Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
43


__ADS_3

"Taraaaa...."


Pandu melempar senyum ketika sudah membuka kain penutup Dinda. Dinda pun tersenyum ketika melihat suasana tempatnya berada saat ini.


"Mas, kamu menyiapkan semua ini untuk ku?" tanya Dinda menatap wajah Pandu.


"Ya, tapi bukan hanya aku, ini semua ide dari Wulan," ucap Pandu yang tidak mau menghilangkan kerja keras sahabatnya itu.


"Ya ampun, memangnya ada acara apa, kenapa kalian mempersiapkan semua ini untukku," Dinda tersenyum sambil melihat-lihat suasana yang baru pertama kali ia rasakan itu selama ini.


"Karena malam ini aku ingin melamar mu Dinda, aku ingin kamu menjadi istriku." jawab Pandu dengan lantang dan berani.


Seketika Dinda terdiam ketika mendengar ungkapan perasaan dari Pandu, ia tidak menyangka jika Pandu akan secepat itu menyatakan keinginan nya untuk menjadikan dirinya istri, saat itu Dinda menatap wajah Pandu, dan begitu pun sebaliknya.


Wajah Dinda memerah karena menahan malu, dan Pandu pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mengulangi perasaan nya, Pandu meraih kedua tangan Dinda dan ia mengajak Dinda untuk duduk.


"Dinda, aku harap kamu tidak akan menolaknya," ucap Pandu penuh harap.


"Mas, apa kamu sudah memikirkan hal ini matang-matang? Mas, aku ulangi lagi, aku adalah seorang janda yang memiliki satu orang anak dari pria lain, apa kamu sudah memikirkan semua ini?" tanya Dinda ragu, ia begitu takut untuk melangkah ke jenjang serius karena ia tidak mau jika sampai melukai perasaan Pandu nantinya.


"Ssssttt... Dinda, aku sama sekali tidak mempermasalahkan statusmu atau putramu, bahkan kamu bisa melihatnya sendiri kan, betapa dekatnya aku sekarang dengan Arka, jadi untuk menjadikannya sebagai putra ku juga itu bukan lah masalah bagiku." jawab Pandu dengan yakin, karena keputusan nya untuk menikahi Dinda adalah keputusan yang sudah ia pikirkan matang-matang.

__ADS_1


Dinda terharu, ia meneteskan air mata ketika Pandu mengungkap isi hatinya yang begitu tulus mencintai dirinya, ia tidak percaya jika ternyata ia masih diberikan kesempatan untuk mendapatkan pria yang tulus seperti Pandu.


"Dinda, berikan aku jawaban yang bisa membuat hati ku ini bahagia, aku ingin sekali mendapatkan jawaban yang sesuai dengan harapan ku," ucap Pandu yang sudah tidak sabar itu.


"Jika kamu saja tidak memiliki alasan untuk mencintai aku, tanpa melihat statusku, aku juga tidak ada alasan lain untuk menolak mu Mas, aku sangat senang mendengar ungkapan cintamu, jadi aku tidak ada alasan untuk menolaknya," seru Dinda tersenyum dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Itu artinya kamu menerima ku?" Pandu menatap penuh tanya.


Dengan pasti Dinda menganggukkan kepalanya di hadapan Pandu, melihat reaksi Dinda yang sudah memberikan jawaban, membuat Pandu begitu sangat bahagia. Tidak lupa Wulan yang sejak tadi bersembunyi itu mengabadikan momen indah kedua sahabatnya di sosial media, dan ia juga berniat untuk mengirimkan vidio tersebut pada Intan, agar Intan tahu bahwa Dinda dan Pandu sudah resmi lamaran malam ini.


Pandu memakaikan cincin yang sudah ia siapkan di jari manis Dinda, dan begitu pula Dinda, Dinda memakaikan cincin itu di jari manis Pandu. Tidak ada saksi khusus yang melihat ikatan cinta mereka, namun bagi Pandu semua itu tidak lah penting, karena yang terpenting baginya saat ini adalah dirinya yang telah resmi melamar Dinda.


"Dinda, kamu tidak keberatan kan, kalau minggu-munggu ini, aku akan menikahi mu?" tanya Pandu meminta izin.


"Ya, akan secepat ini, bukannya sepasang kekasih setelah lamaran mereka pasti akan menikah, kan? Jadi untuk apa di per-lama," seru Pandu melempar senyum.


"Kalau itu yang sudah menjadi keputusan kamu, tentu saja aku tidak bisa menolaknya Mas, kapan pun kamu akan menggelar pernikahan, aku akan siap." jawab Dinda melempar senyum.


Pandu ikut tersenyum ketika mendengar jawaban Dinda, ia tidak menyangka jika akan semulus ini perjalanan cintanya pada Dinda, Dinda pun begitu takut jika sampai jawabannya itu tidak memuaskan bagi Pandu. Namun saat melihat wajah Pandu yang begitu sangat bahagia, membuat Dinda yakin, bahwa jawabannya saat itu sudah tepat.


Suasana malam semakin terasa dingin, saat itu Pandu tidak ingin terlalu larut membawa Dinda pergi, ia takut jika nanti Dinda akan tidak nyaman karena sikapnya yang membawa Dinda pergi terlalu malam, Pandu pun akhirnya mengajak Dinda pulang, dan Dinda sendiri sama sekali tidak menolaknya.

__ADS_1


Sampai tiba di depan rumah, Pandu membukakan pintu mobil dan mempersilahkannya masuk, dengan senyuman Dinda pamit lalu masuk ke rumah, Pandu melambaikan tangan nya menyambut kepergian Dinda, lalu setelah itu ia pun melangkah kembali ke dalam mobil.


Betapa bahagianya saat itu hati Pandu hingga ia melupakan sesuatu. Ya, Pandu melupakan bahwa malam ini ia harus menjemput Wulan yang sebelumnya pergi bersamanya, dan saat ia ingat, Pandu memutar arah balik ke tempat di mana ia mengajak Dinda bertemu.


Saat itu Pandu mulai mencari Wulan, lalu tak lama kemudian ia menemukan Wulan sudah tertidur di sebuah kursi besi, Pandu menghampiri dengan rasa penuh bersalah.


"Wulan, Wulan bangun!" suara Pandu terdengar sangat jelas, saat itu sayup-sayup Wulan membuka kedua matanya.


"Pandu, akhirnya kamu ke sini, kenapa tega sekali kamu Pandu, meninggalkan aku sendiri seperti ini dan tidur di tempat ini," protes Wulan yang saat itu menatap Pandu kesal.


"Maafkan aku Wulan, aku terlalu bahagia saat Dinda menerima lamaran ku, sampai aku melupakan kamu yang sudah membantuku menyempurnakan semua ini, sebagai gantinya, aku akan mengantarkan kamu pulang, ayo." ajak Pandu yang langsung membawa Wulan pergi menuju mobilnya.


Setibanya di rumah, Wulan meminta Pandu untuk pulang dan istirahat, karena ia akan segera melakukan itu ketika sudah membuka pintu utama, namun Pandu ingin memastikan bahwa Wulan masuk terlebih dahulu ke rumah, setelah itu barulah Pandu akan pergi meninggalkan Wulan.


"Ayo masuklah dulu, dan kunci pintunya," ucap Pandu pada sahabatnya itu.


"Ya susah kamu saja dulu yang pergi Pandu, pergilah dulu, dan aku akan masuk," seru Wulan yang tidak mau mengalah.


"Wulan, ayolah, jangan bandel!" omel Pandu dengan nada serius.


"Kau yang bandel Pandu, tapi ya sudah lah, karena kamu sedang berbahagia malam ini, jadi aku tidak akan membuat mu kesal. Aku masuk dulu." jawab Wulan akhirnya mengalah.

__ADS_1


Setelah itu Pandu pun dengan hati lega bisa pergi menuju rumahnya, setibanya di rumah Pandu menghubungi Dinda melalui vidio call, saat itu Dinda masih belum dapat tidur. Entah mengapa ia tidak bisa memejamkan kedua matanya walau hanya sekejap saja, hati dan pikirannya di penuhi dengan wajah Pandu yang telah melamarnya malam ini.


"Ada apa Mas, kenapa kamu menelpon malam-malam?" tanya Dinda sambil berbisik, karena takut jika bi Iyas dan Arka akan mendengarnya.


__ADS_2