Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.54


__ADS_3

Bagas dengan cueknya menggandeng tangan KInan menuju pintu lift. Kinan tak bisa berkutik, genggaman tangan itu sangat erat. Tidak ada yang bisa Kinan lakukan selain pasrah dan tak bisa berontak.


Benar saja, semua mata memandang ke arah Bagas dan Kinan. Sebenarnya bukan melihat keduanya tapi lebih lekat melihat tanagn Bagas yang begitu menggenggam erat tangan Kinan.


"Pak ... Semua orang melihat ke arah kita," ucap Kinan saat berdiri di depan pintu lift menunggu hingga pintu lift itu terbuka.


Bagas tetap diam tak menjawab dan tak memberikan pernyataan apapun. Bagas tahu, kejadian barusan ini akan membuat gempar seluruh karyawan di kantor.


"Pak ... Jawab kek. Bukannya malah diem aja. Kinan gak mau bermasalah sama yang lainnya lho. Jangan bikin Kinan hidupnya tak tenang," ucap Kinan terus bicara tanpa henti hingga pintu lift itu terbuka dan Bagas langsung menarik pelan gadisnya masuk ke dalam lift dan menutup kembali pintu lift itu menuju ke arah lobby kantor.


Bagas menoleh ke arah Kinan yang masih saja bicara dan merapatkan tubuh Kinan hingga ke ujung sudut lift. Kinan langsung terdiam dan menatap wajah Bagas yang begitu dekat denagn dirinya. Jantungnya kembali terpacu seperti pagi tadi saat Bagas mencium bibirnya. Jangan sampai kejadian serupa tadi pagi terulang kembali.


"Ternyata kamu cerewet sekali ya? Bikin gemes tahu gak? Gimana nanti jadi istri? Pasti lebih bawel dari ini," ucap Bagas dengan suara merendah tapi penuh tekanan.

__ADS_1


Bibir Bagas sengaja di rapatkan ke bibir Kinan hingga kedua bibir itu saling bersentuhan. Kedua mata mereka saling memandang dan tak berkedip. Bagas sendiri merasa menang dan terus menempelkan bibirnya tanpa ada pergerakan sama sekali, tapi hal itu yang membuat jantung Kinan semakin berdegup kencang dan tubuhnya bergetar hebat.


"Pak ...." ucap Kinan lirih terasa sedang ketakutan.


"Kenapa? Kamu takut?" jawab Bagas dengan suara lirih.


"Bukankah kamu sudah menajdi miliku ...." ucap Bagas kemudian lalu ******* bibir Kinan denagn sanagt lembut dan hati -hati sekali. Bagas berusaha untuk tidak emmbuat Kinan ketakutan dan merasa tersakiti.


"Emhhh ... Jangan begini, Pak," ucap Kinan denagn suara terbata.


Ting!!


Suara tanda lift sudah berada di lantai yang diinginkan. Lalu pintu lift itu terbuka secara otomatis. Kinan langsung mendorong tubuh Bagas dengan keras agar smeua orang yang ada di kantor ini tak melihat perbuatan Bagas dan Kinan di dalam lift tersebut.

__ADS_1


Lihat saja, Bagas terlihat tenang dan santai seperti tak terjadi apapun juga. tangannya kembali menggandeng Kinan dan keluar bersama dari lift kecil itu menuju ke luar gedung kantor.


Kinan tak habis pikir, bisa -bisanya Bagas setenang itu dan santai sekali. Bagas menunggu mobilnya di antarkan oleh satpam dan membukakan pintu bagian depan untuk Kinan.


"Masuk," titah Bagas pda Kinan pelan.


"Iya ... Terima kasih Pak," jawab Kinan langsung masuk ke dalam mobil dan duduk diam dengan perasaan campur aduk, bingung dan tak jelas.


Bagas sudah duduk di samping Kinan dan langsung memasangkan sabuk pengaman melewati tubuh Kinan.


"Kita makan dulu ya. Laper. sandwichnya gak nendang. besok lagi boleh juga di bawain sarapan sama calon istri," pinta Bagas pada Kinan.


Kinan hanya menoleh ke arah Bagas dan tersenyum kecut.

__ADS_1


"Calon istri?" ucap Kinan masih tak percaya. Rasanya hari ini ingin cepat berlalu agar Kinan terbangun dar mimpinya.


__ADS_2