Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.50


__ADS_3

Pagi - pagi, Kinan sudah terbangun dari tidurnya dan mulai menggerakkan tubuhnya. Pagi ini Kinan harus kembali ke Jakarta, karena besok mulai bekerja kembali.


Kinan keluar dari kamar tidurnya untuk mencari minuman atau makanan. Perutnya mulai terasa lapar.


"Kinan?" panggil Atika dari arah pintu kamar utama.


"Tante? " jawab Kinan lembut.


"Sudah bangun? Mau kemana?" tanya Atika pelan.


"Ke dapur, Tante. Mau bikin teh manis," jawab Kinan singkat.


"Kamu sudah kuat berjalan?" tanya Atika lagi sambil merangkul bahu Kinan berjalan beriringan menuju dapur.


"Sudah Tante. Pagi ini, Kinan mau pulang ke Jakarta," ucap Kinan pelan.


Atika menatap ke arah luar yang masih terlihat mendung dan hujan.


"Tapi, cuaca di luar masih hujan, Kinan. Tunggu cuaca lebih baik dulu. Setidaknya hujan sudah berhenti. Dika pasti mau mengantar kamu pulang ke Jakarta," ucap Atika menenangkan Kinan.


"Iya Tante." Kinan menjawab singkat lalu merebus air panas untuk membuat minuman hangat di pagi hari.


Atika pun mencuci piring, sisa cucian piring tadi malam tidak sempat di cuci karena mengurusi Kinan yang sakit.


"Wah ini banyak sekali belanjaannya, ada sosis, nugget, ayam? Mau masak Tante?" tanya Kinan pelan.


"Itu harusnya tai malam. Kita mau bakar - bakaran. Tapi kan, kamu sakit. Jadi di batalkan acaranya," ucap Atika pelan.

__ADS_1


"Kinan bikinkan sarapan saja? Tidak apa -apa, Tante?" tanya Kinan pelan.


"Maksud kamu? Kamu mau masak?" tanya Atika memastkan.


Kinan mengangguk kecil dengan senyum lebar.


"Iya. Walaupun msih belajar. Kalau tidak enak, maafkan Kinan," ucap Kinan pelan.


Kinan yang memang hobby memasak sudah tidk ragu lagi mencampurkan bahan - bahan yang tersedia di lemari makanan atau di lemari pendingin dan sudah tidak kaku lagi memegang pisau atau alat - alat masak dari mulai yang kuno sampai yang modern sekali pun. Ibunya sejak dulu sellau mengajarkan Kinan, dan sesekali Kinan di ajak ke restaurant milik teman Ibunya dan melihat cara koki terkenal itu memasak dan menggunakan alat - alat masaknya dengan cara yang tepat dan benar.


Atika hanya melihat pergerakan Kinan. Kedua matanya menyorot ke arah tangan Kinan yang begitu luwes memotong bawang merah hingga tipis dan cepat.


"Kamu sudah biasa masak ya?" tanya Atika sambil memperhatikan Kinan yang benar - benar sudah terlihat lihat.


Sisa nasi tadi malam pun sudah masuk ke adalam wajan semua dan di campur menjadi satu dengan bumbu yang ada di dapur. Bumbu sederhana dengan cita rasa luar biasa. Tak hanya ittu saja, Kina juga memcampur irisan daging aam dan sosis. Nugget, kentang goreng dan sisa sosis besar pu di goreng terpisah sebagai camilan.


Udara yang dingin di daerah lembang membuat Kinan pun mencoba minuman hangat lain selain teh manis atau kopi. Kinan mencoba membakar jhe setlah jahe itu di kupas. Cukup di bolak balik menggunakan capitan yang di bakasr di atas kompur. Setelah mengeluarkan aroma wangi jahe, jae tersebeut di geprek dan dimasukkan kedalam panci dengan air secukupnya di tabah gula batu.


Atika baru saja selsai merapikan meja makan. Meletakkan piring - piring dan gelas serta alat sendok/ meltakkan satu bakul nasi goreng yang telah matang dan beberapa gorengan sebagai camilan atau teman nasi goreng. Terlihat sederhana namun sepertinya akan membuat nagih di mulut.


"Iya Tante Atika. Ini minuman jahe khas angkringan Yogya. Buat perut hangat. Bisa begini saja atau mau di campur susu putih biar jadi susu jahe," ucap Kinan pelan.


Atika senang mlihat Kinan yang terlihat peka dantahu banyak hal.


"Kapan - kapan main ke rumah Tante. Kita masak bareng. Kalau Tante lebih suka bikin kue kering, buat hari raya gitu," ucap Atika pelan ikut mmebanggakan diirinya yang terbukti pintar membuat kue.


"Oh ya? Kinan malah gak bisa Tan. Sering gagal. Ibu yng pinter buat begitu, Kinan biasanya hnaya merapikan d toples tapi gak penuh - penuh karena masuk ke perut Kinan," ucap Kinan pelan.

__ADS_1


Atika pun tertawa. "Tante malah senang jika ada yang membantu menghaiskan. Dika itu sudah bosan menikmati ceilan kue kering begitu. Katanya sih lama - lama eneg. Mungkin Dika sejak kecil sering bantu Tante buat kue, karena dulu Tante terima orderan untuk di jual. Mungkin sekarang Dika bosan dengan kue buatan Tante. Tapi, kalau Tante rasa, dia akan tetap makan kue kering walaupun bosan asal yang membuat itu kamu, Kinan," ucap Atika pelan. Atika sengaja sesekali membanggakan Dika dan menyodorkan Dika dengan segala kelebihan dan kesempurnaannya.


"Lain waktu ya Tante. Kinan main kesana," ucap Kinan pelan. Kinan tidak mau berjanji paling tidak Kinan hanya ingin Tante Atika tahu, bahwa Kina juga punya niata baik untuk main ke rumah Dika.


"Kalian itu terlihat cocok lho," ucap Atika memberikan penilaian.


Kinan hanya diam dan tetap fokus menyaring air jahe yang sudah matang dan di masukkan ke dalam teko agar ampas jahenya tidak ikut masuk ke dalam.


"Uhmmm ... Wangi banget ya?" ucap Atika yang mencium aroma wangi jahe dari jarak yang tidak begitu jauh dari tempat Kinan berdiri.


"Selamat pagi semuanya," sapa Dika yang kaget melihat Kinan sudah berada di dapur.


"Pagi Dika," jawab Kinan lembut tanpa menoleh ke arah Dika. Kinan masih fokus pada tekonya.


"Kamu sudah sembuh? Kenapa sudah keluyuran di dapur? Pake buat buat minuman segala?" tanya Dika yang berjalan menghampiri Kinan.


"Kinan udah gak apa -apa, Dika. Jangan perlakukan Kinana seperti oarng sakit saja yang harus rebahanterus. Kinan juga perlu gerak dan perlu beraktivitas biar tubuh gak kaku dan bisa berkeringat. Bukankah dengan berkeringat tandanya tubuh kita sehat?" tanya Kinan menatap Dika yang juga menatap kedua mata Kinan yang masih sayu.


Kinan membawa teko berisi air jahe untuk di letakkan di atas meja.


"Tapi kamu masih lemas, Kinan," ucap Dika pelan sambil berjalan membuntuti Kinan yang sudah berada di ruang makan untuk merapikan tata minuman yang tadi di buatnya.


Setelah meletakkan teko air jahe itu, Kinan berdiri tepat di depan Dika. tangan Dika di ambil dan di letakkan di kening Kinan.


"Cek? Udah gak panas kan? Kinan butuh gerak Dika biar gak lemas ototnya juga," ucap Kinan sedikit merengek.


"Tapi Kinan ...." ucapan Dika pun belum selesai, Kinan sudah kembali lagi menuju dapur mengambil susu kental manis yang tadi di lihatnya di lemari pendingin.

__ADS_1


"Tidak ada tapi - tapian, oke. Kinan sudah lebih baik. Sekarang kita makan, yuk? Pak Surya mana? Sekalian kita ajak makan bersama. Kinan yang masak tadi," ucap Kinan sambil melebarkan senyumannya kepada Dika.


"Benarkah?" tanya Dika takjub tak percaya. Secara kalau melihat Kinan itu seperti melihat melihat gadis manja. Tpi, Dika salah besar. Kinan memang terlihat manja, tapi ia adalah gadis mandiri luar biasa.


__ADS_2