Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.29


__ADS_3

Sesuai janji Bagas kepada Kinan, untuk membantu mencarikan kos untuk sekertaris sekaligus gadis kesayangannya itu.


Kinan hanya diam dan membisu setelah kejadian tadi siang yang sempat memanas antara Bagas dan Dika.


"Diam saja dari tadi? Sakit gigi?" tanya Bagas yang berusaha mencairkan suasahan hening.


Keduanya sudah berada di dalam mobil mewah milik Bagas. Awalnya Kinan tidak mau, dan bersikeras ingin mencari kost sendiri. Tapi, Bagas tidak mengijinkan dan kalau tidak mau menuruti perintahnya dan tidak mau menurutinya mulai besok Kinan terancam di berhentikan secara tidak hormat.


"Gak apa - apa, Pak. Kinan cari kost nya yang dekat kantor biar bisa jalan kaki. Jangan terlalu jauh, Pak?" pinta Kinan saat mobil mewah Bagas mulai melaju dan keluar dari pintu gerbang perusahaannya.


"Tinggal di apartemen saja. Ada teman yang menyewakan apartemen dekat sini. Naik ojek bisa, atau taksi online sekitar sepuluh menit aja. Kalau jalan kaki mungkin setengah jam," ucap Bagas pelan.


"Sudah Pak. Cari yang biasa saja, di belakang kantor. Kinan tidak mau terlalu jauh. Kinan harus dapat sore ini juga. Bunda dan Ayah pasti nanti telepon untuk menanyakan hal ini," ucap Kinan pelan.


"Iya. Oke, di belakang kantor ya?" ucap Bagas pelan.


Bagas pun membelokkan setir mobilnya untuk masuk ke dalam gapura bertuliskan perumahan real estate. Biasanya ada beberapa rumah yang sengaja di kontrakan atu rumah yang di sewakan per kamar. Mobil Bagas pun melewati satu gang demi satu gang untuk mencari rumah yang di kontrakan atau di sewakan.


"Pak ... Ini terlalu mewah. Cari yang biasa saja. Jangan model perumahan begini," ucap Kinan pelan sambil mengedarkan pandangannya melali kaca depan mobil.


"Tadi kan kamu yang mau dekat kantor. Ini satu - satunya yang paling dekat kantor. Lihat sekeliling kantor, itu semua gedung bertingkat. Makanya tadi saya menawarkan apartemen milik teman saya," ucap Bagas pelan tanpa menyentak. Tapi sedikit gemas dengan Kinan yang terlalu polos dan jujur itu.


Kinan semakin bimbang. Niatnya mencari yang dekat biar tidak repot. Tapi, kenapa malah dapat yang sedikit jauh dan harus memakai jasa kendaraan umum.


"Ya sudah. Kinan lihat dulu, seperti apa apartemennya. Kalau gak nyaman, Kinan gak mau ya," ucap Kinan pelan.


"Di jamin suka," jawab Bagas mantap.

__ADS_1


Bagas pun memutar balik laju mobilnya dan keluar dari gapura perumahan menuju jalan raya ke arah apartemen itu berada. Tidak jauh tempatnya, tapi kalau harus berjalan kaki, lumayan juga bikin betis agak bengkak dan cepat membesar.


"Itu yang gedungnya tinggi berwarna hijau. Itu apartemen milik teman. Fasilitasnya lengkap dan harganya murah. Saya akan membayar apartemen ini sebagai pengganti biaya kos kamu," ucap Bagas pelan.


"Oh ... Tidak perlu Pak. Kinan bisa membayar sendiri. Kinan punya uang,' ucap Kinan dengan cepat.


Kinan tidak mau memiliki hutang budi kepada siapa pun. Kecuali memang ia pantas dibayar karena bekerja.


"Tidak apa - apa. Anggap saja ini semua hadiah dari saya, karena dua kali presentasi hasilnya sukses dan memuaskan. Banyak investor yang ikut menanamkan sahamnya di perusahaan saat ini," ucap Bagas meyakinkan Kinan.


"Sudah Pak. Kinan hanya pekerja, karyawan dan bawahan Bapak. Jangan di bedakan dengan yang lain. Kalau pun Kinan punya prestasi dan penilaian yang baik, beri Kinan reward yang semstinya sesuai dengan aturan dari perusahaan," ucap Kinan tegas.


Mendengar ucapan Kinan yang terus bersikeras. Bagas pun tak melanjutkan permintaannya yang bisa menyebabkan perdebatan lebih panjang lagi.


"Ekhem ... Kamu sudah punya pacar? Dari mana asal kamu? Saya lupa," tanya Bagas dengan suara pelan sambil masih fokus menyetir mobil.


"Pacar?" tanya Bagas penasaran.


"Penting? Harus bertanya hal itu?" tanya Kinan kembali tanpa menoleh ke arah Bagas. Perlahan Kinan memijat kakinya yang masih terasa sakit.


"Penting dong. Karena kalau kamu sudah punya pacar, saya kan gak bisa deketin kamu?" ucap Bagas polos.


Kinan langsung merubah duduknya dan tubuhnya di miringkan hingga menghadap tepat ke arah Bagas. Kedua matanya membola dengan bingung.


"Apa? Kinan baru saja denger hal yang aneh? Coba ulangi Pak?" tanya Kinan sambil mengernyitkan dahinya.


"Saya mau mendekati kamu, Kinan. Saya kagum sama kamu," ucap Bagas pelan dengan ekspresi wajah yang datar dan biasa saja.

__ADS_1


Mendengar ucapa Bagas yang menurut Kinan bercanda pun membuat Kinan malah terkekeh pelan. Mulutnya di tutupi dengan telapak tangannya dan berpura - pura tkejut lalu terkekeh kembali.


"Pak Direktur yang tampan, kalau lagi ngajak Kinan bercanda jangan kebangetan begini. Ini benar - benar membuat Kinan tertawa. Kinan benar - benar terhibur sekali," ucap Kinan pelan yang masih terkekeh menatap Bagas.


Cit ... Cit ... Suara decitan mobil yang begitu keras pun membuat Kinan hampir saja, menubruk dashboard yang ada di depannya.


"Argh .... Pelan - pelan dong, Pak?" ucap Kinan dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang karena kaget.


Bagas tak mempedulikan ucapan Kinan. Duduknya di miringkan dan menatap Kinan dari arah samping.


"Saya serius Kinan. Dalam hidup saya, tidak aa kata bercanda. Waktu saya habis untuk belajar dan bekerja," ucap Bagas tegas menatap lekat dan tajam pada kedua bola mata Kinan yang bulat dengan pupil mata yang begitu hitam lekat.


Kinan pun hanya bisa terdiam. Ucapan Bagas terlihat serius dan tidak main -main. Kinan salah menilai Bagas.


Melihat Kinan yang tidak bisa berkata -kata dan tetap diam selama beberapa menit. Bagas pun tersenyum.


"Surprise ... Prank dong ahh ..." ucap Bagas dengan suara tawa menggelegar. Lalu Bagas melanjutkan kembali laju mobilnya menuju apartemen.


Raut wajah Bagas tetap terlihat tenang dan santai. Begitu juga dengan Kinan yang sempat kaget dan panik. Untung saja pernyataan terakhir Bagas membuat hai Kinaa tenang. Ternyata semuanya hanya sebuha Prank. Kinan sempat bingung harus menjawab apa.


Kinan memperbaiki duduknya dan tetap fokus menatap ke arah depan. Degup jantungnya masih terasa berkejar - kejaran akibat terpompa dengan sangat cepat karena panik.


"Sudah sampai. Yuk, turun," titah Bagas dengan suara yang masih lembut. Tapi sikapnya sedikit berbeda. Pernytaan tadi sebenarnya benar adanya. Tapi melihat Kinan yang terlihat syok, Bagas berpura - pura jika semuanya hanya candaan saja.


Kinan hanya mengangguk kecil llau membuka pintu mobil di samping kirinya. Kakinya masih bergetar saat menapak di atas jalan. Kedua kakinya terasa lemas. Lemas karena belum kuat akibat terkilir di tambah lagi sisa - sisa syoknya yang belum sempat hilang dari ketenangan hatinya.


"Bisa jalan? Biar saya bawakan koper kamu. Saya jamin, kamu akan nyaman berada di sini," ucap Bagas pelan.

__ADS_1


Kinan hanya mengangguk kecil kembali mengiyakan ucapan Bagas.


__ADS_2