Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
35


__ADS_3

Tibanya di rumah, kedatangan Rehan disambut dengan makian dan omelan dari Intan karena saat itu ia dalam keadaan mabuk, Intan sama sekali tidak mau tahu apa yang terjadi pada suaminya itu, hatinya kini sudah terbagi dengan Pandu yang membuat dirinya menilai buruk tentang rumah tangganya sendiri.


Setelah Antonio pulang, Intan membawa Rehan ke kamar mereka, dengan susah payah Intan memapah tubuh Rehan dan menghempasnya begitu saja. Kemarahan dan ocehan dari Intan pun tak berhenti sampai di situ, ia terus saja memakai dan memarahi Rehan yang tidak sadar dengan apa yang telah ia lakukan.


Keesokan paginya, Rehan terbangun dari tidur panjangnya, kepalanya terasa sangat sakit sekali, dan ia tersadar bahwa penampilannya sangat berantakan.


"Intan,"


Rehan memanggil istrinya karena ia merasa haus saat itu, ia ingin sekali meminta di ambilkan minum karena untuk bangkit sendiri kepala terasa sangat berat.


Namun Intan sama sekali tidak menanggapi, Intan sudah tidak ada di rumah pagi-pagi buta. Intan memutuskan untuk pergi mengajak Pandu bertemu untuk menceritakan kejadian semalam terkait kepulangan Rehan yang dalam keadaan mabuk.


"Intan, ada apa si ini sebenarnya, kenapa kamu mengajak ku bertemu pagi-pagi sekali?" tanya Pandu yang merasa aneh dengan chat pribadi yang dikirim oleh Intan.


"Mas, aku sedih banget, aku pengen banget punya teman yang mau bersedia mendengarkan keluh kesah ku, kali ini aku benar-benar merasa sendirian," ucap Intan yang kala itu menangis di hadapan Pandu untuk mencari perhatian dari nya.


"Memangnya apa yang telah terjadi padamu Intan, kenapa sepertinya kamu merasa sangat terpukul sekali," Pandu semakin penasaran terkait apa yang ingin di katakan oleh Intan.


Saat itu Intan bercerita soal yang lain, ia tidak mungkin berkata bahwa suaminya lah yang telah membuat dirinya seperti itu karena ia tidak mau jika kedoknya terbongkar bahwa dirinya sebenarnya sudah memiliki suami, tatapan mata Pandu menunjukkan bahwa ia tidak percaya dengan cerita Intan yang lain.


Saat sedang mengobrol ringan dengan Intan, Pandu tidak sadar bahwa ada Dinda dan juga Wulan melintasi tempat itu, Dinda melihat bahwa saat itu Intan meraih tangan Pandu dan menggenggamnya.

__ADS_1


Kali ini Dinda merasa harus melawan dengan sikap Intan yang berlebihan pada kekasihnya, jika dulu dia diam karena Intan merebut Rehan darinya, kali ini Intan tidak akan membiarkan Pandu jatuh dalam pelukannya juga.


Saat tatapan mata Dinda tertuju ke arah di mana Pandu dan Intan sedang duduk bersama, membuat Wulan akhirnya ikut terpancing emosi, ia tidak mau jika sampai sahabatnya itu merasa sakit hati dengan sikap Pandu yang tiba-tiba menemui wanita lain.


"Mau apa si Pandu pagi-pagi menemui istri orang itu, ini saatnya Pandu tahu kalau Intan itu punya suami, ini nggak bisa dibiarin!" marah Wulan yang sudah siap ingin menghampiri Intan dan juga Pandu.


"Tidak usah Wulan," ucap Dinda menahan Wulan.


"Din, ini nggak bisa dibiarin, nanti lama-lama Pandu itu terpengaruh sama wanita ular itu, selain aku nggak suka dia deket sama wanita itu, aku juga nggak mau kalah wanita itu berhasil merebut Pandu dari kamu," seru Wulan yang tidak akan tinggal diam.


"Biarkan aku saja yang mendatangi mereka, jangan kamu. Tenang lah Wulan, wanita yang telah tersakiti, tidak akan tersakiti untuk yang kedua kalinya, aku tidak akan membiarkan hatiku hancur dengan orang yang sama." jelas Dinda melempar senyum, membalas tatapan Wulan padanya.


Saat itu langkah kaki Dinda hampir sampai di tempat di mana Intan dan Rehan sedang mengobrol, saat itu kedatangan Dinda membuat Intan sangat kesal dan terganggu, apalagi saat melihat Dinda melempar senyum padanya.


"Dinda, kok kamu ada di sini, biar aku jelasin," ucap Pandu yang tiba-tiba terkejut melihat kedatangan Dinda, menghampiri dirinya dengan Intan. Ia sangat takut jika Dinda sampai salah paham padanya.


Cup


Tiba-tiba saja Dinda mengecup pipi kanan Pandu di hadapan Intan, Intan yang saat itu melihat dengan nyata langsung bangkit karena ia tidak percaya dengan perbuatan Dinda. Begitu pun dengan Pandu, yang tidak mengerti mengapa Dinda justru bereaksi seperti itu ketika ia melihat Pandu bersama Intan.


"Tidak masalah sayang, aku percaya kok sama kamu, kedatangan aku ke sini tadi cuma kebetulan aja kok, aku lewat sini bersama Wulan, saat aku melihat kamu, aku jadi ingin ke sini," ucap Dinda melempar senyum, ia begitu santai menanggapi Pandu.

__ADS_1


"Sayang, apa maksud kamu memanggil Pandu dengan sebutan sayang, Dinda?" tanya Intan yang tidak terima saat melihat sikap dan perbuatan Dinda.


"Dia adalah calon suami ku Intan, jadi wajar kan kalau aku menciumnya. Oh ya, ngomong-ngomong, kenapa kamu ada di sini pagi-pagi seperti ini, apa kamu tidak membuatkan sarapan untuk suami kamu?" Dinda membalas pertanyaan Intan untuk nya.


Seketika Intan memasang wajah pucat, ketika Dinda menyebut suami di hadapan Pandu. Sementara Pandu sendiri yang sebenarnya sudah mengetahui beraksi biasa saja di hadapan Intan, namun karena Dinda sudah terlanjur berkata seperti itu Intan pun akhirnya memutuskan untuk membawa Dinda pergi sedikit jauh dari Pandu, ia ingin berbicara penting dengan Dinda saat itu.


Sementara saat melihat Dinda dibawa pergi oleh Intan, Wulan pun mendatangi Pandu dan menjewer nya kuat-kuat. Hingga membuat Pandu meringis kesakitan di dan meminta Wulan menghentikan aksinya.


"Pandu, kau sudah melakukan perbuatan salah besar, kau melakukan pertemuan di belakang Dinda, apa kamu tidak sadar bahwa itu akan menyakiti hatinya, ha!" marah Wulan yang tidak akan tinggal diam Pandu berbuat kesalahan.


"Aauu, sakit Wulan. Biar aku jelaskan padamu, aku tidak sengaja membaca pesan dari Intan, saat itu dia sedang menangis, aku tidak tahu harus melakukan apa saat itu selain menemui dia, aku tidak sengaja Wulan, maafkan aku," ucap Pandu yang berusaha melepaskan dirinya dari Wulan.


"Apapun bentuk alasanmu, aku sama sekali tidak menerima itu, aku hanya ingin kamu bertanggung jawab atas perasaan Dinda, jangan meminta maaf padaku, tapi minta maaf lah pada Dinda." jelas Wulan berpangku tangan, ia membuang wajahnya di hadapan Pandu.


Saat itu Pandu berusaha keras mengambil hati Wulan, meskipun itu terasa sangat sulit namun ia terus membujuk sampai akhirnya Wulan percaya, ia mendapatkan pidato dari Wulan panjang lebar, agar ia sadar dan tidak lagi mengulangi nya lagi.


Sementara di tempat lain, Dinda melepaskan tangan Intan yang sejak tadi menarik dirinya jauh dari Pandu, kali ini Dinda benar-benar berbeda dari sebelumnya. Intan yang mengira bahwa Dinda tidak akan berani padanya, justru terlihat begitu bengis di hadapannya.


"Heh Dinda, apa maksud kamu menyebut nama suami di hadapan Pandu, dan apa maksud kamu mengaku-ngaku kalau Pandu itu calon suami kamu, ha!" Intan menatap Dinda dengan kebencian.


"

__ADS_1


__ADS_2