
Dinda masuk ke rumah dengan hati yang terluka, namun keputusannya untuk berpisah dengan Rehan sudah menjadi keputusan yang sangat tepat. Saat itu kedatangan Dinda disambut oleh bi Iyas yang ingin sekali menjadi pendengar, Dinda pun tak sedikit pun menutupi semuanya, ia menceritakan semua yang telah ia lalui saat itu hingga ia kembali ke rumah.
Bi Iyas melempar senyum, ia sangat salut pada Dinda yang telah memutuskan sesuatu cukup berat baginya, namun ia tetap meminta perpisahan dari Rehan yang lebih memilih istri barunya.
Sehari dua hari mungkin itu akan terasa sangat menyakitkan, namun karena Dinda menyibukkan diri untuk bertemu dengan Wulan dan Pandu yang sedang membangun mimpinya, membuat Dinda sedikit demi sedikit bisa lupa pada masalahnya, saat itu bi Iyas juga mendukung penuh ketika Dinda menitipkan Arka padanya untuk sebuah keperluan.
Beberapa bulan kemudian.
Saat Dinda meminta talak di malam pengantin Rehan bersama dengan Intan, Rehan sama sekali tidak pernah menunjukkan dirinya lagi ke rumah, secara tidak langsung dan lisan, Rehan sudah menyerahkan rumah yang ia tempati selama ini bersama Dinda padanya, dan Rehan memilih tinggal bersama dengan Intan di rumah baru yang ia beli.
Saat itu Dinda sedang bermain dengan Arka, Arka sudah tumbuh menjadi sosok anak yang begitu menggemaskan, ia sudah bisa memanggil nama Dinda dengan sebutan mama sesekali saat ia sedang ingin bicara.
Dinda dan bi Iyas pun selalu teliti dengan polah asuh mereka terhadap Arka. Mereka sedang mengawasi gerakan Arka yang semakin aktif di lantai ruang keluarga, Dinda dan bi Iyas tidak menyadari jika Rehan datang bersama dengan Intan, suara deheman lah yang membuat Dinda dan bi Iyas sadar bahwa di belakang mereka ada tamu.
Dinda menoleh ke belakang dan begitu juga dengan bi Iyas, saat itu Intan melempar senyum semanis mungkin dengan tetap bergelayutan mesra di lengan Rehan.
"Serius sekali ya kalian berdua ini, sampai tidak sadar ketika kami datang," ucap Intan dengan suara cetusnya.
"Silahkan duduk, kami tidak sadar karena kami terlalu asik bermain dengan Arka." jawab Dinda membalas Intan dengan senyuman.
Saat itu Intan dan Rehan pun saling menatap, Rehan sudah berjanji pada Intan bahwa saat ia menyerahkan surat perpisahan pada Dinda, ia tidak akan berbasa-basi atau duduk sebentar di rumah itu, dan Rehan pun akhirnya harus menuruti permintaan Intan.
"Emmm, maaf Dinda, tidak perlu repot-repot meminta ku untuk duduk, karena aku tidak akan lama di sini, kedatangan ku ke sini sebenarnya hanya ingin menyerahkan surat perpisahan kita, kau tinggal menandatangani saja," ucap Rehan menyodorkan kertas yang dimasukkan ke dalam amplop itu.
__ADS_1
"Oh, sudah ya? Aku akan segera menandatanganinya Mas, tunggu sebentar," dengan semangat Dinda hendak mengambil pena.
"Non, biar aku saja yang mengambilkan pena untukmu," ucap bi Iyas yang ingin segera membantu.
"Tidak perlu Bi, aku akan mengambilnya sendiri." jawab Dinda menolak dengan halus.
Bi Iyas melempar senyum ketika mendengar penolakan dari Dinda, lalu ia sendiri memutuskan untuk kembali duduk bersama dengan Arka di lantai yang di bawahnya ada karpet tebal yang terbentang.
Sementara Rehan dan juga Intan masih berdiri di tempat yang sama tanpa bergerak sedikit pun di sana, Intan memperhatikan rumah besar yang saat ini ditempati oleh Dinda, terbesit di hatinya kala itu, untuk mengganggu Dinda dengan menginginkan rumah tersebut.
Namun Intan tidak mengatakan saat itu juga, ia menahan diri sampai mereka pulang ke rumah nanti. Tak beberapa lama kemudian Dinda pun kembali membawa pena miliknya dan ia sudah sangat siap menandatangani surat perpisahan itu di hadapan Rehan dan juga Intan.
Setelah selesai Dinda pun mengembalikan surat itu pada Rehan.
"Oke baik, kalau begitu kita sudah resmi berpisah Dinda, aku berharap kalau kau tidak akan pernah merasakan sakit hati lagi karena selama ini tidak mendapatkan cintaku," seru Rehan yang merasa bangga kala itu.
"Mencintai mu ku jadikan sebagai pelajaran berharga Mas, kesalahan besar yang pernah aku lakukan selama hidup ku, sebab itu aku bersyukur karena saat ini aku sudah bisa ikhlas melepaskan kamu dengan pilihan hidup mu," sahut Dinda yang sama sekali tidak terlihat sedih lagi.
"Itu sangat bagus Dinda, semoga kau bisa mendapatkan pria yang mencintaimu ya, jangan kau saja yang mencintai suami mu." celetuk Intan dengan nada suara yang sangat cetus.
Saat itu Dinda hanya terdiam, ia tidak membalas hinaan dari Intan, dan saat itu juga Intan mengajak suaminya pulang ke rumahnya.
Tibanya di rumah, Intan duduk di ruang tamu dengan kesal, entah mengapa ia tidak suka ketika melihat keikhlasan dari Dinda, ia ingin jika Dinda sangat sakit dan menangis di hadapannya saat itu, bukan sebaliknya, Dinda terlihat tegar dan penuh senyum ketika Rahan menyerahkan surat cerai itu.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa si, kenapa kelihatannya sangat kesal?" tanya Rehan yang duduk di samping Intan saat itu.
"Mas, aku sangat kesal, aku kesal karena aku tidak melihat air mata di pipi Dinda saat kamu memberikan surat cerai itu, aku ingin dia menangis sedih dan terpukul Mas," ucap Intan menatap kesal.
"Memangnya kenapa harus begitu Intan? Dinda sudah ikhlas melepaskan aku dan membiarkan aku untuk hidup bersamamu, apa itu kurang?" Rehan menatap penuh tanya pada Intan kala itu.
"Ya Mas, kau memang sudah resmi menjadi milikku, tapi aku belum merasa puas, karena melihat Dinda senang seperti tadi. Mas, aku ingin tinggal di rumah Dinda, aku ingin rumah itu," dengan serius Intan mengatakan hal tersebut.
"Intan, apa-apaan kamu ini, bagaimana mungkin kamu menginginkan tempat tinggal Dinda yang sudah aku serahkan padanya? Itu rumah Dinda bersama dengan Arka, Intan." jawab Rehan yang tidak menyangka jika ternyata hati Intan sangat lah buruk.
Intan terus saja memaksa dengan argumennya, dan ia meminta Rehan untuk membelikan rumah yang jauh lebih kecil dari ukuran tempat tinggal Dinda saat itu, Rehan terus menolak dan menganggap bahwa apa yang diinginkan oleh Intan saat itu sangat lah berlebihan, tetapi Intan masih saja memaksa hingga membuat Rahan akhirnya harus memutuskan.
Dengan kesal Intan bangkit dari tempat duduknya, ia masuk ke kamar dengan keadaan marah. Hingga membuat Rehan tidak tahu harus melakukan apa saat itu, melihat Intan yang marah padanya membuat separuh kehidupan Rehan terasa hilang.
Beberapa saat kemudian, Rehan pun memutuskan untuk menghampiri Intan dan membicarakan bahwa ia akan setuju dengan permintaannya.
"Intan, jangan seperti ini dong, baik lah, aku akan membicarakan ini pada Dinda," ucap Rehan pada saat itu.
"Bicarakan dengan segera Mas, aku tinggal mengemasi barang-barang ku untuk pindah ke sana," seru Intan yang terlihat sangat bersemangat.
"Intan, apa motivasi mu ingin rumah itu? Rumah ini jauh lebih baik bukan?" tanya Rehan menatap Intan dengan serius.
"Kita bisa mengukir kenangan kita berdua di rumah ini, sementara di rumah itu? Hanya ada kenangan ku bersama dengan Dinda," sambung Rehan yang saat itu mencari tahu tentang apa yang ada di dalam pikiran Intan.
__ADS_1
"Mas, aku jika aku memiliki dua rumah, aku bisa pulang ke sana saat aku ingin ke sana, dan aku akan pulang ke sini, saat aku ingin ke sini. Aku tidak perduli dengan kenangan mu bersama dengan Dinda, karena yang aku inginkan adalah tentang keinginan ku." jawab Intan dengan lantang nya.