
"Dika!!" teriak Sofia dengan suara keras dan lantang saat masuk ke dalam pantry. Sofia mengunci pintu pantry itu danmenguncinya dari dalam.
Dika yang sedang menyapu pun menoleh ke arah Sofia.
"Ada apa?" tanya Dika dengan ketus.
"Kamu lupa? Aku ini masih kekasihmu, Dika!!" teriak Sofia keras sambil berjalan menghampiri Dika.
"Apa? Kekasih? Kekasih yang meninggalkan kekasihnya di saat terpuruk? Gitu? Keasih macam apa, kamu itu? Aku bahkan sudah muak melihat wajah kamu, Sofia," ucap Dika dengan ketus.
"Mudah kamu bilang kita bukan sepasang kekasih lagi?" ucap Sofia yang tidak terima.
"Kmau sendiri bagaimana? Mudah kembali lagi ke pelukan mantanmu itu? Dan kini kmau tergila - gila dengan Bagas karena dia kaya? Betul kan? Jadi apa yang harus aku banggakan dari seorang Sofia?" teriak Dika dengan suara keras.
'Tega kamu, Dika!!" ucap Sofia dengan kesal.
Sofia pun langsung keluar dari pantry itu. Sofia hanya kaget saja, baru saja ia mendapat kabar dari temannya bahwa Dika akan memimpin perusahaan besar di Bandung.
"Kakimu beneran sakit?" tanya Bagas pelan saat melihat Kinan berjalan agak sedikit tak seimbang.
Kinan hanya mengangguk pasrah. Wajahnya meminta menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Masih bisa presentasi? Atau Kamu duduk saja? Biar aku saja yang presentasi?" tanya Bagas pelan.
"Kinan bisa kok Pak. Tapi mungkin Kinan sambil sesekali duduk," ucap Kinan pelan.
"Yakin, Kamu bisa? Kalau memang sakit tidak apa -apa? Kamu duduk saja dan catat semua yang penting," ucap Bagas pelan. Ia tidak tega melihat Kinan yang meringis menahan rasa sakit.
Bagas memutuskan untuk presentasi sendiri. Memang ini tugasnya dan tanggung jawabnya. Awalnya Bagas hanya ingin menguji Kinan sampai di mana kemampuannya. Tapi, Kinan terlalu sempurna untuk di uji. Apalagi setelah Bagas tahu, bahwa Kinan adalah Ajeng, wanita yang akn di lamarnya.
__ADS_1
Selama rapat besar itu berlangsung. Kinan menatap kagum ke arah Bagas. Begitu sempurna Bagas menjadi seorang Direktur. Tidak hanya tampan, gagah, tapi juga pintar dan penuh wibawa. Di balik sikap dingin Bagas, ternyata Bagas sosok yang peduli dan perhatian.
Senyumnya terus terbit mengagumi Bagas. Baru kali ini, Kinan merasa kagum terhadap sosok laki -laki setelah Ayah dan kedua kakak laki - lakinya.
"Mbak Kinan?" panggil Dika pelan saat mengntarkan kopi dan beberapa snack untuk peserta rapat.
Kinan pun langsung terkejut dan menatapke arah Dika yang sudah ada di sebelahnya.
"Eh ... Dika. Letakkan saja di situ," ucap Kinan yang merasa malu dan wajahnya sedikit memerah.
"Lagi melamun ya, Mbak?" ucap Dika sambil memberikan senyum manisnya membuat Kinan merasa malu sendiri.
"Ekhem Gak kok. Lagi fokus memperhatikan?" ucap Kinan setengah berbisik.
"Ya Kinan? Kamu paham dengan apa yang baru saja saya jelaskan? Tolong jelaskan kembali untuk materi produk inovasi baru ini, agar peserta rapat lebih paham<' ucap Bagas ketus dengan tatapan tajam.
Bagas tidak suka Kinan terlalu ramah denga orng lain. APalagi dengan Dika, yang sejak kemarin terlihat sangta akrab dan sok akrab.
"Iya. Baik Pak Direktur. Kinan akan mencoba menjelaskan dengan lebih detail, agar lebih bisa di pahami dengan mudah. Jadi ....." Kinan mulai menjelaskan dengan baik dan lancar. Cara berkomunikasinya pun begitu lugas, dan mudah di pahami. Banyak peserta rapat yang lebih nyaman dengan bahasa Kinan yang ramah dan lembut seolah sedang mendongeng.
Tak terasa satu jam sudah Kinan berdiri dan menahan rasa sakit di kakinya dan tetap fokusmenjelaskan dengan baik tanpa ada cacat sedikit pun.
"Kamu memang sekertaris terbaik yang pernh aku miliki. Terima kasih, Kinan," ucap Bagas pelan saat kembali duduk d dekat Kinan.
Rapat sudah selesai. Kontrak perjanjian kerja akan kembali di kirimkan bagi investor yang mau melanjutkan kerja samanya dan investor baru yang tertarik dengan kinerja perusahaan Bagas.
"Kinan, Saya kehilangan data besar saya. Ada produk dengan desain baru yang akan di luncurkan. Kemarin saya coba di sini. Lalu, flsh disk itu sengaja saya tinggal. Tadi pagi saya lihat tidak ada?" ucap Bagas yang terlihat panik.
Produk baru itu begitu penting untuk Bagas. Itu adalah inovasi yang akan di luncurkan awal bulan depan.
__ADS_1
"Ekhem ... Kinan gak tahu Pak? Tapi, di ruangan ini ada CCTV kan? Kenapa Bapak gak cek CCTV aja?" ucap KInan pelan.
Tadi sore Kinan melihat Dika masuk ruangan ini dan tanpa sengaja Kinan melihat Dika memasukkan sesuatu ke dalam saku celananya. Tapi, apa mungkin Dika melakukan itu. Bukankah, itu tidak penting baginya.
"CCTV? Benar juga kamu, Kinan? Tapi kira - kira siapa?" tanya Bagas yang masih tidak percaya.
"Biar Kinan ke bagian CCTV atau Pak Bagas sendiri yang mau kesana?" tanya Kinan pelan.
"Nanti biar saya telepon karyawan saya di bagian sana. Sekarang rapikan berkas, da kunci ruang rapat ini. Kunci kamu yang bawa, Kinan. Sya tidak mau ada kejadian begini yang terulang. Berarti ada penyusup yang masuk ke perusahaan ini. Tapi siapa?" ucap Bagas dengan wajah yang begitu kesal.
Perlahan Kinan membereskan semua berkas dan merapikan ruang rapat itu lalu mengunci ruangan itu sesuai dengan perintah Bagas.
"Mbak Kinan? Kok sudah di kunci? Saya belum membereskan ruangan ini?" ucap Dika yang tiba - tiba sudah berada di belakang Kinan.
"Oh ini, perintah Pak Direktur, beliau suruh mengunci ruang rapat ini dan beliau juga yang akan emmegang kunci ruangan ini," ucap Kinan pelan.
Pelan Kinan bicara, agar tidak menyinggung. Bisa timbul fitnah bila yang terjadi bukan seperti yang Kinan lihat.
"Oh begitu. Nanti sore jadi, Mbak? Kaki Mbak Kinan gimana? Sudah lebih baik?" tanya Dika pelan.
"Jadi. Kinan harus dapat tempat kos. Kalau tidak, Kinan tidur dimana?" ucap Kinan pelan.
"Biar saya yang bantu kamu cari kos. Kamu sekertaris saya, dan saya harus memastikan kamu berada di tempat yang tepat dan benar," ucp Bagas dari arah belakang membuat kedunaya kaget dan menunduk.
"Pak Direktur. Maaf, tadi niat saya mau membersihkan ruangan ini. Tapi, ternyata ini sudah bukan tugas OB lagi," ucap Dika pelan dan sopan.
"Kamu? Sipa nama kamu?" tanya Bagas ketus ke arah Bagas yang baru saja akan pergi dari tempat itu.
"Saya, Dika, Pak," jawa Dika tegas dengan sedikit ketus.
__ADS_1
"Kita ada masalah sebelumnya?" tanya Bagas dengan wajah merah karena kesal.
Tatapan Dika pun begitu tajam dan tak suka kepada Bagas.