tapi syang, malam ini seharusnya Papah BAgas pulang dari Bandung, Tapi karena mash sibuk dengan perusahaannya yang di sana, jadi beliau belum bisa pulang. Lain kali, nanti kita makan bersama juga dengan Papahnya Bagas," ucap Anita pelan.


"Iya Tante," jawab Kinan sekenanya.


"Panggil Mama saja Kinan. Biar terlihat akrab," ucap Anita pelan dan mulai merapikan meja makan yang belum selesai di bereskan itu.


"Ekhemm ... Kinan boleh bertanya sesuatu?" tanya Kinan pelan kepada Anita.

__ADS_1


"Mau tanya apa?" tanya Anita dengan lembut. Pandngannya sekilas menatap Kina yang masih merasa canggung.


"Tante kenal Kinan? Kenapa Tante tahu nama kecil Kinan?" hanya pertanyaan itu yang masih menganggu Kinan sejak tadi. Tidak banyak yang tahu tentang nama kecil Kinan, kalau bukan kerabat dekat atau orang - orang yang memang dekat dengan Kinan.


"Oh itu. Kamu beneran tidak tahu? Atau memang tidak ingat?" tanya Anita pelan.


"Tidak ingat sama sekali," jawab Kinan pelan sambil berusaha mengingat Anita. Tapi, Kinan sama sekali tak mengingatnya.


"Ya sudah nanti kita ngobrolnya sambil makan ya?" ucap Anita yang masih sibuk mengurusi menu makanan yang belum ada di meja sambil menunggu Bagas mengganti pakaiannya.


"Iya Tante," ucap Kinan pelan. Kinan berjalan melihat kolam renang yang terlihat terang dan airnya pun terlihat bening karena lampu yang menyorot menembus air.


"Jangan melamun," ucap Bagas yang sudah berdiri tepat di samping Kinan. Bagas sudah seperti jalangkung, yang datang tiba - tiba dan pergi tiba - tiba juga.


"Pak Bagas. Gak melamun. Cuma lihat kolam renang, airnya bening banget, apalagi kena sorot lampu," ucap Kinan lembut.


"Kinan ...." panggil Bagas pelan membuat Kinan menatap Bagas dengan lekat.


"Ya Pak?" jawab Kinan pelan.


"Maafkan saya, jika terkesan memaksa kamu untuk menerima saya," ucap Bagas pelan. Tangannya pelan meraih tangan Kinan.


"Bapak hanya ingin menjadikan Kinan sebagai pacar pura - pura di depan Mamanya Pak Bagas?' tanya Kinan pelan.


"Saya serius Kinan. Tidak ada pura -pura, atau candaan," ucap Bagas dengan nada sedikit tinggi.


"Tapi, Pak ... Kinan gak suka sama Bapak," jawab Kinan dengan jujur.


"Apa kurangnya saya? Sampai kamu tak bisa mencintai saya, Kinan?" tanya Bagas pelan.


"Maaf Pak. Kinan lagi gak mau obrolin masalah ini," ucap Kinan bersikeras untuk tidak ada hubungan apa -apa dengan Bagas kecuali hubungan kerja.


"Lalu, nama Ajeng kenapa tidak kamu pakai? Saya lebih suka dengan nama Ajeng. Ajeng itu terlihat manja, dan saya senang kalau kamu bisa bermanja - manja dengan saya seperti dulu," ucap Bagas mulai membuka hubungan baik mereka sejak kecil.

__ADS_1


Kinan menatap lekat Bagas. Kata - kata itu selalu Kinan ingat. Kata - kata yang membuatnya jatuh hati kepada seorang lelaki yang telah di anggapnya sebagai kakak da hingga kini tak tahu lagi bagaimana kabarnya.


"Baba?" ucap Kinan pelan dan sedikit terbata.


__ADS_2