
Keduanya kembali terdiam tak bicara. Kinan yang kembali diam karena tidak mendapatkan jawaban yang menyenangkan dan Dika kembali diam karena tidak ingin mengungkap rahasia misteri hidupnya.
Dika fokus menyetir dengan pandangan lurus ke depan. Matahari yang semakin naik dan menyilaukan sinarnya melalui kaca jendela mobil. Pantulan sinar matahari itu mulai meberikan hawa panas.
Melihat Kinan yang mulai resah karena silau. Dengan gerak cepat Dika menutup bagian depan kaca Kinan dengan perlengkapan yang di gunakan untuk menampiaskan silau.
"Udah gak silau kan?" tanya Dika pelan.
"Ya. Makasih Dika," ucap Kinan pelan.
Dika pun menyetel musik di dalam music player yang ada di dalam mobil. Keduanya mendengarkan tanpa berbicara hingga Kinan pun mulai terlelap dalam alunan musik jazz yang membuat suasana di mobil mengantuk. Dika hanya menoleh sekilas melihat Kinan yang sudah menyenderkan kepalanya di kaca jendela samping kirinya. Kedua matanya sudah terpejam. Senyum Dika terbit, menikmati wajah cantik Kinan yang sedang tertidur pulas.
Pagi ini, Mama Anita dan Bagas juga berangkat menuju Bnadung. Pertama yang akandi kunjungi adalah Perusahaan suaminya yang baru di buka di Bnadung. lalu menemui Agung sebagai tangan kanan Papah Surya.
"Mama yakin?" tanya Bagas pelan tanpa meneruskan bicaranya.
"Yakin apa?" tanya Anita kembali. Tak paham dengan pertanyaan yang menimbulkan sesuatu yang ambigu.
"Yakin kalau Papah ada hubungan dengan mantan sekertarisnya itu. Siapa tadi namanya? Atika?" tanya Bagas.
Mama Anita hanya menatap lurus ke depan. Jalan tol yang terlihat luas dan panjang itu membuatnya berpikir luas juga. Tapi, foto itu sepertinya mereka sedang bahagia.
"Gak tahu juga sih. Tapi, feeling Mama itu gak pernah salah, Gas. Pasti Papahmu mengulur waktu untuk kembali ke Jakarta karena ingin bertemu dengan Atika. Mungkin sekarang Atika ada di Bandung," jawab Mama Anita yang terdengar sedikit cemburu.
__ADS_1
"Mama cemburu?" tanya Bagas kemudian sambil terkekeh.
"Menurut kmau? Kalau Papah itu punya istri lagi, Mama harus diam?" ucapan Mama Anita mulai ketus. Tak suka dengan pertanyaan aneh Bagas yang tak masuk akal itu. Istri mana yang tidak cemburu jika suaminya di suapi oleh wanita lain yang notabene mereka pernah dekat d masa lalu. Apa tidak perlu di curigai?
"Bukan tidak perlu cemburu. Tapi, seharusnya Mama lebih punya harga diri, tidak terus tlihat berambisi ingin memergoki Papah sedang berselingkuh," ucap Bagas dengan tenang dan santai seolah apa yang di lakukan papahnya adalah hal wajar dan bukan hal yang patut di salahkan.
"Hah? Bagas? Mama gak salah denger dengan saran kamu?" tanya Mama Anita bingung. Mama Anita tidak mengerti apa yang ada di pikiran Bagas saat ini. Foto itu jelas membuktikan bahwa mereka bertemu dan ada hubungan. Kalau tidak ada hubungan mana mungkin mereka saling suap - suapan.
"Gini Ma. Bagas hanya ingin merubah pikiran negatif Mama untuk mencari kebenaran dan solusi yang positif. Kalau Mama saat ini cemburu terus terobsesi untuk melabrak atau marah - marah. Gak ada gunanya kan? Kita harus bersikap lebih elegan. Kita buntuti, pura - pura bertemu tidak sengaja dan jangan terlihat marah, positif thinking aja seola tidak ada apa - apa. Gitu maksidh Bagas," ucap Bagas memebrkan saran dan nasihat.
Bagas tahu, Mama Anita sudah terbakar api cemburu. Kalau tidak di cegah bisa marah - marah dan melabrak mantan sekertaris Papah itu. Iya kalau bener, dan kalau semua itu hanya rekayasa atau ada sandiawara namun terlihat nyata, hanya menginginkan keuntungan di salah satu pihak. Tentu yang rugi Mama Anita sendiri. Kita perlu berpikir logis untuk hal ini. Menyelesaikan masalah dengan kepala dingin bukan dengan amarah.
"Maksud kamu, Mama harus pura - pura diam dan tidak tahu apa -apa? Padahal hati Mama sudah dongkol dan kecewa? Gitu?" tanya Mama Anita dengan nada mulai menyentak
Bagas mengangguk - anggukan kepalanya.
"Begitu Ma. Memang harus begitu. Kalau Mama marah - marah dan mebarak. Mama itu seperti wanita yang bodoh dan akan dinilai semakin bodoh. Ujung - ujungnya Mama akan di balikkan faktanya. Kenapa tidak bisa menjaga suami? Mama mau membela diri apa? Atau buruknya Papah lebih memebela wanita itu di banding Mama, dn Mama hanya di anggap wanita stres. Mama mau bilang apa? Semua percuma kalau dengan otot dan urat, lebih baik pakai otak," ucap Bagas menjelaskan.
Mama Anita mulai paham dan mulai bisa menerima pendapat Bagas yang terlihat menyakitkan tapi sousi yang cukup membuat kita tidak terlihat seperti orang gila.
"Oke. Mama paham. Mama akan ikuti saran kamu, Bagas," ucap Mama Anita pelan karena tidak ada pilihan lain. Mungkin cara Bagas, bisa mendapatkan bukti yang lebih optimal.
"Ada syaratnya Ma. Gak ada yang gratis," ucap Bagas pelan.
__ADS_1
"Syarat? Kamu sama Mama sja masih hitung - hitungan dan minta syarat? Kebangetan kamu, Bagas?" ucap Mama Anita mulai kesal.
"Syaratnya gampang kok, Ma," sergah Bagas yang mulai membuat Mama Anita tenang.
"Apa?" tanya Mama ANita kesal tanpa menoleh ke arah Bagas.
"Lamarkan Kinan untuk Bagas secepatnya," ucap Bagas lantang.
"Itu urusan Paph, Bagas. Mama tidak bisa ikut campur. Kamu tahu, kesalahan kamu itu fatal. Mam sendiri tidak yakin untuk hal itu," ucap Mama Anita kemudian.
"Maksud Mama? Perjodohan itu secara otomatis di batalkan?" tanya Bagas yang tiba - tiba memberhentikan mobilnya. di tengah - tengah perjalanan di dalam tol. Untung saja laju jalan tol itu sepi, mungkin kalau banyak pengendara lain, mobil Bagas bisa di tabrak dari belakang.
"Jalan Bagas. Ini jalan tol!! Jangan cari bahya," ucap Mama Anita dengan gemas
Bagas pun melajukan kembali laju mobilnya. Kesel juga kalau ingat hari brsejarah itu yang membuat gagal semuanya. Kok, bisa sih? Ada rapat tiba -tiba dengan klien penting itu. Tapi saat itu mereka juga nampak buru -buru seklai seperti mendapatkan kabar itu baru saja. Apa jangan - jangan ada yang menjegal langkahku di kantor? Bagas mulai berpikir keras. Siapa dalangnya? Festi kah? Atau ada orang lain yang bekerja sama dengan karyawanku?
"Kenapa kamu tidak coba dari awal dengan Kinan? Sperti orang yang baru mengenal, mendekati dan akhirnya pacaran. Menurut Mama itu lebih ngena dibandingkan harus di jodohkan. Seingat Mama, Ayah Kinan saat itu marah besar, Bagas. Orang tua mana yang tidak menanggung malu dnegan gagalnya acara lamaran putri kesayangnanya dan satu - satunya di keluarga tersebut. Kamu paham kan? Bagiman perasaan orang tua Kina?" ucap Mama Anita menjelaskan.
Bagas menyimak penjelasan Sang Mama dnegan baik. Ia begitu paham dan lebih mengerti.
"Ma ... Kayak ada orang yang ingin menghentikan langkah kita menuju bahagia? Tiba - tiba satu masalah muncul dan seperti ingin mensabotase semuanya," ucap Bagas menerka.
Anita pun menoleh ke arah Bagas yang terlihat serius berpikir
__ADS_1