
"Den Arka, kita masuk dulu yuk, Aden kan belum mandi, habis mandi kita sarapan, oke?" bi Iyas mencoba membujuk Arka agar bersedia masuk bersamanya.
"Baik Bi." jawabnya dengan patuh.
Mendengarnya tentu saja membuat bi Iyas merasa sangat lega, ia dengan cepat membawa Arka masuk sementara Rehan sendiri yang menyaksikan putranya pergi hanya bisa menatap kepergian nya lalu menghilang dari hadapannya.
Rehan menatap Dinda, ia kesal karena Dinda tidak melarang kepergian Arka, padahal ia sendiri ingin sekali menegur putranya itu.
"Dinda, kenapa kamu nggak larang bi Iyas yang membawa masuk Arka, si!" protes Rehan sedikit kesal.
"Untuk apa Mas? Untuk apa aku melarang bi Iyas membawa Arka masuk?" tanya Dinda menatap Rehan dengan serius.
"Aku ayahnya Arka Dinda, dan aku sudah lama sekali tidak bertemu dengan nya, apa kamu tidak merasa ingin membiarkan Arka bermain dengan ku walau cuma sebentar saja," ucap Rehan penuh harap.
"Mas, alasan kamu ini cukup lucu sekali, selama Arka berada dekat dengan mu, kamu justru sama sekali tidak pernah mau bermain dengannya, tapi sekarang? Kamu berharap aku memberikan kamu izin untuk bermain dengannya? Maaf Mas, semua itu sudah telat, Arka bahkan tidak mengenali dirimu sebagai ayahnya," sahut Dinda dengan kecewa.
"Itu karena kamu sama sekali tidak berusaha memperkenalkan aku dengan Arka Dinda! Apa kamu tidak bisa sedikit pun menyebut namaku di hadapan Arka dan memperkenalkan aku sebagai ayahnya." jelas Rehan masih mencoba menyudutkan Dinda.
Dinda menanggapinya dengan senyuman, untuk apa dia menjelaskan panjang lebar jika mantan suaminya itu tetap menyalahkan dirinya, yang membuat Arka tidak mengenalinya sebagai seorang ayah adalah karena perbuatan dirinya sendiri.
Saat Rehan terus saja menyalahkan Dinda, Pandu tiba-tiba datang membawa sebuah bingkisan untuk Dinda, Dinda mengalihkan perhatian nya pada Pandu yang tersenyum padanya.
"Ada apa ini, kok seperti nya kalian berdua sedang tegang sekali?" tanya Pandu menatap Dinda dan Rehan secara bergantian.
"Nggak papa kok Mas. Oh ya, perkenalkan, ini adalah Mas Rehan, mantan suami ku dulu," dengan penuh senyum Dinda memperkenalkan Rehan di hadapan Pandu.
__ADS_1
"Oh.... Halo, namaku Pandu," Pandu pun dengan sigap mengulirkan tangannya di hadapan Rehan.
"Rehan!" singkat Rehan menyebut namanya.
Pandu pun mengerti apa yang saat ini terjadi pada perasaan Rehan, namun ia sendiri lebih memilih menyikapinya dengan santai, bahkan Pandu justru mengalihkan pembicaraannya dengan cara mencari Arka, karena ia ingin sekali bertemu dan bermain dengan nya.
Dinda pun mempersilahkan Pandu masuk begitu saja, untuk menemui Arka yang sudah sangat dekat dengan dirinya. Sementara Rehan sendiri hanya bisa diam menanggapi semua itu, dengan hati kecewa ia lalu memilih pergi meninggalkan tempat itu, tanpa pamit.
Dinda sendiri tidak memusingkan hal tersebut, ia lebih memilih masuk dan bermain bersama dengan Pandu dan juga Arka, orang yang telah mengisi hari-harinya selama ini bersama dengan Arka.
"Sial! Rupanya Dinda lebih memilih mempersilahkan pria itu masuk dari pada menyambut diriku yang sudah sekian lama tidak bertemu dengan putraku, dan kenapa pria itu harus datang ke dalam kehidupan Dinda dan juga Arka, sedangkan aku harus terjebak dalam kehidupan yang tidak mengenakkan bersama dengan Intan, ini semua tidak adil!" marah Rehan menyalahkan takdirnya.
Saat itu Rehan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, saat itu ia sedang marah besar dan merasa kecewa atas sikap Dinda. Hingga tiba di rumah, Rehan bertemu dengan Intan yang sudah menunggu nya sejak tadi.
Intan melempar senyum saat melihat ekspresi wajah Rehan, ia tahu bahwa saat ini Rehan sedang marah dan kesal, dan ia pun sengaja menghalangi perjalanan Rehan yang saat itu hendak masuk ke dalam kamar.
"Ya, aku menemukan nya, dan sekarang biarkan aku masuk ke kamar, aku ingin istirahat!" celetuk Rehan berusaha menghindari Intan.
"Mas, kenapa buru-buru banget si, aku ingin tahu lo Mas, gimana tanggapan Dinda saat ketemu sama kamu," ucap Intan sengaja memancing.
"Intan, aku capek! Tolong ya, jangan lontarkan pertanyaan-pertanyaan yang justru bikin aku tambah emosi." jawab Rehan memilih untuk pergi.
Kali ini Intan tidak bisa menahan kepergian Rehan, karena melihat suasana hatinya yang sangat buruk membuat Intan harus membiarkan Rehan pergi.
***
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, Rehan pergi kembali ke salon sekaligus tempat tinggal Dinda, saat itu ia memperhatikan Dinda dan juga Arka dari kejauhan, entah mengapa hatinya saat itu merasa sangat tidak terima ketika melihat Arka justru lebih dekat dengan Pandu, dan ia tidak ingin jika posisinya sebagai ayah akan digantikan oleh Pandu.
Saat itu Dinda dan Arka keluar hendak mengantar Arka ke sekolah, hari ini adalah hari pertama Arka masuk sekolah TK, terlihat Arka saat itu sangat bahagia sekali karena ini adalah momen yang sangat indah baginya.
"Mama, papa Pandu belum datang ya?" tanya Arka mencari keberadaan Pandu.
"Belum sayang, mungkin sebentar lagi, kita mau tunggu di sini, atau tunggu di sekolah saja," tawar Dinda yang saat itu mengerti bahwa putranya itu sangat ingin memiliki seorang ayah, itulah sebabnya Dinda mengizinkan Arka memanggil Pandu dengan sebutan papa.
"Kita tunggu saja di sini ya Ma, Arka ingin berangkat ke sekolah bersama Mama dan juga papa." jawab Arka.
Permintaan Arka tidak sama sekali ditolak oleh Dinda, ia mengajak Arka duduk di ayunan yang ada di depan salon. Mereka menunggu sambil ke ngobrol ringan di sana, hingga beberapa saat kemudian Pandu pun datang memarkirkan mobilnya.
"Papa," Arka dengan semangat menyapa Pandu dengan sebutan indahnya.
"Halo sayang, kamu sudah siap mau masuk sekolah?" tanya Pandu yang langsung mendekap Arka dengan erat.
"Tentu Pa, aku sudah sangat siap sekali, ayo kita berangkat." jawab Arka yang langsung mengajak Pandu dan Dinda pergi.
Dinda dan Pandu pun masuk ke dalam mobil dengan semangat, mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang begitu bahagia ketika mengantarkan putra mereka ke sekolah kali pertama nya.
Rehan sendiri terlihat sangat kesal ketika melihat Dinda justru bahagia bersama pria lain, ia memukul-mukul bagian setir sebagai tanda protes kala melihat apa yang terjadi. Namun Rehan masih berusaha menahan diri dan memutuskan untuk mengikuti mobil Pandu.
Tibanya di salah satu sekolah Pandu memarkirkan mobilnya di sana, lalu Rehan sendiri memutuskan untuk berhenti sedikit jauh dari tempat mereka berada.
Rehan turun menggunkan kacamata hitam, agar kberadaannya tidak diketahui oleh Pandu maupun Dinda. Mereka terlihat sangat kompak menggandeng tangan Arka masuk, lalu duduk sejajar dengan Arka yang terlihat begitu tegang.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dinda menyentuh pundak Arka.
"Ya sayang, kamu kenapa? Apa kamu merasa tegang? Atau ada hal lain yang mengganggu pikiran kamu?" Pandu tak kalah melemparkan tanya pada Arka.