
"Di makan Pak?" ucap Kinan yang terlihat berbeda saat di kantor. Kinan lebih terlihat mandiri dan semakin cantik.
Bagas yang masih terpana melihat Kinan pun cukup kaget mendengar suara Kinan yang terdengar sedikit menyentak menyuruhnya segera makan.
"I - Iya, Saya makan. Terima kasih ya, Kinan," jawab Bagas pelan dan mulai menikmati maanan yang ada di depannya.
Makanan itu cukup mengundang selera makan Bagas yang memang sedang lapar. Satu porsi ayam geprek dengan sambal level dua puluh tertulis dalam nota yang berserakan di meja dan belum sempat Kinan buang. Ditambah jamur crispy, dan tempe mendoa serta mie goreng.
Kinan menatap Bagas lekat.
"Kenapa Pak? Ada yang salah?" tanya Kinan pelan.
"Ekhem gak ada Kinan ... Tidak apa - apa. Cuma, Kamu kok bisa tahu ini makanan favorit saya?" tanya Bagas dengan suara pelan.
"Makanan favorit Bapak? Ini semua? Oppss ... Syukur dong, kalau ini makanan kesukaan Bapak. Itu tandanya, Kinan tidak sia - si membelinya, karena pasti habis. Betul kan?" tanya Kinan sambil menikmati ayam geprek pedas itu.
"Iya kesukaan ... Tapi ...." ucapana Bagas terhenti sambil menelan air lirnya. Bagas tak membayangkan bagaimana rasanya ayam geprek dan sambal level dua puluh tentu pedasnya tak karuan di lidah.
"Tapi apa?" tanya Kinan yang masih mengunyah makanan di mulutnya dengan tenang. Kinan memang sengaja membelikan makanan pedas untuk Bagas. Sedikit ingin mengerjai Direkturnya itu. Sedangkan miliknya hanya level dua pedasnya.
"Itu ... Anu ... Sambalnya kayak pedes banget," ucap Bagas terbata.
Kinan menatap Bagas yang sudah tak kuasa menahan lapar tapi ia harus menahan untuk tidak makan kaena pedas.
"Coba saja makan dulu Pak. Siapa tahu tidak pedas. Kalau belum di coba kan tidak akan tahu?" ucap Kinan dnegan cueknya.
__ADS_1
Bagas hanya mengangguk kecil Baru kali ini Sang Direktur yang berkuasa harus menurut kepada sekertarisnya. Untung calon tunangan, jadi gak perlu keki. Eh ... tapi kan, Kinan tidak tahu, kalau saya itu jodoh dunia akhiratnya.
Untuk menghilangkan rasa takutnya terhadap makanan yang ada di depannya. Bagas mencoba menegak kopi lattenya yang terasa mantap di lidah. Rasa manis dan gurih dari krimnya begitu pas dan tidak menimbulkan rasa eneg.
"Enak Pak?" tanya Kinan pelan.
"Enak ... Enak banget malah. Kamu memang pintar kalau buat kopi. Dulu pernah kerja di kopi?" tanya Bagas dengan pertanyaan asal.
"Kerja di Kopi? Maksudnya? Kerja di Cafe kopi?" tanya Kinan memeperjelas pertanyaan Bagas.
"Nah itu maksud saya? Kalau belum pernah kerja di sana pasti buatnya juga gak akan seenak ini. Rasanya sama persis dengan yang di kafe. racikannya pas," ucap Bagas memuji.
"Bakat Pak. Boleh dong Kinan bangga. Itu bakat Kinan, kan Kinan multi talenta. Seharusnya Bapak bangga punya sekertaris seperti Kinan. Bayar gajinya cuma satu, tapi banyak hal yang Bapak dapatkan. Betul gak?" ucap Kinan sambil terkekeh bangga.
"Enak kan Pak? Gak pedas kan?" ucap Kinan pelan.
Bagas hanya mengangguk kecil. Ia sendiri juga bingung, ayam geprek ini sambalnya level dua puluh, tapi kenapa tidak pedas sama sekali. Bahkan lebih pedas yang level sepuluh dulu sempat beli makanan yang sama.
"Enak. Tapi ... Ini beneran sambal level dua pulu? Kok gak pedes ya?" tanya Bagas yang terus menikmati aya geprek itu hingga habis lebih cepat di bandingkan Kinan.
"Itu level dua Pak. Tadi, Kinan yang nambahin enolnya. Niatnya mau negrjain Bapak," tawa Kinan langsung pecah. Sempat saja, Kinan menganggu rasa lapar Bagas akibat meilhat samabal level dua puluh itu. Bagas sudah tak mau menyentuh amakann itu, ia takut perutnya harus bermasalah karena kepedasan.
"Oh gitu. Mau ngerjain saya? Hemm?" jahat ya? Gak tah, tadi saya lapar sekali, dan sempat gak mau makan?" ucap Bagas pelan sedikit kecewa.
Kinan hanya menunduk sambil menahan tawa, tapi tak kuasa. Kinan meras bersalah melihat Bagas yang terlihat kecewa dan kesal namun tak di nampakkan.
__ADS_1
"Maaf ya,Pak?" ucap Kinan dengan suara yang halus. Kinan benar - benar merasa bersalah.
"Iya ... Di maafkan, Kinan. Lain kali jangan kerjain saya seperti ini? Tadi mood saya bagus ingin makan. Tapi?" ucapan Bagas sengaja di hentikan agar Kinan merasa bersalah dan lebih merasa bersalah lagi.
"Mood Bapak langsung berubah ya? Maaf ya Pak? Tapi, makanan Bapak habis kok? Berarti masih doyan makan," ucap Kinan kemudian.
Niat Bagas ingin ngerjain Kinan balik. tapi, malah di skak mat seperti ini.
"Iya ini tandanya saya benar - benar lapar," ucap Bagas kesal. Bagas langsung mencomot jamur krispy yang ada di depannya dan di makan satu per satu hingga habis setengah wadah.
"Enak Pak?" tanya Kinan yang ingin tertawa melihat kelakuan Bagas.
'"Gak enak," ucap Bagas ketus yang masih saja terus makan walau berucap tidak enak.
"Gak enak kok habis ...." ucap Kinan asal sambil membuang tulang -tulang itu ke dalam palstik sampah. Kinan langsung menarik piring kotor yang ada di depan Bagas dan membawanya ke tempat cucian piring.
Tubuh Kinan yang mungil dan terlihat mempesona walaupun hanya bisa di pandang dari belakang. Bagas menatapnya sampai etrkagum - kagum.
Kedua matanya tak bisa lepas dari tubuh indah Kinan dan pikirannya langsung menerawang jauh. Bagas berandai - andai ia sudah berkeluarga dengan Kinan. Setiap hari pemandangan seperti ini tentu akan sering ia lihat. Menatap Kinansedng sibuk berada di dapur untuk memasak dan menyiapkan makanan untuk dirinya. Belum lagi kalau Kinan sedang hamil besar, pasti tubuh mungil itu akan membuncit dan terlihat seksi dan ...
"Pak Direktur!!!" teriak Kinan dengan suara keras tepat di telinga Bagas.
"Argh ... Ada apa Kinan?" tanya Bagas yang begitu kaget dan menatap Kinan yang sudah ada berdiri tepat di sebelahnya. Wajahnya dan wajah Kinan bertemu dan sangat dekat sekali.
KInan mengerjapkan kedua matanya. Menyadarkan dirinya bahwa keduanya atidak sedang melakukan hal hal yang tidak baik. Jantung Kinan terus berdegup dengan kencang. Ia juga menelan air ludahnya dengan dalam. Aroma wangi dari pakaian Bagas begitu terasa dan sangat kahas. Belum lagi hembusan hangat napas yang baru saja terasa. Semuanya mengalir begitu saja, membuat dada kinan sedikit sesak dan aliran darah Kinan pun seperti terpacu hingga ke ubun - ubun.
__ADS_1