
"Bi, sekarang jelaskan padaku, apa yang kau lakukan pada Intan!" tegas Dinda menatap bi Iyas serius.
"Apa Non merasa sangat penasaran dengan apa yang kulakukan pada pelakor itu?" tanya bi Iyas dengan senyuman.
"Apa? Bi, jangan macam-macam atau aku akan menghukum mu," ucap Dinda marah.
"Ups, ampun Non. Tapi tidak, aku tidak akan melakukan sesuatu yang melampaui batas, aku hanya memberikan hukuman pada pelakor itu, dan aku hanya melakukan sebatas mengganti gula dengan garam ke dalam teh milik pelakor itu, hanya itu saja Non," seru bi Iyas menahan tawa.
"Jadi apa yang dikatakan oleh Intan itu benar?" Dinda melotot menatap bi Iyas.
"Iya Non, itu memang benar. Tapi aku cukup pintar, saat dia mengomel tadi, aku menggantinya dengan air teh yang asli, jadi saat tuan Rehan datang tuan memarahi pelakor itu karena menganggap bahwa dia sedang tidak waras." jelas bi Iyas tertawa puas.
Dinda menggelengkan kepalanya, ia tidak menyangka jika ternyata bi Iyas begitu berani melakukan hal tersebut. Dan bi Iyas pun mengakui keberanian nya, karena rasa kesal dan marah saat melihat wajah Intan.
"Oke, kali ini kesalahan mu dimaafkan Bi, tapi jangan kau ulangi lagi atau akan ada bahaya yang mengancam mu, dan aku... Aku tidak akan tanggung jawab atas dirimu," ucap Dinda dengan tegas.
"Hehe, baik lah Non, aku hanya iseng saja, selain ini lucu, aku juga ingin memberikan pelajaran pada wanita itu," sahut bi Iyas menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Iya, tapi ini tidak boleh terjadi lah, ingat ya Bi, aku tidak bertanggung jawab." jawab Dinda yang kala itu memutuskan untuk kembali ke kamar.
Bi Iyas pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, dengan senyuman bahagia ia memulai pekerjaannya dengan semangat. Sementara Dinda sendiri terlihat melempar senyum ketika mengingat kejahilan bi Iyas, meskipun tidak seberapa namun pelajaran yang diberikan bi Iyas pada Intan, akan ia ingat dan akan ia jadikan pelajaran. Ada rasa senang ketika bi Iyas melakukan itu padanya.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, Rehan dan Intan sedang bertengkar, mereka melanjutkan pembahasan yang sebelumnya tertunda, Rehan terus menganggap bahwa dirinya berbohong dan bi Iyas lah yang bersalah. Sementara Intan sendiri justru terus saja menyalakan bi Iyas dan membenarkan dirinya.
"Sudah lah Intan, jangan dilanjutkan lagi, aku tidak mau sampai terjadi hal seperti ini lagi, aku sangat malu Intan, Dinda akan menganggap bahwa kau benar-benar tidak waras," ucap Rehan yang memberikan peringatan pada Intan.
"Mas, kamu itu kenapa si sudah banget percaya sama aku, udah aku bilang kan sama kamu, kalau aku nggak bersalah, dan pembantu kamu itu yang salah," marah Intan pada Rehan.
"Sudah Intan, aku udah nggak mau bahas ini lagi, aku malu Intan, lebih baik sekarang aku akan mengantarkan mu pulang dan aku mau kerja." tegas Rehan yang sudah rusak mood nya karena Intan.
Intan tak bersuara, ia tidak menjawab apapun kala itu, ia pasrah saat Rehan akan mengantarkan dirinya pulang dan membiarkan Rehan pergi setelah itu.
Di ruangannya, Rehan nampak bingung dengan sikap Intan yang baru saja terjadi, dan keanehan di rumahnya. Di sisi lain Intan adalah kekasihnya, dan di sisi lain bi Iyas juga sudah lama ikut bekerja dengannya, hingga membuat kepala Rehan sedikit pusing kala itu.
***
Begitu juga dengan tetangga Intan yang mayoritas adalah ibu rumah tangga, merasa risih ketika Rehan datang ke rumah Intan sampai larut malam. Tak jarang Rehan juga mengindap di rumah Intan layaknya mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri.
Suatu hari saat Dinda dan bi Iyas keluar rumah di sore hari untuk mengajak Arka jalan-jalan, mereka di hentikan oleh beberapa ibu rumah tangga yang sebelumnya sudah duduk di tempat nongkrong mereka. Dan karena Dinda merasa bahwa namanya dipanggil, ia spontan berhenti dan menghampiri mereka.
"Ibu-ibu memanggil saya," sapa Dinda melempar senyum kala itu.
"Benar Dinda, kami memang memanggil mu, karana kami ingin sekali bertanya padamu terkait dengan suamimu yang jarang sekali pulang, kata orang yang sering bertemu dengan Rehan di toko, dia itu suka nggak pulang dan sering di datangi oleh wanita cantik di tokonya, kami juga tak jarang melihat suamimu pergi keluar bersama wanita itu, apa itu istri mudanya, atau selingkuhannya?" tanya salah seorang ibu-ibu yang sangat penasaran dengan rumah tangga Dinda.
__ADS_1
"Iya Dinda, apa kamu selama ini telah diselingkuhin sama suami kamu itu, kenapa belakangan ini kami jarang banget liat kamu itu pergi bareng sama Rehan, bagaimana nasib rumah tangga mu dengan Rehan, Dinda?" seorang lagi, mempertanyakan hal yang sama pada Dinda.
Pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan ketika mereka diberikan kesempatan untuk bertemu langsung dengan Dinda. Wajah Dinda nampak bingung dan memerah, lantaran ia tidak tahu harus menjawab apa, ia tidak menyangka jika ternyata saat ia keluar dari rumah, banyak sekali mata yang ternyata sudah memperhatikan nasib rumah tangganya dengan Rehan.
"Emmm, maaf Ibu-ibu, sepertinya saya dan anak saya harus segera pulang, ini sudah sangat sore, saya juga harus menyiapkan makan malam untuk keluarga kecil saya," pamit Dinda melempar senyum, ia menyembunyikan rapat-rapat kesedihan yang ia rasakan kala itu.
"Eits, kenapa buru-buru sekali Dinda, jarang-jarang lo kita ketemu kayak gini, harusnya kita bisa ngobrol lebih lama lagi," seru salah satu dari mereka.
"Emmm, Ibu-ibu, maaf ya sekali lagi, Non Dinda memang agak sibuk hari ini, mungkin kesempatan lain akan lebih lama lagi ngobrol nya." jelas bi Iyas yang membantu Dinda untuk lepas dari pertanyaan-pertanyaan yang menyakitkan itu.
Dinda dan bi Iyas akhirnya masuk kembali ke rumah, Dinda terlihat syok ketika tiba di rumah, ia terduduk lemas di ruang tamu. Menyadari akan hal itu bi Iyas segera membawakan minuman untuk Dinda, mungkin itu akan sedikit membantu kesesakan yang dirasakan oleh Dinda saat itu.
"Non, minum lah," ucap bi Iyas menyodorkan gelas pada Dinda.
"Terima kasih Bi." singkat Dinda yang langsung meneguk minuman itu sampai habis.
Nafas Dinda berderu kala itu, bi Iyas tidak tega meninggalkan Dinda sendiri karena melihat wajah sedih Dinda yang tidak bisa disembunyikan lagi.
"Aku tidak menyangka Bi, kalau semua orang sudah melihat keburukan mas Rehan, mereka sudah menganggap bahwa rumah tangga ku saat ini sedang berada di ujung tanduk, aku sangat sedih Bi," ucap Dinda yang tak bisa menahan kesedihannya.
"Tenang Non, jangan panik seperti ini. Rumah tangga Non dan tuan Rehan memang sudah berada di ujung tanduk, sudah tidak baik-baik saja saat tuan Rehan memutuskan untuk berselingkuh. Untuk itu jangan terlalu sedih memikirkan hal ini Non, cinta tuan Rehan sudah terbagi dengan wanita lain, Non harus siap melepaskan cinta itu karena memang sudah bukan menjadi milik Non lagi," seru bi Iyas yang berusaha menyadarkan Dinda.
__ADS_1
"Apa tidak ada lagi harapan Bi, untuk keutuhan rumah tangga ku bersama mas Rehan?"
Dinda menatap Intan dengan penuh harap, menyeka air matanya yang membasahi pipinya.