Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
23


__ADS_3

Rehan tidak mengerti apa yang diinginkan oleh Intan, keinginannya yang tidak masuk akal itu terpaksa ia lakukan, karena sudah begitu dalam ia mencintai Intan, dan setelah beberapa hari menjelang, saat Rehan hendak berangkat ke toko, Intan meminta pada Rehan untuk mendatangi rumah Dinda.


"Mas, jangan lupa ke rumah Dinda dulu ya, kasih tau apa yang sudah kita bahas kemarin," ucap Intan saat itu.


"Iya, nanti akan aku bicarakan sama Dinda," sahut Rehan dengan nada lirihnya.


"Bagus, sekalian aku mau minta uang dong Mas, buat aku jalan-jalan ke mall hari ini, kamu kan mau pergi kerja, aku pastinya jenuh di rumah sendiri," pinta Intan dengan nada manjanya.


"Ya sayang, kamu mau uang berapa?" tanya Rehan yang saat itu mengeluarkan dompet miliknya.


"Seberapa kamu kasih aku aja Mas." jawab Intan yang tidak menyebut jumlah.


Hal itu tentu saja membuat Rehan bingung, hingga ia memutuskan untuk mengeluarkan ATM nya dan menyerahkan semua pada Intan.


"Ini pegang lah, buat belanja kamu," ucap Rehan yang tidak ragu menyerahkan ATM itu pada Intan.


"Mas, ini serius?" tanya Intan menatap Rehan.


"Tentu saja serius, memangnya kapan aku bercanda padamu. Ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu ya." pamit Rehan pada Intan saat itu.


Intan menganggukkan kepala, ia mengantarkan Rehan pergi sampai di depan pintu. Saat itu Intan merasa sangat senang sekali karena ia akhirnya bisa merasakan bahagianya menjadi istri Sultan.


Sementara Rehan sendiri sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah Dinda, Rehan memencet bel dan dibukakan oleh bi Iyas beberapa saat kemudian, saat itu bi Iyas merasa bingung ada keperluan apa mantan majikannya itu datang ke rumah.


"Bi, Dinda ada?" tanya Rehan.


"Ada Tuan, di dalam," ucap bi Iyas.

__ADS_1


"Saya mau masuk, ada yang ingin saya bicarakan pada Dinda," sahut Rehan meminta izin terlebih dahulu.


"Silahkan masuk, Tuan." jawab bi Iyas yang mempersilahkan Rehan masuk.


Rehan pun melangkah masuk dan bertemu dengan Dinda, Dinda merasa bingung saat itu. Ia tidak memiliki janji apapun pada Rehan pagi itu, dan ia merasa bingung mengapa Rehan datang menemui dirinya. Bi Iyas datang mendekati Dinda, ia menyampaikan apa yang diucapkan oleh Rehan padanya, dan Dinda pun menyerahkan Arka pada bi Iyas.


Langkah kaki Dinda menghampiri Rehan yang sedang duduk di ruang tamu, Dinda pun ikut duduk berhadapan dengan Rehan yang sebenarnya tidak enak hati untuk bicara.


"Ada apa Mas, ada sesuatu yang mau kamu sampaikan?" tanya Dinda penasaran.


"Iya Din, aku ada perlu sama kamu dan itu penting. Aku sebenarnya tidak enak hati padamu, tapi ini keinginan Intan," ucap Rehan ragu untuk mengatakan.


"Katakan saja Mas, apa yang Intan inginkan, sampai membuat kamu ke sini pagi-pagi sekali," sahut Dinda yang saat itu terlihat sudah biasa saja.


"Intan menginginkan rumah ini Dinda, tapi kau jangan khawatir, aku akan membelikan rumah baru untukmu bersama Arka dan juga bi Iyas, aku sebenarnya tidak tahu kenapa Intan menginginkan rumah ini, aku juga sudah berusaha memberikan pengertian, tapi dia justru marah padaku." jelas Rehan mengeluhkan sikap Intan.


Saat itu Dinda tidak ada pilihan lain, untuk menjawab tidak pada Rehan. Rumah yang ia tempati itu memiliki banyak sekali kenangan pahit bersama Rehan, dan Dinda sendiri sebenarnya tidak menginginkan jika akan tinggal lebih lama di sana. Karena sudah pasti, saat gedung yang sebentar lagi jadi itu, ia akan meninggalkan rumah yang memiliki kenangan pahit bagi hidupnya.


"Sungguh Dinda? Kau tidak keberatan?" tanya Rehan memastikan.


"Untuk apa aku keberatan Mas, tentu saja tidak. Ini adalah rumah mu, aku hanya numpang tinggal saat aku menjadi istrimu, dan sekarang status ku hanya sebagai mantan, aku tidak berhak lagi atas rumah ini," seru Dinda melempar senyum.


"Dinda, jangan bicara seperti itu, aku akan mencarikan mu tempat tinggal yang baru, aku akan membeli rumah baru untuk mu bersama Arka," sahut Rehan yang saat itu merasa bersalah.


"Tidak perlu Mas, aku akan mencari tempat tinggal sendiri, kau sudah memiliki keluarga dan harus mengurus keluarga mu, jangan sibuk memikirkan aku yang sudah menjadi bagian dalam masa lalu mu, secepatnya aku akan meninggalkan rumah ini, dan katakan pada istrimu, bahwa beberapa hari kemudian aku sudah tidak tinggal di sini." jelas Dinda masih mempertahankan senyumannya.


Rehan benar-benar merasa bersalah kala itu, ia tidak menyangka jika Dinda akan secepat itu setuju, bahkan ia menolak saat Rehan akan mencarikan tempat tinggal baru untuknya. Dan karena merasa malu, Rehan pun tidak bisa berlama-lama ada di rumah itu dan duduk bersama dengan Intan, ia memutuskan untuk pamit, karena tidak ada lagi keperluan yang harus ia bahas dengan Dinda.

__ADS_1


Kepergian Rehan merubah semua nya, wajah panik Dinda terlihat sangat jelas saat itu, ketegarannya memudar dan berganti dengan kesedihan, mana mungkin Dinda akan tinggal di gedung yang lokasinya masih belum selesai di renovasi itu, kecemasan Dinda menyadarkan bi Iyas yang saat itu menghampiri majikannya.


"Non, ada apa? Apa yang dikatakan oleh tuan Rehan padamu, sampai wajah mu pucat seperti itu?" tanya bi Iyas penasaran dan ikut cemas pada Dinda.


"Intan meminta rumah ini Bi, dan kita harus secepatnya meninggalkan rumah ini," ucap Dinda menatap bi Iyas serius.


"Astaga, bukannya dia sudah memiliki tempat tinggal sendiri, lalu mengapa dia meminta rumah ini, Non!" marah bi Iyas tidak menyangka.


"Aku tidak ada pilihan lain untuk menolak Bi, aku sudah menjadi mantan istrinya Mas Rehan, dan dia lah sebagai gantinya, aku sendiri sudah setuju dan aku mengatakan bahwa secepatnya kita akan meninggalkan tempat ini, tapi aku bingung Bi, kita hendak ke mana." jelas Dinda menatap bingung.


Saat itu bi Iyas juga merasakan hal yang sama, ia terlihat bingung karena majikannya ternyata sudah setuju dengan permintaan Rehan, namun ia tidak tahu harus tinggal di mana. Pulang ke rumah orang tua tidak akan mungkin dilakukan oleh Dinda saat itu, hingga ia harus memikirkan betul-betul keputusan untuk membawa Arka dan bi Iyas bersamanya.


"Bi, aku akan kembali, tolong jaga Arka ya," ucap Dinda yang tiba-tiba berpamitan.


"Tapi Non mau ke mana?" tanya bi Iyas cemas.


"Jangan khawatir, aku akan segera kembali." jawab Dinda melempar senyum.


***


"Apa! Jadi istri barumu itu meminta rumah yang saat ini kau tinggali bersama Arka dan juga asisten rumah tanggamu?" tanya Wulan setelah mendengar semua cerita dari Dinda.


"Iya, aku tidak tahu harus tinggal di mana, sementara tadi aku sudah menolak tawaran Mas Rehan yang akan menggantikan tempat tinggal baru untukku dan anakku," ucap Dinda terlihat sedih saat itu.


"Dinda, keputusan mu adalah keputusan yang sangat tepat. Aku akan sangat marah jika sampai kau menerima penawaran dari mantan suamimu itu, jika tempat tinggal kau tidak perlu khawatir. Sambil menunggu tempat bisnis mu itu jadi, kau bisa tinggal bersama ku," lagi-lagi saat itu Wulan menjadi penolong bagi Dinda.


"Wulan, kau serius? T-tapi aku tidak mau menjadi beban mu," sahut Dinda tidak enak hati.

__ADS_1


"Kalau Wulan menganggap mu sebagai beban, maka tinggal lah bersamaku Dinda, karena aku akan menganggap mu sebagai tamu yang harus ku hormati."


Dengan tegas Pandu menawarkan dirinya, saat itu Dinda dan Wulan menatap Pandu secara bersamaan, hingga membuat Pandu merasa bingung dengan tatapan mereka.


__ADS_2