
"Lain kali hati - hati kalau jalan, Mbak Kinan?" ucap Dika denagn suara lembut. Kebetulan Dika baru saja masuk ke dalam kantor dan ingin mengantri di depan lift dan langsung naik ke lantai atas. Lantai tempat ia bertugas untuk bekerja.
Kedua mata Kinan mengerjap. Tubuh mungilnya berhasil di tangkap oleh Dika dengan kedua tangan kekarnya dan Kinan terhindar dari malapetaka yang bukan saja akan membuat kakinya sakit, tapi juga akan membuat Kinan malu karena mejadi pusat perhatian.
"Eungh ... Maafkan Kinan, Dika," ucap Kinan sedikit tergagap karena gugup dan sedikit panik. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang.
Kinan berusaha menegakkan kembali tubuhnya dan berdiri sambil merapikan pakaiannya yang terlihat sedikit berantakan. Selain itu juga untuk menghilangkan rasa malunya dan lebih fokus pada dirinya sendiri.
"Ini makanan kamu? Hati - hati," ucap Dika dengan suara tegas lalu memberikan satu plastik yang berisi makanan kepaa Kinan. Wajah Dika yang tampan dan dingin membuat dirinya terlihat cuek dan seolah tidak peduli dengan orang lain.
"Makasih," jawab Kinan dengan senyum kecut.
"Kaki kamu gak apa - apa?" tanya Dika lembut. Dika pun berjongkok di depan Kinan dan memegang kaki Kinan yang pasti terpelintir akibat hak tinggi sepatunya.
"Arghh ...." teriak Kinan saat kakinya di pegang oleh Dika.
"Sakit?" tanya Dika yang terlihat cemas.
Kinan hanya bisa mengangguk pasrah. Rasanya bukan sakit lagi. Luar biasa nyeri dan linu.
"Sepatunya di buka, ya?" ucap Dika pelan sambil melepaskan sepatu hak tinggi itu dari kedua kaki Kinan.
Kinan meringis menahan nyeri di pergelangan kakinya yang mulai terlihat bengkak. Ia hanya mengangguk pasrah saat Dika melepaskan sepatu hak tinggi dari kedua kaki Kinan.
"Pegang sepatunya, ya? Maaf, aku gendong kamu," ucap Dika lembut. Tanpa mneunggu jawaban Kinan, Dika langsung menggendong tubuh mungil Kinan ala bridal style.
Dika sudah menggendong Kinan dan masuk ke dalam lift. Banyak orang menatap ke arah Dika dan Kinaan dengan sedikit aneh.
Kinan sendiri terus menatap Dika. Dika yang tampan dengan ciri khas memakai topi berwarna navy hingga kulit putihnya terlihat sangat bersih.
"Jangan melihat ku seperti itu, Mbak Kinan,' ucap Dika lirih setengah berbisik di dekat telinga Kinan.
Kinan pun langsung memejamkan kedua matanya. Di dalam lift itu mereka tidak hanya berdua aja, tapi ada karyawan lan yang sejak tadi menatap aneh kepada Dika dan Kinan.
Sampai di lantai atas, tempat di mana Kinan bekerja. Dika mendudukkan Kinan di kursi kerjanya. Di biarkan Kinan duduk bersandar dengan nyaman dan Dika berjongkok di depan Kinan untuk memijat pelan kaki Knan yang terkilir.
__ADS_1
"Argh ...." teriak Kinan tak terlalu keras. Di akhiri dengan rintihan dan bibir bawah yang di gigit karena menahan sakit.
"Tahan Mbak. Biar aku putar lalu aku tarik biar agak enakan. Nanti aku ambilkan salep di kotak P3K," ucap Dika pelan.
Kinan hanya meringis sambil mengangguk pasrah.
"Kenapa aku tidak boleh menatapmu tadi saat di lift?" tanya Kinan. Sejak tadi Kinan merasa aneh dengan ucapan Dika.
Dika mengangkat wajhnya dan tersenyum.
"Mbak Kinan itu terlalu menawan. Jika wajah ku yang buruk ini selalu di tatap dengan senyuman manis, aku bisa gila lama - lama," ucap Dika pela sambil menunduk.
Kinan pun terkekeh mendengar jawaban Dika yang begitu lebay.
"Bisa gak sih, gak usah lebay gitu?" tanya Kinan yang masih terkekeh.
"Aku gak lebay. Aku serius. Mbak Kinan itu beda dari perempuan lain pada umumnya," ucap Dika pelan lalu menarik pergelangan kaki Kinan dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang begitu kencang.
KRAK ...
"Sudah enakan?" tanya Dika pelan sambil mengusap pelan kaki Kinan.
Kinan mengangguk dan mencoba memutar mutarkan pergelangan kakinya yang sudah agak enakan walau rasa nyeri itu masih terasa.
"Iya sudah agak enakan. Rasa nyerinya juga sudah hilang," ucap Kinan tersenyum.
PLOK PLOK PLOK ...
"Bagus ya? Ini tempat kerja bukan tempat untuk pacara sambil ketawa ketiwi," ucap Bagas yang tiba - tiba saja datang ke meja Kinan untuk meminta berkas penting, tapi malah melihat hal yang membuatnya cemburu dan naik darah.
"Pak Bagas?" ucap Dika pelan sambil menundukkan kepala.
"Maaf Pak Direktur. Kaki Kinan terkilir tadi," ucap Kinan pelan.
"Alasan. Tadi kita ke loby bareng untuk beli makanan. Mana roti saya? Saya sudah lapar? Terus, Kamu tidak lupa pesanan susu kotak saya ka? Mana?" tanya Bagas dengan kedua mata yang menatap ajam ke arah Kinan.
__ADS_1
"Pe - pesanan? Kinan hanya beli untuk kInan? Bukankah tadi Pak Direktur ingin makan di tempat?" tanay Kinan dengan jujur dan polos.
Dika yang merasa bersalah pun beringsut pamit dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Kamu pintar beralasan Kinan. Cepat bereskan berkas - berkas. Rapat jam delapan di mulai tepat waktu," ucap Bagas tegas.
Bagas meliha kantung plasik yang tergeletak di meja Kinan. Lalu dibuka dan di ambil satu kotak susu cokelat dan roti sobek rasa nanas.
"Makasih sarapannya. Saya benar - benar lapar," ucap Bagas pelan yang nmapak manis.
Kinan hanya menatp aneh kepada Direkturnya itu. Sepertinya memiliki dua kepribadian ganda. Kadang baik, kadang judes, aneh sekali, batin Kinan di dalam hati.
"Mbak Kinan. Ini aku bawakan salepnya. Pak Bagas sudah masuk?" tanya Dika pelan sambil menoleh ke arah ruang kerja Bagas yang sudah tertutup.
"Sudah," jawab Kinan cepat.
"Maaf ya Mbak?" ucap Dika pelan sambil mengolesi kulit punggung kaki itu hingga ke perglangan akki dengan lembut dan merata.
"Maaf untuk apa?" tanya Kinan pelan sambil mengambil susu kotak yang ada di daam plastik.
"Gara - gara saya, Mbak Kinan dan Pak Bagas berantem tadi," ucap Dika pelan.
"Dih ... Knan gak ada hubungan apa -apa sama Pak Direktur. Jadi gak perlu ngadi - ngadi. Hubungan kita berdua hanya antara Direktur dan Sekertaris, Atasan dan Bawahan, Bos dan Karyawannya. Lagi pula aneh deh, tadi Pak Direktur itu gak pesen apa - apa, tapi malah marah sama Kinan minta sarapan. Kan aneh," ucap Kinan kesal. Ia baru saja kesakitan karena terkilir malah di marahi masalah sarapan. Kinan pun menyeruput susu kotak itu hingga habis.
"Habis Mbak?" tanya Dika yang mendengar Kinan menyedot hingga bagian akhir terdengar sudah tak ada lagi yang di sedot.
"Iya." jawab Kinan kesal.
"Saya pamit, mau kerja Mbak," ucap Dika pelan.
"Iya Dika. Oh ya, nanti pulang kerja, bantu Kinan cari kos baru dekat sini. Kinan sudah bawa kopernya?" ucap Kinan sambil menunjuk ke arahdua koper besar yang ada di belakang kursinya.
"Oh ... Iya Mbak. Dengan senang hati. Nanti malam, ijinkan saya ajak Mbak Kinan ke suatu tempat ya? Mbak Kinan mau?" tanya Dika pelan.
"Boleh. tapi setelah dapat kos ya?" jawab Kinan pelan sambil tersenyum.
__ADS_1
Dika mengnagguk pelan dan pergi dari hadapan Kinan. Hari ini adalah hari terakhir Dika bekerja. Menyamar sebagai OB adalah keinginannya. Tapi, ternyata tak semudah yang di bayangkan. Besok Dika harus kembali ke Bandung.