Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.25


__ADS_3

Pagi ini, Kinan sudah rapih sejak shubuh. Tadi malam, Kinan meminta ijin untuk mencari tempat kos yang dekat dengan katornya. Shella tidak melarang asal ada ijin dari Dimas dn kedua orang tua Kinan. Kebetulan moment tadi malam malah menjadi moment indah bagi Shella dan Dimas. Keduanya segera akan melaksanakan prosesi lamaran.Baru setelha itu, akan di adakan pernikahan Ardi dan Agnes yang sudah lebih dulu melakukan acara lamaran sekaligus tunangan.


Dua tas koper besar pun sudah tertutup rapi tinggal dia bawa ke dalam mobil Shella.


"Sarapan dulu ya, Kinan?" tanya Shella menawarkan sarapan kepada calon adik iparnya itu.


"Ekhemm ... Nanti saja di kantor, Mbak," jawab Kinan pelan.


"Yakin gak mau makan dulu?" tanya Shella mengulang kembali ajakan sarapan bersamanya.


Kinan pun mengglengkan kepalanya pelan.


"Oke kalau tidak mau. Kita berangkat sekarang juga. Kebetulan Mbak juga harus masuk pagi, karena tempat kerja kita berlawanan arah. Nanti kabari Mbak kalau sudah dapat tempatnya dan Mbak akan datang ke kos kamu, memastikan tempat itu benar - benar nyaman untuk kamu," ucap Shella menasehati dengan tegas.


"Siap Mbak Shella. Kinan akan terus ingat pesan Mbak Shella," jawab Kinan pelan.


Satu jam kemudian, Kinan sudah berada di kantor dengan membawa dua koper besar yang berisi pakaian yang ikut di bawakedalam kantor. Dua koper itu di letakkan dekat dinding di belakang kursinya. Rencananya, sepulang kerja ia akan mencari tempat tinggal yang baru yang lebih nyaman dan dekat dengan kantornya.


Baru saja, Kinan duduk dan merapikan mejanya. Lalu menyalakan komputer yang ada di meja kerjanya.


"Kamu baru datang? Saya sudah setengah jam lalu datang dan menunggu kamu!! Seharusnya sekertaris itu datang lebih awal di bandingkan Bosnya," ucap Bagas tiba - tiba dengan suara keras menggertak.


Kinan yang terkejut menatap lekat kedua mata Direkturnya itu dan menatap jam yang yang ada di pergelangan tangan kirinya.


Saat ini baru pukul enam lewat tiga puluh menit. Sedangkan jam masuk kantor adalah jam delapan pagi.

__ADS_1


Dengan berani Kinan berdiri dari kursinya dan menunjukkan arah jarum jam pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Pak Direktur yang terhormat. Lihat, saat ini pukul berapa? Ini masih setengah tujuh dan Kinan hadir satu setengah jam dari jam masuk kantor ini, dan Kinan masih di salahkan?" tanya Kinan mulai kesal. Kinan lelah menggeret dua koper besarnya hingga kelantai atas, itu semua penuh perjuangan. Niatnya setelah ini, Kinan akan ke kantin kantor untuk sarapan pagi. perutnya sudah mulai terasa lapar.


Bagas mengerjap sekejap. Ucapannya salah saat bicara pada Kinan. Sebenarnya Bagas itu gugup dan jantungnya sejak pagi berdegup keras menunggu kedatangan Kinan, yang ternyata pujaan hatinya. Tapi, setelah datang, kegembiraan Bagas malah berujung dengan sikap ketus Bagas kepada Kinan.


Bagas menghlea napas dalam dan berusaha menenangkan hatinya yang terus di buat Kinan tak menentu.


"Maafkan saya.Kinan. saya hanya panik kamu tidak datang atau malah datang terlambat karena hari ini, kita ada rapat di oagi hari," ucap Bagas meminta maaf.


"Bapak, minta maaf? Baik, Kinan maafkan," ucap Kinan pelan. Kinan mengambil dompet dan ponselnya lalu berlalu pergi dari hadapan Bagas untuk mencari sarapan.


Langkah Kinan baru beberapa langkah dan Bagas kembali tersadar jika Kinan sudah pergi dari hadapannya dan memanggil Kinan dari kejauhan.


"Kinan?" panggil Bagas dengan suara yang tidak biasa. Suaranya terdengar lembut.


"Ada apa Pak?" jawab Kinna dengan santai. Mau tidak mau Kinan harus tetap berlaku sopan, walaupun suasana hati sedang tidak baik - baik saja.


"Ekhemm ... Kamu mau kemana?" tanya Bagas lembut sambil berjalan menghampiri Kinan yang sudah dekat dengan lift untuk turun ke bagian lobby kantor.


Kedua mata Kinan lekat menatap Sang Direktur yang pagi ini nampak berbeda. cara berpakaiannya pun terlihat tidak seprti biasanya.


"Kinan mau ke kantin di lobby Pak. Kebetulan Kinan belum sarapan tadi," ucap Kinan sambil mengulum senyumnya.


Bagas memasukkan kedua tangannya di saku celana bahan yang di pakainya dan berusaha tetap tenang walaupun hatinya sejak malam tidak bisa tenag terus memikirkan Kinan.

__ADS_1


"Saya ikut juga. Saya mau ngopi, mata agak berat, rasanya mengantuk," ucap Bagas sedikit berbohong. Niatnya hanya ingin berdekatan dengan Kinan, dan bisa mengenal lebih dalam lagi tentang calon istrinya ini.


Kinan mengangguk pasrah. Sebenarnya lebih enak pergi sendiri dan lebih bebas bila di bandingkan harus ada Direktur yang membuntutinya.


"Argh ... Tidak tidak. Membuntuti? Memang siapa dia? Pak Bagas hanya ingin bareng saja, bukan hal lain," lirih suara Kinan sedikit mendesah saat kakinya masuk ke dalam lift.


"Kenapa?" tanya Bagas yang mendengar ******* kesal Kinna.


"Ekhemm ... Tidak apa - apa, Pak. Cuma tadi perut kok udah terasa lapar banget," ucap Kinan mengalihkan pembicarannya.


Suasaha di dalam lift itu hening. Bagas berdiri di samping Kinan agak maju ke depan, dan Kinan di belakangnya. Sesekali kedua mata Bagas menatap ke arah depan yang seperti cermin, memnatulkan sosok Kinan yang menunduk dan tidak bersemangat.


"Kamu sakit?" tanya Bagas tiba - tiba dengan rasa pedulinya.


"Gak Pak,' jawab Kinan lantang dnegan mengangkat wajahnya menatap Bagas dari aras belakang.


"Lalu, Kamu keberatan kalau kita ke katin bareng?" tanyaBagas secara langsung.


Kinan langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak Pak. Tidak sama sekali. Oh iya Pak, bukankah Bapak tidak boleh minum kopi, karena penyakit lambung Bapak bisa kambuh, apalagi ini masih pagi. Lebih baik minum teh manis hangat lebih aman. Takutnya akan mengganggu jalannya rapat pagi ini, bila sesuatu terjadi dengan Bapak?" ucap Kinan pelan. Kinna baru saja teringat minuman yang sangat tidak di perbolehkan untuk Bagas.


"Capucino dnegan krim yang banyak. Bukan kopi hitam.," jawab Bagas masih saja beralasan.


"Untuk pagi ini Kinan tidak ijinkan Pak. Mungkin nanti siang kalau acara rapat sudah selesai, Kinan akan buatkan capucin dengan krim yang banyak," ucap Kinan pelan. Kinan hanya berusaha mengingatkan Bagas. Rapat pagi ini sangat penting bagi Bagas dan bagi kelanjutan berlangsungnya perusahaan raksasa ini.

__ADS_1


Bagas berpura - pura memutar kedua bola matanya dengan malas. Padahal dalam hatinya ia sangat bahagia dan tersenyum sendiri karena memiliki calaon tunangan yang begitu peduli dengan kesehatannya. Ini baru sekertaris, gimana kalau benar jadi istrinya? Tentu Kinan akan lebih peduli dan perhatian kepada Bagas.


"Pak? Pak Bagas?" panggil Kinan pelan. Pintu lift sudah terbuka tapi Bagas hanya terdiam sambil mengulum senyum di wajahnya. Sepertinya sedang melamun.


__ADS_2