
Sampai di pintu gerbang, Kinan turun dari mobil sambil membawa tentengan paper bag berisi sarapan pagi yang di beli oleh Shella dan tak sempat di makan tadi karena sibuk mencari seragam yang pas dan memoles wajahnya agar terlihat cantik. Maklum hari ini hari pertama Kinan bekerja dan langsung melakukan presentasi untuk rapat di pagi hari.
TOK .. TOK .. TOK ..
Suara sepatu hak tinggi Kinan yang terdengar nyaring di lantai marmer yang sangat sepi.
"Kinan?" panggil Festi dengan suara lantang.
Kinan memberhentikan langkahnya dan menoleh ke arah Festi.
"Ya Mbak?" jawab Festi pelan.
"Jangan lupa rapat pagi ini kamu yang pimpin terlebih dahulu. Pak Bagas, akan terlambat datang, dan kolega sudah datang," ucap Festi pelan menjelaskan.
Kedua mata Kinan pun terbelalak membola. Ia benar - benar kaget. Tidak punya pengalaman memimpin presentasi dan belum tahu apapun tentang perusahaan ini.
"Ki - Kinan? Kinan harus memimpin rapat? Kinan harus bicara apa, Mbak?" tanya Kinan yang mulai panik. Kinan sama sekali belum pernah berdiri di depan podium lalu berbicara menjelaskan tetang pekerjaannya. Ini baru satu hari bekerja, Kinan harus menerima beban yang begitu berat.
"Kamu pasti bisa, Kinan? Masih ada waktu setengah jam untuk belajar," ucap Festi pelan mengingatkan.
Tubuh Kinan langsung lemas. Mana ia belum makan lagi.
"Tapi Mbak? Kinan gak bisa kayaknya," ucap Kinan yang terus mendesah bingung.
__ADS_1
"Sudah kamu pasti bisa, Kinan. Percaya sama drimu sendiri. Sudah sana ke meja kerjamu. Belajar dulu," ucap Festi pelan dan meninggalkan Kinan berdiri sendirian di tengah ruangan besar yang menghubungkan ruangan karyawan menuju ruang direktur.
Festi berjalan ke arah ruangannya. Ia tersenyum puas. Pagi ini, Pak Bagas memang meneleponnya untuk menggantikan sementara rapat di pagi hari. Bagas berpikir, Festi adalah sekertaris Papahnya yang bisa di andalkan. Tentu pengalaman Festi sudah sangat banyak sekali.
'Sesekali membuat junior bingung boleh, kan?' batin Festi dengan senyum licik.
Sejujurnya kedatangan Kinan di kantor ini membuat ruang gerak Festi membeku.
Kinan terduduk di kursinya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapn pagi. Setengah jam lagi, Kinan mendapatkan tugas yang begitu berat. Menggantikan posisi Direktur itu tidak mudah, walupun Kinan sudh membca presentasi yang ia buat sendiri kemarin.
Perlahan Kinan menarik napas dalam. Ini adalah kesempatan baginya untuk membuktikan bahwa ia sanggup dan mumpuni menjabat sebagai sekertaris. Sebagai mahasiswi lulusan kumlaud, Kinan harus bisa menunjukkan semua kemampuan yang ia miliki, bukan hanya IQ, EQ juga tapi semuanya.
Bekalnya hanya di letakkan sembarang di meja kerjanya tanpa di sentuhnya. Rasa laparnya juga tiba - tiba saja hilang entah kemana mengalahkan rasa gugupnya mau memimpin rapat dengan kolega orang asing. Untung saja, kemmapuan berbahasa asing Kinan, cukup baik.
Tepat pukul delapan pagi, Kinan sudah membawa semua berkas yang di ambil dari meja Pak Bagas, direkturnya. Kinan dengan cepat mempelajari semuanya dengan baik.
Dengan penuh keyakinan dan percaya diri Kinan berjalan memasuki ruang rapat. Kinan langsung membuka laptopnya dan menyalakan proyektor. Membuka beberapa berkas pendukung. paling tidak kemarin sempat berbincang sedikit dnegan Pak Direktur tentang rapat pagi ini. Poin - poinya Kinan selalu mengingat dan tinggal menjabarkan, lalu bagaimana agar koleganya ini kembali berminat dan melanjutkan bekerja sama dengan perusahaan sebesar ini.
"Selamat pagi," ucap Kinan menyapa semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut dengan suara lantang.
Semua orang yang tadinya berbicara sendiri pun langsung terdiam dan menoleh ke arah Kinan yang sedang menjadi pusat perhaian.
"Maaf sebelumnya. Perkenalkan nama saya, Kinanti Rahajeng, cukup panggil saja Kinan. Pagi ini, saya mendapatkan amanah dari Pak Bagas, direktur saya sendiri untuk menyampaikan beberapa hal penting yang bisa di jadikan tolok ukur, kenapa harus bekerja sama dengan perusahaan kami. Satu per satu akan saya jelaskan dalam slide,' ucap Kinan denga suata tegas dan lantang.
__ADS_1
Senyum Kinan selalu terbit dan terlihat ramah hingga semua orang yang mengikuti rapat tersebut pun ikut hanyut dalam pesona Kinan. Tidak hanya cantik, manis dan ayu serta memiliki senyum yang indah. Tapi, Kinan juga menguasai semua materi presentasi dengan baik dan bisa menjelaskan menggunakan bahassa yang bisa di mengerti. Tidak hanya itu saja, Kinan mampu menjawab semua keingin tahuan kolega tentang apapun yang berhubungan dengan perusahaan dengan nda yang baik dan sopan serta bisa membawa pengaruh positif untuk membawa koleganya kembali bekerja sama dengan perusahaan tersebut.
"Sudah jelas semua? Atau mungkin ada yang mau di tanyakan? Sesi kali ini saya tutup dulu. Kita bisa rehat sebentar dan setengah jam lagi kita lanjutkan, untuk inovasinya," ucap Kinan menjelaskan dengan suara mantap dan lantang.
Semua orang yang mengikuti rapat termasuk kolega dan beberapa divisi ikut mengangguk pelan memahami semua yang di jelasan oleh Kinan. Kinan menutup lapotopnya dan mematikan proyektornya. Ia kembali duduk dan menarik napas dalam untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Beberapa orang ada yang keluar untuk berstirahat sebelum sesi keda di lanjutkan. Tidak terasa dua jam Kinan berbicara menjelaskan, dan semua itu mengalir begitu saja dari bibirnya.
Kinan hnaya menyeruput kopinya dan membuka kembali laptopnya untuk mempelajari kembali power poin yang di buatnya kemarin.
"Kinan?" panggil seseoang dari arah belakang yang membuat tubuh Kinan sedikit terperanjat kaget.
Kinan menoelh ke arah asal suara.
"Pak Bagas? Syukurlah Anda datang juga. Kinan benar -benar panik," ucap Kinan sendu.
Jiwanya tadi seolah mati, tapi kini mulai bisa bernapas dengan lega.
"Kamu hebat, Kinan. Semua orang memujimu di depan. Bahkan saya tidak tahu apa yang kamu lakukan. Tapi apresiasi mereka terhadap kamu itu sungguh luar biasa," ucap Bagas pelan yang tersenyum sambil menepuk pelan bahu Kinan untuk memberikan semangat.
"Maksud Bapak apa? Tugas Kinan sudah selsai kan? Sekarang giliran Bapak untuk presentasi tentang inovasi. Kinan tidak paham masalah ini," ucap Kinan yang masih terlihat panik.
"Lanjutkan presentasinya. aku kagum padamu, Kinan," ucap Bagas pelan lalu pergi meninggalkan Kinan dan duduk di antara peserta rapat.
__ADS_1
Presentasi ini menjadi penilaian tersendiri bagi Bagas untuk Kinan, sekertaris barunya.
Hari ini adalah harinya Kinan. Semua memuji kecantikan Kinan dan kepintaran Kinan. Presentasi hari ini benar - benar sukses. Semua kolega melanjutkan kerja samanya hingga membuat Bagas bangga.