Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
52


__ADS_3

"Iya Bi, Arka janji tidak akan pergi lagi seperti kemarin, Arka tidak akan membuat mama cemas lagi," seru Arka yang menuruti keinginan bi Iyas.


"Pinter sayang, maaf ya, Bibi agak bawel sekarang, karena Bibi takut kamu pergi lagi dan nggak izin lagi, Bibi takut banget." bi Iyas menunjukkan kecemasannya pada Arka saat itu.


Bi Iyas memeluk dan mencium Arka dengan lembut, lalu mengajaknya bercanda ria. Tawa Arka memenuhi kamar, Dinda dan Pandu yang sejak tadi memperhatikan keadaan Arka ikut tersenyum karena melihat bi Iyas yang begitu pintar membuat Arka tertawa. Dinda merasa sangat bahagia ketika melihat Arka tertawa lagi di kamarnya, setelah beberapa hari kamar itu terasa sangat sepi dan tidak ada kabar dari putranya.


"Dinda, apa tidak lebih baik kita biarkan saja Arka dan bi Iyas bahagia di sana," ucap Pandu yang merasa lega saat melihat Arka dan bi Iyas.


"Iya Mas, kamu benar. Kalau begitu ayo kita duduk di ruang tamu saja." jawab Dinda yang melempar senyum mengajak Pandu pergi.


Mereka pun duduk di ruang tamu, hanya berdua saja. Melihat suasana malam yang cukup hening dan hanya gelak tawa dari Arka dan bi Iyas lah yang terdengar sangat jelas.


Saat itu Pandu merasa sangat canggung, lantaran setelah menikah baru kali ini ia bisa duduk berdua bersama dengan Dinda dengan tenang, tanpa mencemaskan keadaan Arka.


Sementara Dinda sendiri juga merasa canggung. Malam ini adalah ke tiga harinya ia menjadi istri dari Pandu, namun baru malam ini Dinda merasa sangat canggung ketika duduk berdua dengan Pandu. Mereka saling bertatapan, namun saat menyadari mereka mulai mengalihkan pandangan mereka masing-masing.


"Emmm, Mas... Kamu udah ngantuk belum?" tanya Dinda, kikuk.


"Belum si, kenapa," Pandu membalas tatapan Dinda.


"Aku sedikit ngantuk Mas, aku masuk ke kamar dulu, ya." pamit Dinda yang langsung bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


Pandu pun tidak bisa menolak, dan memintanya untuk tetap duduk menemaninya, Pandu bingung saat itu haris menyusul Dinda atau justru tetap duduk di sana.


Sementara Dinda sendiri saat itu berusaha untuk mencari ide, apa yang harus ia lakukan untuk malam ini bersama dengan Pandu, ia tidak ingin jika Pandu akan merasa kecewa karena sebagai istri ia tidak peka terhadap perasaan suaminya.


Ceklek! Dinda terkejut ketika menyadari pintu kamar terbuka. Rupanya Pandu ikut menyusul masuk dan ia tersenyum menatap wajah Pandu.


Pandu sendiri memilih masuk setelah berpikir beberapa kali, dan ia tersenyum menghampiri Dinda, mereka pun saling menatap satu sama lain kala itu.


"Maafkan aku Dinda, apa kamu terkejut melihat kedatangan ku? Atau kamu justru merasa risih dan belum siap kalau aku tidur satu kamar dengan mu?" tanya Pandu salah tingkah.


"Oh, enggak Mas, aku sama sekali tidak merasa terganggu. Duduk lah Mas, kamu bisa tidur di sini juga, karena ini adalah kamar mu juga," ucap Dinda melempar senyum, ia duduk di atas ranjang mengajak Pandu.


"I-iya, baik lah, jika kamu tidak keberatan, aku akan tidur di sini." jawab Pandu yang akhirnya duduk bersama dengan Dinda.


"Mas, aku mandi dulu ya, panas banget," ucap Dinda yang tidak bisa menutupi rasa canggungnya, hingga ia memutuskan untuk mandi.


"Baiklah Dinda." jawab Pandu membiarkan Dinda pergi.


Beberapa menit kemudian, Dinda pun keluar kembali dengan perasaan yang sudah jauh lebih baik, malam itu bukan lah malam pertama bagi seorang Dinda, ia adalah seorang istri sebelumnya dan seorang ibu, tentu saja Dinda memiliki pengalaman tentang melakukan hubungan suami istri, namun hal yang Dinda ragukan adalah, ketika berhadapan dengan Pandu, Pandu adalah seorang perjaka yang belum berpengalaman, tentu saja Dinda merasa takut jika Pandu nantinya akan kecewa.


Melihat Dinda sudah menyelesaikan mandinya, Pandu menghampiri Dinda. Rupanya ia juga berpamitan untuk mandi setelah Dinda keluar, dan Dinda pun tidak menghalanginya.

__ADS_1


"Huh, aku harus bisa menjadikan malam ini sebagai malam yang dinantikan oleh setiap pasangan suami istri, mas Pandu pastinya memimpikan malam pertama yang indah dan tidak bisa ia lupakan ketika bersamaku, aku harus menampilkan yang terbaik." ungkap Dinda yang kala itu mencoba memberanikan diri, dan menunjukkan dirinya bahwa ia siap.


Saat itu Dinda memakai piyama seksi yang ia miliki, ia juga memakai wewangian dan sedikit make up di wajahnya, lalu yang terakhir kalinya Dinda menyisir rambutnya di depan cermin. Wajahnya yang cantik dan anggun itu sudah terlihat sangat sempurna di hadapan cermin. Dan Dinda sudah sangat siap jika Pandu akan mengajak nya melakukan kewajiban tersebut.


Pandu keluar dari kamar mandi, dan ia mendapati Dinda sedang berdiri di depan cermin, ia masih menyisir rambut nya saat itu dengan senyuman terbaik di depan cermin. Ketika menyadari bahwa Pandu sudah datang, Dinda pun menoleh ke arah Pandu dan tersenyum ke arahnya.


Pandu tidak bisa berkata apapun, ia terpaku dalam diam ketika melihat kecantikan Dinda. Perlahan Pandu mendekati Dinda dan berdiri tepat di hadapannya.


"Dinda, kamu cantik sekali malam ini," puji Pandu melempar senyum.


"Terima kasih banyak Mas, aku sangat terharu dengan pujian mu. Mas aku siap jika malam ini kamu menginginkan aku," lirih Dinda yang sudah rela menyerahkan seluruh tubuhnya pada Pandu.


Pandu tersenyum, apa yang ia dengar itu adalah sebuah kebenaran yang Dinda ungkapkan, "Dinda, apa kamu benar-benar serius?" tanya Pandu meyakinkan dirinya.


"Ya Mas, aku serius. Maafkan aku ya Mas, aku tidak menunaikan janjiku setelah ijab qobul, karena kehilangan Arka, malam pertama kita jadi terganggu," seru Dinda yang meminta maaf dengan tulus.


"Jangan cemaskan itu Dinda, ini bukan masalah untuk ku. Kapan pun itu, jika memang itu dari hatimu, aku akan sangat siap." jawab Pandu melempar senyum, ia sama sekali tidak marah pada kejadian yang membuat Dinda sangat kalut itu.


Dinda pun tersenyum membalas senyuman Pandu. Ia merasa senang karena Pandu adalah pria yang tidak egois, bahkan Pandu sangat mengerti keadaan dirinya saat ini dan tidak memaksakan kehendaknya sendiri.


Dengan erat Pandu menggenggam kedua tangan Dinda dan mengecupnya. Dinda terdiam pasrah ketika Pandu melakukan itu padanya. Lalu setelah itu Pandu mengangkat tubuh Dinda dan ia meletakkan Dinda ke atas ranjang dengan penuh mesra.

__ADS_1


Perlahan Pandu membelai pucuk kepala Dinda, ia mengecup kening Dinda lalu berpindah. Perlahan Pandu turun dan sampai di bibir Dinda, ciuman yang berubah menjadi sebuah sentuhan yang menggairahkan pun dirasakan oleh Dinda saat itu. Dinda menerima dengan baik dan ikut membalas sentuhan Pandu yang perlahan mulai membuat dirinya tidak berdaya.


Tidak ingin membuat Pandu menderita karena harus berjuang sendiri, akhirnya Dinda pun membalas pergulatan itu hingga membuat Pandu benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya saat itu.


__ADS_2