Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
28


__ADS_3

"Halo, perawatan apa yang ingin kau lakukan di salon ini?" tanya Pandu yang saat itu sudah berada di hadapan Intan.


"Aku ingin mewarnai semua kukuku, baik itu di tangan maupun kaki, apa di sini ada banyak warna kuku?" Intan melempar senyum penuh menggoda ketika berbicara pada Pandu.


"Tentu saja ada Nona, di sini adalah tempat di wanita di ratu kan, jadi apapun yang kau butuhkan tentu saja ada." jawab Pandu melempar senyum.


Pandu pun meninggalkan senyuman yang begitu sangat manis, hingga membuat Intan sangat tergoda dan begitu sulit berkedip kala bertatapan dengan Pandu. Bahkan permintaan Intan yang begitu berlebihan itu dapat protesan dari teman-temannya yang datang bersama.


"Intan, kau terlalu berlebihan, apa kau tidak merasa tidak enak hati telah meminta pria tampan itu untuk melayani mu? Bagaimana kalau ternyata dia adalah pemilik salon besar ini?" bisik Clara yang berada di samping Intan.


"Tentu saja aku tidak merasakan apa yang kau katakan, aku justru merasa sangat senang karena bisa dengan langsung interaksi pada pria itu, apalagi kalau dia adalah benar-benar pemilik salon ini, bisa jadi keuntungan besar untukku," ucap Intan sedikit berbisik, saat itu Pandu sedang mempersiapkan semua yang diminta oleh Intan.


"Sadar ya, kau itu sudah memiliki Rehan!" timpal Clara.


"Sssst, jangan sebut dia di sini, saat aku keluar bukannya aku adalah seorang wanita yang sedang sendiri." jawab Intan dengan nada tanpa dosa.


Mereka semua menggelengkan kepala pada Intan, bagi mereka Intan adalah wanita yang begitu sangat berani, hingga membuat teman-temannya tidak bisa berkata apa-apa ketika Intan berbicara.


"Pak Pandu bukan lah pemilik salon ini, beliau hanya teman baik dari owner salon ini yang sedang sibuk di belakang," ucap Sari yang memberi tahu kenyataan itu pada Intan dan lainnya, karena pembicaraan antara Intan dan teman-temannya sangat mengganggu telinga.


"Oh ya, jadi dia di sini hanya membantu saja?" tanya Intan setengah terkejut.


"Iya, benar. Tapi yang saya dengar pak Pandu memiliki perusahaan sendiri, sesekali beliau akan datang ke sini jika salon ini sangat sibuk," sahut Sari melempar senyum menang ketika Intan sedikit syok mendengar kejujuran yang ia katakan.


"Oh, pria itu namanya Pandu, nama yang sangat keren." latah Intan yang justru memuji nama Pandu di hadapan Sari.

__ADS_1


Saat itu Sari terdiam, ia nampak kesal ketika Intan justru sibuk memperhatikan dan mengingat nama yang telah ia sebut, rasanya saat itu ia cukup menyesal karena telah menyebut nama Pandu.


Beberapa saat kemudian, Pandu pun tiba dengan membawa segala alat yang ia perlukan untuk mempercantik kuku Intan, Intan pun dengan manja menyerahkan kedua tangannya pada Pandu yang sedikit terkejut menerima sikap Intan yang begitu sangat agresif.


"Emm, maaf... Bisa satu-satu saja memberikan tanganmu padaku," ucap Pandu masih mempertahankan senyumannya.


"Tentu saja, aku akan memberikannya satu dulu." jawab Intan dengan nada manja.


Pandu kembali membalasnya dengan senyuman, lalu ia mulai melakukan pekerjaannya dan Intan pun semakin dalam memperhatikan Pandu. Yang lain pun nampak menikmati perawatan yang mereka pilih, dan mereka terlihat begitu nyaman berada di salon yang super dingin itu.


"Boleh ku tahu siapa namamu?" bisik Intan pada Pandu, padahal beberapa saat yang lalu ia sudah mengetahui siapa namanya.


"Namaku Pandu," ucap pria tampan yang mulai risih dengan tatapan mata Intan itu.


"Keren sekali namamu, apa kau yang punya salon ini?" tanya Intan lagi, sesuatu yang sudah ia ketahui.


"Memangnya apa yang dia lakukan di belakang?" rupanya Intan tak berhenti bertanya.


"Temanku adalah owner dari salon kecantikan ini, skincare yang dipajang di salon ini dialah pemiliknya, termasuk semua produk yang kami gunakan untuk perawatan nona dan teman-teman Nona." jelas Pandu dengan tegas.


Intan cukup terpukau mendengar penjelasan dari Pandu, ia tidak menyangka jika ia dapat mengetahui semua hal yang ada di dalam salon itu dari cerita Pandu, ia semakin penasaran siapa pemilik salon tersebut yang begitu istimewa lewat cerita dari seorang Pandu.


"Istimewa sekali ya, pasti pemilik salon ini wanita yang berpendidikan tinggi," puji Intan dengan senyuman lebarnya.


"Tidak, tidak begitu tinggi. Dia wanita sederhana, dia adalah wanita yang pernah memilih jalan yang salah," senyum Pandu menatap Intan.

__ADS_1


"Jalan yang salah, maksudnya?" Intan semakin penasaran.


"Ya, dengan cara meninggalkan pendidikannya hanya untuk menikahi seorang pria yang ia cintai, tapi ternyata suaminya justru selingkuh dengan wanita lain, hingga akhirnya dia memutuskan untuk meminta perpisahan, lalu aku dan salah satu teman lainnya bersepakat untuk mengajaknya membangun bisnis ini, sampai akhirnya namanya cukup terkenal seperti sekarang ini." jelas Pandu dengan tatapan berbinar, menceritakan tentang Dinda pada wanita yang ada di hadapannya.


Intan pun menanggapi, membela dan memuji wanita yang diceritakan oleh Pandu, ia tidak tahu bahwa wanita yang ia dengar ceritanya itu adalah Dinda, wanita yang rumah tangga nya telah ia rusak dengan kehadirannya.


15 menit kemudian


"Sudah selesai Nona, semua kuku mu sudah terlihat jauh lebih cantik," ucap Pandu melempar senyum.


"Wah, kau benar sekali, aku sangat puas dan senang, pekerjaan mu sangat rapi," puji Intan menatap kuku nya dengan takjub.


"Aku cukup lama belajar dari pemilik salon ini, tentang bagaimana caranya membuat para pelanggan puas dengan pekerjaan kita, syukur lah kalau kau merasa puas, karena kau adalah pelanggan pertama yang meminta aku yang melakukan pekerjaan rumit ini," senyum Pandu melebar, menyikapi pekerjaan yang baginya memang cukup sulit.


"Hahaha, tapi kau sangat pintar, kau menangkap ilmu yang diberikan oleh teman mu itu." jawab Intan kembali memuji.


Pandu melempar senyum, sejak tadi ia memang selalu menyelipkan nama Dinda dalam setiap obrolannya, bagaimana tidak, karena hatinya saat ini memang sedang menggebu dalam memikirkan Dinda, dan berharap bahwa kelak ia bisa bersanding dengan Dinda sebagai pasangannya.


Teman-teman Intan yang juga merasa cukup puas dengan semua pelayanan di salon itu pun ikut memuji para pekerja, dan mereka membalas dengan senyuman, Pandu mempersilahkan mereka untuk pergi ke bagian administrasi, dan mereka pun bersama-sama pergi untuk melakukan pembayaran.


Setelah semua selesai, mereka pun akhirnya pergi dari salon tersebut. Pandu tak lupa meminta mereka untuk kembali datang dan menjadi pelanggan tetap Dinda Salon, dan meminta mereka untuk mempromosikan salon tersebut pada yang lainnya.


Intan dengan senyuman meninggalkan Pandu dan menanggapi ucapannya, ia tentu saja akan datang seorang diri lain waktu, karena niatnya sudah lain, ia begitu tertarik pada Pandu hingga membuatnya benar-benar melupakan Rehan pada saat itu.


"Intan, bagaimana rasanya mendapatkan perawatan dan yang melakukan perawatannya seorang pria tampan?" tanya salah satu dari mereka yang menggoda Intan.

__ADS_1


"Sensasi nya luar biasa, tidak hanya tatapan matanya yang masih ku ingat sampai saat ini, tapi juga ketika dia melakukan perawatan di jemariku. Kalian tahu tidak? Bagaimana jika sampai aku yang menjadi istrinya, aku akan melakukan perawatan setiap hari tanpa perlu membayar," rancau Intan yang sudah berpikir terlalu jauh.


__ADS_2